Logo KTF KupasTuntasFilm

Babak Baru Karier Gandhi Fernando sebagai Sutradara di Thailand

PRESS RELEASE Thailand Liputan Berita Series

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

BANGKOK — Aktor, penulis, sutradara, sekaligus produser asal Indonesia, Gandhi Fernando, memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya. Setelah bertahun-tahun berkarya di industri film Indonesia, Gandhi kini memperluas langkahnya ke Thailand dan mulai membangun karier sebagai sutradara di industri hiburan Negeri Gajah Putih.

Keputusan tersebut bukan sesuatu yang terjadi secara instan. Gandhi telah mempelajari bahasa Thai selama lebih dari tiga tahun sebagai bagian dari ketertarikannya terhadap industri hiburan Thailand yang terus berkembang dan semakin dikenal secara internasional.

Kini, setelah memutuskan untuk menetap di Thailand, proses panjang tersebut mulai membuahkan hasil.

Buat aku, pindah ke Thailand bukan sekadar pindah tempat tinggal. Aku memang ingin keluar dari zona nyaman dan mencoba membangun karir dari awal lagi di industri yang berbeda,” ujar Gandhi.

Menjalani produksi di Thailand juga memberikan tantangan baru baginya. Gandhi harus beradaptasi dengan sistem kerja, budaya produksi, hingga berkomunikasi dan mengarahkan aktor serta kru menggunakan bahasa Thai.

Yang paling challenging tentu bahasa. Meskipun sudah 4 tahun terakhir aku belajar bahasanya, tapi Bahasa Thai bukan bahasa pertama aku, jadi awalnya ada kekhawatiran apakah aku bisa menyampaikan arahan dengan tepat kepada aktor dan kru. Tapi justru pengalaman itu yang membuat aku merasa berkembang lagi sebagai sutradara,” lanjutnya.

Menulis dan Menyutradarai Series Thailand

Langkah baru Gandhi di Thailand kini diwujudkan melalui proyek series berbahasa Thai yang ia tulis dan sutradarai.

Salah satu proyek pertamanya adalah “Badminton Boys: กัปตันครับ ผมจะจีบพี่”, yang mengambil latar dunia badminton dan mengikuti hubungan rival dua mahasiswa yang dipertemukan melalui olahraga tersebut.

Series ini dibintangi oleh aktor Thailand dan diproduksi bersama tim lokal Thailand. Selain duduk di kursi sutradara, Gandhi juga terlibat sebagai penulis.

Bagi Gandhi, proyek tersebut menjadi pengalaman penting karena untuk pertama kalinya ia menangani produksi berbahasa Thai secara langsung.

Walaupun aku sudah cukup lama bekerja di industri film Indonesia, ketika masuk ke industri Thailand rasanya aku kembali menjadi seorang pemula. Banyak hal yang harus aku pelajari dan adaptasikan lagi. Tapi justru itu yang aku cari ketika memutuskan datang ke sini,” ungkap Gandhi.

Bukan Meninggalkan Indonesia

Meski kini menetap dan mulai berkarya di Thailand, Gandhi menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti dirinya meninggalkan industri perfilman Indonesia.

Sebaliknya, ia melihat Thailand sebagai perluasan dari perjalanan kariernya sebagai filmmaker.

Aku tetap orang Indonesia dan tetap akan berkarya di Indonesia. Tapi sekarang aku juga ingin membuka kemungkinan baru. Aku ingin bisa membuat karya di Indonesia, Thailand, dan kalau ada kesempatan, negara-negara lain juga,” jelasnya.

Menurut Gandhi, bekerja di luar Indonesia juga memberinya perspektif baru mengenai bagaimana sebuah cerita dapat dibuat untuk penonton yang semakin global.

Ia berharap pengalaman tersebut nantinya dapat membuka lebih banyak kesempatan kolaborasi antara talenta dan industri kreatif Indonesia dengan negara-negara lain di Asia.

