Logo KTF KupasTuntasFilm

Balas Dendam Brutal Alan Ritchson yang Bicara Lewat Aksi Di Film Motor City

MOVIE REVIEW TOP RATED
3.5
USA Aksi

By Admin Kupas Tuntas Film | | 127 views

Motor City bukan film aksi yang meminta penonton untuk duduk nyaman, mendengarkan dialog panjang, lalu menunggu karakter menjelaskan siapa dirinya dan apa yang sedang terjadi. Film garapan Potsy Ponciroli ini justru melakukan hal sebaliknya. Ia memaksa penonton membaca wajah, gerakan tubuh, suara mesin, dentuman musik, tatapan, darah, dan kekerasan sebagai bagian dari bahasa cerita.

Berlatar Detroit tahun 1977, film ini mengikuti John Miller, seorang mantan narapidana dan veteran Vietnam yang berusaha memulai kembali kehidupannya setelah keluar dari penjara. Ia ingin hidup sederhana bersama Sophia, perempuan yang dicintainya. Namun harapan tersebut runtuh ketika John kembali berhadapan dengan dunia kriminal yang pernah menjebaknya.

Dari titik itulah Motor City berubah menjadi perjalanan balas dendam yang sangat personal.

Alan Ritchson menjadi pusat dari semuanya. Setelah dikenal luas sebagai sosok aksi lewat Reacher, Ritchson kembali memanfaatkan fisiknya yang besar, tetapi kali ini dengan pendekatan yang berbeda. John bukan karakter yang banyak bicara. Bahkan, salah satu eksperimen terbesar film ini adalah hampir menghilangkan dialog dari keseluruhan narasi. Beberapa sumber menyebut film ini hanya memiliki sedikit sekali percakapan verbal.

Dan keputusan tersebut ternyata memiliki konsekuensi besar.

John Miller: Pria yang Kehilangan Kesempatan untuk Menjadi Orang Biasa

Menariknya, John sebenarnya bukan sekadar mesin pembunuh.

Pada awal cerita, ia diperlihatkan sebagai seseorang yang ingin keluar dari kehidupan lamanya.

Ia sudah menjalani hukuman. Ia mencoba kembali bekerja. Ia memiliki hubungan romantis. Bahkan ada gambaran bahwa John ingin membangun kehidupan normal bersama Sophia.

Inilah bagian yang membuat karakter John menjadi lebih menarik dibanding sekadar tokoh protagonis dalam film balas dendam.

John sebenarnya sudah memiliki kesempatan untuk menjadi orang biasa.

Tetapi masa lalu tidak membiarkannya.

Ketika kehidupan yang baru dibangun tersebut dihancurkan.

Bukan Film Tanpa Suara, Melainkan Film yang Mengganti Dialog dengan Bahasa Visual

Kesalahan terbesar jika masuk ke Motor City dengan ekspektasi sebagai film bisu adalah menganggap film ini hanya menghilangkan dialog.

Tidak.

Film ini tetap sangat “berisik”.

Suara pukulan, deru kendaraan, suara senjata, langkah kaki, napas karakter, suara kota dan terutama musik menjadi pengganti percakapan. Musik bahkan memiliki fungsi seperti narator yang tidak terlihat.

Ini membuat Motor City terasa lebih dekat dengan sebuah pertunjukan audiovisual daripada film kriminal konvensional.

Ben Foster dan Ancaman yang Tidak Selalu Membutuhkan Banyak Penjelasan

Ben Foster memainkan Reynolds, sosok kriminal yang menjadi pusat konflik John.

Foster sebenarnya memiliki kualitas akting yang sangat cocok untuk karakter seperti ini: ekspresif, tidak stabil, dan mampu membuat karakter terasa berbahaya bahkan ketika tidak melakukan apa-apa.

Namun film juga memperlihatkan salah satu masalah dari konsep minim dialog.

Karakter antagonis membutuhkan ruang untuk menjelaskan motivasi, hubungan kekuasaan, dan psikologinya.

Di Motor City, informasi tersebut sebagian besar harus disampaikan melalui tindakan.

Hasilnya memang membuat film bergerak cepat, tetapi kedalaman karakter tertentu menjadi terbatas.