Memulai Babak Baru

Perjalanan Gandhi di Thailand sekaligus menjadi momentum baru setelah bertahun-tahun menjalani berbagai peran di industri hiburan—mulai dari aktor, penulis, produser, pelaku pageant hingga content creator reviewer film.

Kini ia ingin memberikan porsi yang lebih besar terhadap kariernya sebagai sutradara dan kreator.

Aku sudah cukup lama berada di industri ini. Sekarang aku ingin menantang diri sendiri lagi. Rasanya menyenangkan ketika berada di sebuah tempat baru dan masih banyak hal yang harus aku pelajari,” tutup Gandhi.

Proyek Thailand terbaru Gandhi Fernando, “Badminton Boys”, dijadwalkan mulai tayang di iQIYI pada 10 Oktober 2026 dan tersedia di 190 negara.

Kehadiran proyek tersebut menjadi langkah awal dari babak baru perjalanan Gandhi Fernando sebagai filmmaker Indonesia yang mulai memperluas kiprahnya ke industri hiburan Thailand.

More Recommendations

VIDEO
Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal
MOVIE
4.5

Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal

Selama lebih dari empat dekade, waralaba Evil Dead selalu identik dengan Necronomicon, Deadites yang sadis, darah berlimpah, serta perpaduan horor dan gore yang tak kenal ampun. Namun melalui Evil Dead Burn (2026), sutradara Sébastien Vanicek bersama penulis Florent Bernard menghadirkan sesuatu yang terasa berbeda tanpa menghilangkan identitas utama franchise ini.Alih-alih sekadar menghadirkan pertarungan manusia melawan iblis, film ini justru menjadikan hubungan keluarga yang retak sebagai sumber teror utama. Hasilnya adalah sebuah film Evil Dead yang jauh lebih emosional, psikologis, sekaligus tetap mempertahankan kebrutalan yang menjadi ciri khas waralaba.Cerita yang Lebih Personal dan Penuh Luka LamaHal paling menonjol dari Evil Dead Burn adalah pendekatan ceritanya yang lebih intim. Film ini tidak hanya mengisahkan tentang teror iblis yang memburu korbannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana luka masa lalu, rasa bersalah, dendam, dan kebencian antar anggota keluarga menjadi “bahan bakar” bagi kekuatan jahat.Saat satu per satu karakter mulai dirasuki Deadites, ancaman yang muncul bukan hanya berupa kekerasan fisik. Iblis memanfaatkan rahasia tergelap setiap anggota keluarga sebagai senjata psikologis. Trauma masa kecil, konflik keluarga yang belum selesai, hingga isu sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga diungkap secara kejam untuk menghancurkan mental para korban sebelum menghancurkan tubuh mereka.Pendekatan ini membuat horor dalam film terasa jauh lebih mengganggu dibanding sekadar jumpscare atau adegan gore. Penonton dibuat ikut merasakan tekanan emosional yang dialami setiap karakter, sehingga setiap pertikaian memiliki bobot dramatis yang kuat.Senjata Kuno Melawan Ilmu HitamPerubahan menarik lainnya adalah bagaimana film ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada mitologi Necronomicon sebagai pusat konflik.Kali ini cerita berfokus pada penelitian sang kakek mengenai keberadaan Kandarian Dagger, sebuah belati kuno yang dipercaya mampu memusnahkan iblis untuk selamanya. Premis ini memberikan nuansa petualangan sekaligus misteri yang menyegarkan bagi franchise.Konsep pertarungan antara senjata kuno melawan ilmu hitam membuat konflik terasa lebih luas dan menghadirkan lapisan mitologi baru dalam semesta Evil Dead. Penonton tidak hanya disuguhi upaya bertahan hidup, tetapi juga pencarian artefak yang menjadi harapan terakhir untuk menghentikan teror Deadites.Perubahan arah cerita ini berhasil memperluas dunia Evil Dead tanpa menghilangkan akar horornya.Akting