Ini menjadi salah satu paradoks film: semakin sedikit karakter berbicara, semakin banyak penonton harus menafsirkan.

Shailene Woodley dan Karakter Sophia

Sophia seharusnya menjadi salah satu elemen emosional terpenting dalam perjalanan John.

Ia bukan sekadar pasangan protagonis

Ia adalah representasi dari kehidupan normal yang sebenarnya diinginkan John.

Karena itu, hubungan John dan Sophia memiliki fungsi penting dalam struktur cerita: Sophia memperlihatkan bahwa John sebenarnya masih memiliki sisi manusia yang ingin diselamatkan.

Namun karakter ini juga menjadi salah satu bagian yang terasa kurang berkembang.

Minimnya dialog membuat hubungan mereka lebih banyak dibangun melalui visual daripada percakapan.

Secara konsep memang menarik.

Tetapi secara emosional, film terkadang membuat penonton harus menerima begitu saja bahwa hubungan mereka sangat dalam tanpa memberikan cukup ruang untuk benar-benar merasakan proses kedekatan tersebut.

Detroit 1977 Bukan Sekadar Latar

Salah satu kekuatan Motor City adalah bagaimana Detroit tahun 1977 digunakan sebagai atmosfer.

Film tidak mencoba membuat Detroit hanya sebagai lokasi tempat karakter bergerak.

Kota tersebut terasa seperti bagian dari identitas film.

Lingkungan yang kasar, warna visual yang terasa kusam, kendaraan klasik, pakaian, interior, serta musik periode 1970-an menciptakan atmosfer retro yang kuat.

Penonton harus “membaca” dunia yang ditampilkan.

Detroit dalam film terasa seperti kota yang sedang mengalami luka, dan John seolah menjadi representasi dari luka tersebut.

Itulah sebabnya judul Motor City terasa lebih tepat daripada sekadar nama lokasi.

Motor, jalan raya, bengkel, mobil, dan kekerasan semuanya menjadi bagian dari identitas visual film.

Kekerasan yang Tidak Sekadar Dipakai untuk Gaya

Motor City tidak malu memperlihatkan kekerasan ,Pukulan terasa berat, Benturan terasa menyakitkan, Darah bukan sekadar aksesoris.

Beberapa adegan aksinya bahkan terasa seperti sengaja dirancang untuk membuat penonton meringis.

Namun yang menarik adalah kekerasan tersebut sering kali digunakan sebagai bentuk komunikasi.

Karena John tidak bisa mengatakan “aku marah”, film membuatnya memukul.

Karena ia tidak bisa menjelaskan bahwa dirinya telah kehilangan kendali, tubuhnya menunjukkan hal tersebut, Karena ia tidak memiliki banyak ruang untuk bernegosiasi, konflik diselesaikan melalui fisik.

Dengan demikian, aksi bukan hanya bagian hiburan. Aksi menjadi bahasa John.

Kesimpulan

Motor City (2026) menawarkan film aksi balas dendam dengan gaya yang berbeda, mengandalkan visual, musik, dan ekspresi karakter dibanding dialog. Meski ceritanya sederhana dan beberapa karakter kurang tergali, Alan Ritchson mampu membawa intensitas film dengan kuat. Bukan film yang sempurna, tetapi punya identitas dan atmosfer yang membuatnya tetap menarik untuk disaksikan.

More Recommendations

VIDEO
Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!
MOVIE
3.3

Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!

Film horor Asia kembali menghadirkan kisah pengusiran roh lewat The Tao Exorcist (2026) yang di garap oleh sutradara Hau-Jou Chiou. Dibintangi oleh Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang, film ini mencoba memadukan unsur horor supranatural, misteri keluarga, serta ritual pengusiran setan khas budaya Taoisme.Meski mengusung premis yang cukup familiar, The Tao Exorcist tetap menawarkan pengalaman menonton yang seru berkat atmosfer mencekam dan misteri yang perlahan terungkap sepanjang cerita.Cerita yang Sederhana, tetapi Tetap Menarik DiikutiDari segi cerita, The Tao Exorcist sebenarnya tidak menghadirkan alur yang terlalu rumit. Premis tentang pengusiran roh jahat dan balas dendam dari masa lalu memang sudah cukup sering digunakan dalam genre horor Asia.Namun, film ini berhasil mengemas konfliknya dengan cukup baik. Misteri demi misteri dibuka secara bertahap, sehingga penonton tetap memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan para karakternya hingga akhir film.Meskipun beberapa twist terasa mudah ditebak, penyajian ceritanya masih cukup efektif dalam menjaga rasa penasaran. Tempo yang tidak terlalu cepat juga membantu penonton memahami hubungan antara para karakter dan latar belakang konflik yang menjadi inti cerita.Akting Para Pemain Yang Cukup BagusPenampilan Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang berhasil membawa karakter masing-masing dengan cukup meyakinkan. Interaksi antar karakter terasa natural, terutama ketika mereka harus menghadapi situasi penuh teror dan ketegangan.Walaupun tidak menghadirkan penampilan yang benar-benar luar biasa, para pemain mampu menjalankan perannya dengan baik dan mendukung jalannya cerita.Jumpscare & Adegan Gore yang Cukup EfektifSebagai film horor, The Tao Exorcist cukup berhasil menghadirkan suasana mencekam. Beberapa adegan jumpscare mampu memberikan efek kejut tanpa terasa berlebihan atau dipaksakan.Selain itu, film ini juga menyisipkan sejumlah adegan gore yang meskipun tidak terlalu eksplisit, tetap mampu menghadirkan rasa tidak nyaman dan shock bagi penonton. Adegan-adegan tersebut berhasil memperkuat nuansa menyeramkan yang dibangun sepanjang film.Perpaduan antara ritual pengusiran roh, kemunculan sosok menyeramkan, serta unsur gore membuat film ini tetap terasa intens, terutama bagi penggemar horor supranatural Asia.Visual dan Sinematografi yang Cukup Menunjang AtmosferDari sisi visual, Hau-Jou Chiou menghadirkan sinematografi yang cukup baik dalam membangun atmosfer horor. Penggunaan pencahayaan gelap, komposisi gambar yang sempit, serta desain lokasi yang suram mampu menciptakan rasa tegang di beberapa adegan penting.Sayangnya, secara keseluruhan visual film ini masih terasa kurang maksimal untuk meninggalkan kesan mendalam. Ada beberapa momen yang sebenarnya memiliki potensi untuk tampil lebih ikonik, tetapi kurang dieksplorasi secara maksimal.Meski begitu, kualitas visual yang ditawarkan tetap mampu mendukung cerita dan menjaga nuansa horor sepanjang film.KesimpulanThe Tao Exorcist (2026) memang bukan film horor terbaik tahun ini, tetapi juga jauh dari kata mengecewakan. Ceritanya sederhana, namun tetap menarik untuk diikuti hingga akhir. Unsur pengusiran roh yang diangkat berhasil memberikan nuansa khas, sementara jumpscare dan adegan gore menghadirkan beberapa momen yang cukup mengejutkan.Untuk SOBAT KTF penggemar film horor Asia yang menyukai cerita tentang kutukan, ritual pengusiran roh, dan misteri masa lalu yang perlahan terungkap, The Tao Exorcist cocok banget menjadi pilihan yang menghibur bagi kalian yang sedang mencari tontonan horor ringan dengan sentuhan misteri dan supranatural.

Abdul Haris 08 Aug 2026
Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!
NEWS

Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!