Totalitas dan Sangat Meyakinkan Dari Para PemainDeretan pemain tampil luar biasa dalam membangun intensitas cerita. Souheila Yacoub sebagai Alice menjadi pusat emosional film. Ia mampu menampilkan karakter yang rapuh namun perlahan berubah menjadi sosok yang berani menghadapi mimpi buruk keluarganya. Perjalanan emosinya terasa alami dan berhasil mengikat perhatian penonton sejak awal.Hunter Doohan sebagai Joseph, Luciane Buchanan sebagai Thya, Tandi Wright sebagai Susan, Erroll Shand sebagai Edgar, Maude Davey sebagai Polly, hingga George Pullar sebagai Will sama-sama memberikan penampilan yang sangat total. Ketika karakter mereka mulai dirasuki iblis, perubahan ekspresi, bahasa tubuh, hingga cara berbicara benar-benar terasa mengerikan tanpa kehilangan sisi manusia yang membuat konflik semakin menyakitkan.Interaksi antar pemain menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Karena fondasi hubungan keluarga dibangun dengan baik, setiap pengkhianatan, pertengkaran, hingga kematian memiliki dampak emosional yang jauh lebih besar dibanding film-film Evil Dead sebelumnya.Horor Psikologis Berpadu Gore Khas Evil DeadMeski membawa pendekatan yang lebih dramatis, Evil Dead Burn sama sekali tidak melupakan identitas franchiseAdegan gore tetap brutal, penuh darah, dan sangat kreatif. Namun kali ini kekerasan fisik dipadukan dengan penyiksaan psikologis yang membuat setiap adegan terasa lebih menyiksa untuk ditonton.Ketegangan dibangun perlahan melalui percakapan yang dipenuhi kecurigaan sebelum akhirnya meledak menjadi kekacauan berdarah yang sangat intens. Perpaduan horor psikologis dan gore ekstrem inilah yang membuat film terasa segar sekaligus tetap memuaskan bagi penggemar lama.Visual Kelam yang Sangat AtmosferikSébastien Vanicek menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun atmosfer lewat pendekatan visual yang suram.Dominasi warna abu-abu, hitam, dan rona kekuningan menciptakan kesan dunia yang perlahan membusuk. Hampir setiap lokasi terasa lembap, dingin, dan tidak memberikan rasa aman bagi para karakternya.Sinematografi dipenuhi framing sempit yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama para korban, sementara penggunaan bayangan dan pencahayaan redup membuat ancaman terasa selalu mengintai dari setiap sudut.Editing dengan teknik smash cut digunakan secara agresif namun efektif untuk mempertahankan ritme ketegangan. Transisi yang mendadak membuat penonton sulit merasa nyaman, sehingga rasa cemas terus terjaga bahkan sebelum adegan horor benar-benar dimulai.Seluruh elemen visual tersebut berpadu dengan desain suara yang menghantui, menghasilkan pengalaman menonton yang intens sejak menit pertama hingga penutup.Dua After-Credit yang Wajib DitungguSOBAT KTF jangan terburu-buru meninggalkan kursi setelah kredit utama mulai bergulir yaa, Evil Dead Burn menghadirkan dua adegan after-credit yang sama-sama layak ditunggu.Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead.KesimpulanEvil Dead Burn (2026) berhasil membuktikan bahwa sebuah waralaba Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead. legendaris masih bisa berevolusi tanpa kehilangan identitasnya.Dengan menjadikan trauma keluarga sebagai inti cerita, memperkenalkan mitologi baru melalui Kandarian Dagger, serta menghadirkan konflik yang lebih emosional dan psikologis, film ini terasa berbeda dari pendahulunya namun tetap mempertahankan ciri khas Evil Dead berupa gore brutal, Deadites yang mengerikan, dan teror tanpa ampun!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026
Sentilan Budi Doremi Lewat “Cinta Diri Sendiri”
NEWS

Sentilan Budi Doremi Lewat “Cinta Diri Sendiri”

Ini Statement, Aku Yang Paling SelfLove.Jakarta, Agustus 2026 – Budi Doremi kembali. Masih ngomongin cinta, tapi plot twist: kali ini bukan tentang dia. Kali ini tentang lo, tentang kapan lo harus berhenti mengejar dan mulai memilih diri sendiri.Lewat single terbarunya, “Cinta Diri Sendiri”, Budi kayak lagi menyentil pelan tapi nusuk: mungkin selama ini lo terlalu sibuk jadi “orang baik”, sibuk ngerti orang lain, sibuk memperjuangkan sesuatu yang nggak pernah benar-benar memilih lo atau menjadikan lo prioritas, sampai lupa satu hal kecil yang ternyata penting juga: lo juga harus baik ke diri sendiri.Kalau biasanya Budi identik sama lagu yang bikin dada sesek, kali ini auranya beda. Lebih ringan, lebih hangat, lebih “hidup”. Ada ukulele, ada biola, ada vibe santai yang bikin lo tanpa sadar ikut ngangguk, lalu beberapa detik kemudian mikir, “Iya juga ya… gue ngapain segininya banget sih?!”.Karena kadang hidup bukan soal seberapa lama lo bisa bertahan atau seberapa keras lo berusaha sampai sesuatu akhirnya berpihak sama lo. Ada hal-hal yang cukup lo sayangin, lo perjuangin semampunya, lalu memang harus lo lepas. Tahu kapan harus terus jalan dan kapan harus berhenti mungkin justru salah satu bentuk cinta ke diri sendiri yang paling sederhana.Di video musiknya, Budi ngajak Ardit Erwandha, Zoul Pandjoul, dan Shanika Ancita—tiga energi beda yang kalau digabung malah jadi chaos yang seru. Shooting-nya hidup, hasilnya juga dapet: visual yang ringan, fresh, tapi diam-diam nyentil.Lagu ini juga bukan berdiri sendiri. “Cinta Diri Sendiri” adalah lanjutan dari “Ada Untukmu”, dan jadi bagian dari mini album/ EP yang akan datang. Di sini, lagu ini terasa seperti tombol reset. Momen ketika lo berhenti ngejar validasi, terus mulai mikir, “Eh, gue bukan figuran, ya!” Dari situ semuanya mulai geser—cara lo ngelihat cinta, cara lo ngelihat diri sendiri, sampai akhirnya lo ngerti bahwa diri lo sendiri itu penting.“Cinta Diri Sendiri” sudah tersedia di seluruh platform musik digital. Video musiknya juga bisa disaksikan di YouTube: Budi Doremi. Siapa tahu, abis dengerin dan nonton, lo nggak cuma merasa relate, tapi juga akhirnya sadar satu hal: nggak semua hal perlu dikejar.Official Music Video :https://openyoutu.be/M-Kap_WNKbM?si=8YJG7HInunxFuj5RStreaming On All Platforms :Spotify :https://open.spotify.com/track/69G3PsqyDpxfs0RwCRPu1JYoutube Music :https://music.youtube.com/watch?v=3XYbSjirko4&si=5LjU2d6f2N3TUMJRiTunes :https://music.apple.com/id/song/cinta-diri-sendiri/6795851580Meta :https://www.instagram.com/reels/audio/4722470927986672TikTok :https://www.tiktok.com/music/Cinta-Diri-Sendiri-7663100250153338896

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini
NEWS

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic readingJakarta, 26 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. “Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru,” katanya.Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi “Perempuan dalam Karya Asrul Sani” membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, “Asrul Sani di Mata Generasi Muda” mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui “Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario”, yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi “Asrul Sani dan Inovasi Arsip” yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. “Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbuh Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonar (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.Seluruh rangkaian “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacounci

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
AGASKAR Siap Diadaptasi ke Layar, Jeremie Moeremans dan Vonzy Jadi Pemeran  Utama!
NEWS

AGASKAR Siap Diadaptasi ke Layar, Jeremie Moeremans dan Vonzy Jadi Pemeran Utama!

Jakarta, 02 September 2026 - Unlimited Production resmi mengumumkan jajaran pemeran utama dari series "AGASKAR". Jeremie Moeremans, Vonzy, dan Fahad Haydra dipastikan bergabung dalam proyek ini untuk membawa kisah Agaskar, Arazey, dan Wave ke layar.Jeremie Moeremans akan memerankan Agaskar, sosok ketua geng motor Wolviper yang dikenal keras, emosional, dan memiliki jiwa kepemimpinan kuat. Di balik sikapnya yang penuh ego dan sulit dikendalikan, Agaskar menyimpan rasa keadilan yang membuatnya harus menghadapi pilihan besar dalam perjalanan hidupnya. Vonzy hadir sebagai Arazey, karakter perempuan cerdas, berani, dan memiliki pendirian kuat. Terjebak dalam perjodohan yang tidak ia inginkan, Arazey berusaha memperjuangkan keyakinannya sekaligus mencari kebenaran di balik kasus yang menyeret orang yang ia cintai.Sementara Fahad Haydra dipercaya memerankan Wave, pemimpin geng motor Walerus yang menjadi rival utama Agaskar. Meski dikenal sebagai sosok yang berseberangan dengan Agaskar, Wave memiliki sisi lain yang penuh kesetiaan dan pengorbanan."AGASKAR" menghadirkan kisah tentang perseteruan dua geng motor yang berubah menjadi perjalanan mengungkap kebenaran, menghadapi masa lalu, serta menemukan arti cinta dan pengorbanan. Pertemuan Agaskar, Arazey, dan Wave menjadi pusat konflik yang membawa cerita penuh emosi, rahasia, dan kejutan.Cerita "AGASKAR" sebelumnya telah mencuri perhatian pembaca melalui platform digital dengan jutaan pembaca dan menjadi salah satu kisah yang ramai diperbincangkan di media sosial. Kini, perjalanan Agaskar dan para karakter lainnya siap memasuki babak baru melalui adaptasi layar.Dengan Dinna Jasanti sebagai sutradara, "AGASKAR" dipersiapkan untuk menghadirkan pengalaman visual yang membawa atmosfer rivalitas, romansa, dan drama emosional yang menjadi kekuatan utama cerita. Series ini diadaptasi oleh MAXSTREAM TV dan diproduksi oleh Unlimited Production dengan Oswin Bonifanz sebagai produser, disutradarai Dinna Jasanti, serta ditulis oleh Cassandra Massardi. Deretan pemain yang membintangi Agaskar antara lain Jeremie Moeremans, Vonzy, Fahad Haydra, Shania Gracia, Marsha, Ratu Aulia, Adel Reva, Ryan Winter, dan beberapa pemain lainnya.Jangan lewatkan Series Agaskar, tonton hanya di MAXSTREAM TV.

Admin Kupas Tuntas Film 02 Sep 2026
Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius  Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!
NEWS

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!

iQIYI merilis trailer perdana series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, yang mengangkat realitas di balik manisnya hubungan couple goals.Jakarta, 10 September 2026 — iQIYI resmi merilis trailer perdana iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, original series Indonesia terbaru yang memadukan drama percintaan, perselingkuhan dan kompleksnya hubungan keluarga. Bekerjasama dengan rumah produksi RRK Pictures & Unlimited Production, series ini mengangkat kisah pasangan selebritis yang selama ini dipandang sebagai couple goals dengan kehidupan rumah tangga yang tampak ideal. Namun, di balik sorotan dan citra sempurna yang mereka tampilkan, tersimpan rahasia, kebohongan, serta persoalan lain yang perlahan menguji hubungan dan keluarga mereka.Melalui trailer iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, penonton diajak menyingkap kilasan keretakan kehidupan rumah tangga Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa). Demi mempertahankan keutuhan keluarga sekaligus reputasi mereka di mata publik, keduanya mempertimbangkan sebuah jalan pintas yang tak biasa: open marriage. Keputusan tersebut pun menyisakan tanda tanya bagi penonton: mampukah open marriage menyelamatkan rumah tangga Duta dan Citra atau justru memicu konflik yang jauh lebih besar?“Dibandingkan kisah perselingkuhan pada umumnya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta terasa berbeda karena hadir dengan cerita yang lebih kompleks, menggabungkan sorotan dunia selebriti, drama rumah tangga, hingga elemen misteri yang cukup kental.” ujar Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI.Keretakan Hubungan yang Sempurna dan Unsur MisteriAda dua sisi cerita yang menjadi kekuatan utama series ini. Pertama, gambaran citra sempurna pasangan selebriti, seperti bagaimana sorotan publik, dan ekspektasi sosial memaksa Duta dan Citra terus mempertahankan topeng kebahagiaan meski hubungan mereka retak dari dalam. Kedua, sisi hubungan yang penuh skandal, kesepakatan open marriage dan perselingkuhan yang perlahan berkembang menjadi bom waktu, membawa cerita ke arah yang lebih gelap dan tak terduga.Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dapat mengubah dinamika pernikahan mereka. Duta diam-diam menjalin hubungan dengan Vania (Shania Gracia), sementara Citra perlahan mulai dekat Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dengan Denis (Ciccio Manassero), sosok pria menawan yang hadir di tengah kerumitan hidupnya. Untuk menyelamatkan masalah rumah tangganya, Citra mengajukan sebuah solusi yang mengaburkan batas kesetiaan dan kebebasan dalam pernikahan kepada Duta.Kehadiran Shania Gracia dan Ciccio Manassero turut menambah warna baru pada dinamika series ini. Chemistry keduanya dengan para pemain utama membuat hubungan semakin kompleks, sekaligus membuka berbagai kemungkinan konflik baru. Seiring konflik perselingkuhan yang memanas, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta perlahan mengungkap elemen misteri yang berpotensi semakin mengguncang keluarga serta reputasi Duta dan Citra.Nantikan 10 episode dari iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta yang akan resmi tayang mulai 25 September 2026, hanya di iQIYI. Trailer perdana dan poster series ini dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi iQIYI Indonesia.

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
VIDEO
UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast
MOVIE
3.8

UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast

Undertone (2025) menjadi salah satu film horor produksi A24 yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan horor modern pada umumnya. Disutradarai oleh Ian Tuason, film ini tidak mengejar ketakutan instan melalui rentetan jumpscare. Sebaliknya, Undertone memilih membangun rasa cemas secara perlahan melalui atmosfer yang sunyi, desain suara yang presisi, serta tekanan psikologis yang terus meningkat hingga klimaks.Premis yang diangkat terasa segar dan tidak biasa. Cerita berpusat pada sebuah lagu misterius yang diyakini menyimpan pesan tersembunyi ketika diputar secara terbalik. Penemuan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan dalam sebuah podcast, namun semakin jauh mereka menyelidikinya, semakin banyak kejadian ganjil yang sulit dijelaskan secara logis. Ide mengenai backmasking dipadukan dengan dunia podcast membuat misteri yang disajikan terasa relevan dengan era digital, sekaligus memberikan identitas tersendiri di tengah banyaknya film horor bertema supranatural.Keheningan Menjadi Kunci Dari FilmYang paling menonjol dari Undertone adalah kemampuannya menciptakan rasa tidak nyaman melalui keheningan. Ian Tuason memahami bahwa rasa takut tidak selalu harus muncul dari sosok mengerikan yang tiba-tiba muncul di layar. Sebaliknya, kamera yang diam terlalu lama, ruangan yang nyaris tanpa suara, hingga efek audio yang samar mampu membuat penonton terus berada dalam kondisi waspada. Ketegangan dibangun sedikit demi sedikit, sehingga ketika momen-momen penting akhirnya datang, dampaknya terasa jauh lebih efektif.Desain suara menjadi elemen yang sangat vital dalam film ini. Mengingat premisnya berkaitan erat dengan musik dan rekaman audio, setiap detail suara memiliki peran penting dalam membangun atmosfer. Bisikan, dengungan frekuensi rendah, hingga distorsi suara dimanfaatkan bukan sekadar sebagai efek, tetapi menjadi bagian dari narasi yang perlahan mengaburkan batas antara kenyataan dan halusinasi. Penggunaan audio yang minimalis justru memperkuat kesan mencekam dan membuat penonton ikut larut dalam paranoia yang dialami para karakter.Akting Dari Para Pemain Yang ApikDari sisi akting, Nina Kiri memberikan performa yang sangat kuat sebagai Evy. Ia berhasil menggambarkan perubahan emosi karakternya secara bertahap, mulai dari rasa penasaran, kegelisahan, hingga ketakutan yang perlahan menggerogoti kondisi mentalnya. Ekspresi yang subtil dan permainan emosinya membuat perjalanan psikologis Evy terasa autentik dan mudah diikuti.Di sisi lain, Adam DiMarco sebagai Justin tampil lebih tenang, namun tetap mampu menghadirkan emosi yang dalam. Chemistry antara keduanya terasa natural, sehingga hubungan mereka menjadi salah satu fondasi emosional yang membuat penonton semakin peduli terhadap nasib para karakter ketika misteri mulai berkembang menjadi ancaman yang nyata.Sinematografi Yang Simpel Namun Tetap TegangSecara visual, sinematografi Undertone juga patut diapresiasi. Dominasi pencahayaan redup, komposisi gambar yang rapi, serta penggunaan ruang kosong dalam banyak adegan berhasil memperkuat kesan isolasi dan kesunyian. Film ini memanfaatkan ruang negatif dengan efektif, membuat penonton terus merasa ada sesuatu yang mengintai meskipun layar tampak kosong. Pendekatan visual seperti ini selaras dengan tema psikologis yang diusung dan menjadi salah satu alasan mengapa atmosfer film terasa begitu melekat.Meski memiliki tempo yang relatif lambat, ritme tersebut justru menjadi bagian dari identitas film. Penonton yang menyukai horor penuh aksi mungkin akan merasa film ini berjalan terlalu perlahan. Namun bagi pencinta horor atmosferik dan psikologis, tempo tersebut memberikan ruang untuk menikmati setiap petunjuk, membangun teori sendiri, sekaligus merasakan tekanan yang terus meningkat hingga akhir cerita.KesimpulanPada akhirnya, Undertone bukan sekadar film tentang kutukan atau fenomena supranatural. Film ini mengeksplorasi rasa takut yang muncul dari obsesi, rasa penasaran, serta bagaimana suara—sesuatu yang biasanya dianggap biasa—dapat berubah menjadi sumber teror yang menghantui pikiran.Dengan penyutradaraan yang matang, desain suara yang luar biasa, sinematografi yang elegan, dan performa akting yang solid, Undertone berhasil menjadi horor psikologis yang meninggalkan kesan mendalam bahkan setelah kredit penutup bergulir.Film ini sukses menghadirkan pengalaman menonton yang menghantui, sekaligus menjadi salah satu horor atmosferik paling menarik di tahun 2025.

Rahmadandi Desky Prayuda 14 Jul 2026
VIDEO
Night Shift For Cuties
SERIES
4.0

Night Shift For Cuties

Ketika Kehidupan Malam Menjadi Panggung Cerita. Di tengah banyaknya serial yang berlomba menghadirkan konflik besar dan cerita penuh kejutan

Kupas Tuntas Film 05 Jul 2026