Suasana megah di CGV Grand Indonesia mendadak pecah oleh isak tangis histeris pada penyelenggaraan Gala Premiere film layar lebar paling dinantikan tahun ini, dari Sumargo Film dan LYTO Pictures, Baby Udon.Ruang bioskop yang disulap berhiaskan instalasi pohon sakura mekar, sebagai tribut mengenang mendiang Hajime Kondoh, berubah menjadi lautan air mata sesaat setelah film selesai diputar.Puncaknya terjadi pada sesi press conference usai penayangan. Sambil mendekap erat sang buah hati, Kazuki atau yang akrab disapa KazKaz, content creator Fanny Kondoh melontarkan pengakuan mengharukan yang seketika membuat ratusan pasang mata yang hadir di studio meneteskan air mata."Teruntuk suami tercintaku, aku berharap kamu bisa melihat sebanyak apa orang di sini yang merayakan kisah cinta dan perjuangan kita untuk KazKaz. Film ini ada untuk mengenangmu, dan agar KazKaz bisa tahu kalau ayahnya adalah sosok yang luar biasa," ucap Fanny dengan suara bergetar dan berurai air mata, membuat seluruh awak media dan tamu undangan ikut menangis tersedu-sedu. Momen haru tersebut sekaligus menjadi saksi pertaruhan besar karier Denny Sumargo. Bersama sang istri, Olivia Sumargo, Denny resmi menandai debut perdana mereka sebagai produser di industri film Indonesia.Bukan hanya modal nama, Densu bahkan rela memangkas habis rambutnya hingga botak licin dan menonton rekaman sakratul maut asli mendiang Hajime demi menyajikan akting yang menghipnotis penonton."Sebagai produser pertama kali, saya nggak nyangka efeknya bakal sehancur ini di hati penonton. Dari tur di berbagai kota kemarin, saya lihat sendiri orang-orang keluar studio sambil nangis sesenggukan. Alasan terbesar saya bikin film ini cuma satu: nggak mau mengecewakan amanah Fanny dan Hajime. Kisah ini bukan sekadar tontonan, tapi pelukan hangat buat siapa pun yang pernah kehilangan," tegas Denny Sumargo, Produser dari Sumargo Film, di hadapan awak media."Kami amat bangga bisa membawa film Baby Udon ke penonton Indonesia. Semoga cerita yang mengharukan dan indah dari Bu Fanny Kondoh dan Almarhum Bapak Hajime Kondoh bisa memberikan kesan yang baik dan menginspirasi banyak orang," kata Andi Suryanto, selaku Produser dari LYTO Pictures.Gala Premiere spektakuler ini turut dihadiri sederet bintang ternama tanah air, mulai dari jajaran produser Denny Sumargo, Olivia Sumargo, Andi Suryanto, dan Marcella Daryanani, hingga deretan pemeran utama seperti Caitlin Halderman, Ayya Renita, Putri Ayudya, Alfie Alfandy, Miyu Okazaki, Hiroaki Kato, Royhan Hidayat, Hafni Thalib, dan Alexandra Valerie.Selain di Jakarta, film ‘Baby Udon’ telah menggelar Gala Premiere di 7 (Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Banjarmasin, Palembang, Medan) kota sampai saat ini. Tidak berhenti di sini, tur Gala Premiere dan Meet & Greet masih akan berlanjut ke Makassar (Nipah XXI) dan akan ditutup di Bali (Level 21 XXI).Film Baby Udon dipastikan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Penonton juga bisa menikmati promo terbatas Buy One Get One Free (BOGOF) khusus untuk hari pertama penayangan di aplikasi tiket MTIX.Intip cuplikan viral, trailer resmi, dan informasi tiket di akun Instagram @filmbabyudon, @sumargofilm, dan @lytopictures.

Admin Kupas Tuntas Film 30 Aug 2026
VIDEO
Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal
MOVIE
4.5

Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal

Selama lebih dari empat dekade, waralaba Evil Dead selalu identik dengan Necronomicon, Deadites yang sadis, darah berlimpah, serta perpaduan horor dan gore yang tak kenal ampun. Namun melalui Evil Dead Burn (2026), sutradara Sébastien Vanicek bersama penulis Florent Bernard menghadirkan sesuatu yang terasa berbeda tanpa menghilangkan identitas utama franchise ini.Alih-alih sekadar menghadirkan pertarungan manusia melawan iblis, film ini justru menjadikan hubungan keluarga yang retak sebagai sumber teror utama. Hasilnya adalah sebuah film Evil Dead yang jauh lebih emosional, psikologis, sekaligus tetap mempertahankan kebrutalan yang menjadi ciri khas waralaba.Cerita yang Lebih Personal dan Penuh Luka LamaHal paling menonjol dari Evil Dead Burn adalah pendekatan ceritanya yang lebih intim. Film ini tidak hanya mengisahkan tentang teror iblis yang memburu korbannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana luka masa lalu, rasa bersalah, dendam, dan kebencian antar anggota keluarga menjadi “bahan bakar” bagi kekuatan jahat.Saat satu per satu karakter mulai dirasuki Deadites, ancaman yang muncul bukan hanya berupa kekerasan fisik. Iblis memanfaatkan rahasia tergelap setiap anggota keluarga sebagai senjata psikologis. Trauma masa kecil, konflik keluarga yang belum selesai, hingga isu sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga diungkap secara kejam untuk menghancurkan mental para korban sebelum menghancurkan tubuh mereka.Pendekatan ini membuat horor dalam film terasa jauh lebih mengganggu dibanding sekadar jumpscare atau adegan gore. Penonton dibuat ikut merasakan tekanan emosional yang dialami setiap karakter, sehingga setiap pertikaian memiliki bobot dramatis yang kuat.Senjata Kuno Melawan Ilmu HitamPerubahan menarik lainnya adalah bagaimana film ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada mitologi Necronomicon sebagai pusat konflik.Kali ini cerita berfokus pada penelitian sang kakek mengenai keberadaan Kandarian Dagger, sebuah belati kuno yang dipercaya mampu memusnahkan iblis untuk selamanya. Premis ini memberikan nuansa petualangan sekaligus misteri yang menyegarkan bagi franchise.Konsep pertarungan antara senjata kuno melawan ilmu hitam membuat konflik terasa lebih luas dan menghadirkan lapisan mitologi baru dalam semesta Evil Dead. Penonton tidak hanya disuguhi upaya bertahan hidup, tetapi juga pencarian artefak yang menjadi harapan terakhir untuk menghentikan teror Deadites.Perubahan arah cerita ini berhasil memperluas dunia Evil Dead tanpa menghilangkan akar horornya.Akting Totalitas dan Sangat Meyakinkan Dari Para PemainDeretan pemain tampil luar biasa dalam membangun intensitas cerita. Souheila Yacoub sebagai Alice menjadi pusat emosional film. Ia mampu menampilkan karakter yang rapuh namun perlahan berubah menjadi sosok yang berani menghadapi mimpi buruk keluarganya. Perjalanan emosinya terasa alami dan berhasil mengikat perhatian penonton sejak awal.Hunter Doohan sebagai Joseph, Luciane Buchanan sebagai Thya, Tandi Wright sebagai Susan, Erroll Shand sebagai Edgar, Maude Davey sebagai Polly, hingga George Pullar sebagai Will sama-sama memberikan penampilan yang sangat total. Ketika karakter mereka mulai dirasuki iblis, perubahan ekspresi, bahasa tubuh, hingga cara berbicara benar-benar terasa mengerikan tanpa kehilangan sisi manusia yang membuat konflik semakin menyakitkan.Interaksi antar pemain menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Karena fondasi hubungan keluarga dibangun dengan baik, setiap pengkhianatan, pertengkaran, hingga kematian memiliki dampak emosional yang jauh lebih besar dibanding film-film Evil Dead sebelumnya.Horor Psikologis Berpadu Gore Khas Evil DeadMeski membawa pendekatan yang lebih dramatis, Evil Dead Burn sama sekali tidak melupakan identitas franchiseAdegan gore tetap brutal, penuh darah, dan sangat kreatif. Namun kali ini kekerasan fisik dipadukan dengan penyiksaan psikologis yang membuat setiap adegan terasa lebih menyiksa untuk ditonton.Ketegangan dibangun perlahan melalui percakapan yang dipenuhi kecurigaan sebelum akhirnya meledak menjadi kekacauan berdarah yang sangat intens. Perpaduan horor psikologis dan gore ekstrem inilah yang membuat film terasa segar sekaligus tetap memuaskan bagi penggemar lama.Visual Kelam yang Sangat AtmosferikSébastien Vanicek menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun atmosfer lewat pendekatan visual yang suram.Dominasi warna abu-abu, hitam, dan rona kekuningan menciptakan kesan dunia yang perlahan membusuk. Hampir setiap lokasi terasa lembap, dingin, dan tidak memberikan rasa aman bagi para karakternya.Sinematografi dipenuhi framing sempit yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama para korban, sementara penggunaan bayangan dan pencahayaan redup membuat ancaman terasa selalu mengintai dari setiap sudut.Editing dengan teknik smash cut digunakan secara agresif namun efektif untuk mempertahankan ritme ketegangan. Transisi yang mendadak membuat penonton sulit merasa nyaman, sehingga rasa cemas terus terjaga bahkan sebelum adegan horor benar-benar dimulai.Seluruh elemen visual tersebut berpadu dengan desain suara yang menghantui, menghasilkan pengalaman menonton yang intens sejak menit pertama hingga penutup.Dua After-Credit yang Wajib DitungguSOBAT KTF jangan terburu-buru meninggalkan kursi setelah kredit utama mulai bergulir yaa, Evil Dead Burn menghadirkan dua adegan after-credit yang sama-sama layak ditunggu.Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead.KesimpulanEvil Dead Burn (2026) berhasil membuktikan bahwa sebuah waralaba Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead. legendaris masih bisa berevolusi tanpa kehilangan identitasnya.Dengan menjadikan trauma keluarga sebagai inti cerita, memperkenalkan mitologi baru melalui Kandarian Dagger, serta menghadirkan konflik yang lebih emosional dan psikologis, film ini terasa berbeda dari pendahulunya namun tetap mempertahankan ciri khas Evil Dead berupa gore brutal, Deadites yang mengerikan, dan teror tanpa ampun!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026
Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal
NEWS

Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal

Film Aplikasi Iblis tayang mulai 15 Oktober 2026 di bioskopJakarta, 31 Agustus 2026 — Dimas Anggara menandai penyutradaraan debut horornya lewat film terbaru persembahan NIH Pictures berjudul Aplikasi Iblis. Film ini dibintangi oleh Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, serta penampilan spesial Della Dartyan.Film Aplikasi Iblis membawa genre urban supernatural horror yang akan mengisahkan tentang seorang pria yang mencoba kembali terhubung dengan kekasihnya yang telah meninggal melalui sebuah aplikasi misterius. Namun, justru membuka pintu bagi sesuatu yang ingin memanfaatkannya.Dalam teaser trailer yang dirilis, Arya (diperankan Junior Roberts) ingin melamar kekasihnya, Laras (Dosma Hazenbosch). Namun, keduanya justru harus terpisah dan berbeda dunia untuk selamanya. Arya masih ditemani arwah Laras, tapi, apakah itu benar-benar Laras?Sementara itu, di teaser poster yang dirilis juga secara jelas menampilkan sosok menyeramkan di layar ponsel. Menandakan sebuah teror yang akan datang, saat kita mencoba menggunakan aplikasi yang disebut bisa menghubungkan dengan arwah orang mati tersebut.“Film Aplikasi Iblis akan mengikuti kisah Arya. Dia baru saja kehilangan kekasihnya, dan masih sangat rindu dan percaya orang yang telah pergi bisa kembali. Di film ini, saya menggabungkan unsur drama romance tapi juga teror horor yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Ketika kita semua pakai sebuah aplikasi untuk bisa terkoneksi dengan orang yang kita sayangi, apapun jenis aplikasinya. Tapi bedanya, aplikasi di film ini bisa menghubungkan dengan arwah orang yang sudah meninggal,” ujar sutradara Dimas Anggara.“Buat aku cerita Arya dan Laras itu seperti sepasang kekasih yang sudah merencanakan sesuatu yang indah tapi malah berakhir menjadi tragedi,” ujar pemeran Arya, Junior Roberts. Sebelumnya, Dimas Anggara telah menyutradarai film #OOTD yang diproduksi oleh NIH Pictures. Kali ini, Dimas kembali mengeksplorasi gagasan kreatifnya sebagai sutradara horor lewat Aplikasi Iblis. Sebuah horor dengan cerita tentang teknologi, kehilangan, dan teror supernatural.Ikuti terus perkembangan film Aplikasi Iblis melalui media sosial Instagram @aplikasiiblisfilm dan @nihpictues. Film Aplikasi Iblis tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 31 Aug 2026
Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius  Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!
NEWS

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!

iQIYI merilis trailer perdana series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, yang mengangkat realitas di balik manisnya hubungan couple goals.Jakarta, 10 September 2026 — iQIYI resmi merilis trailer perdana iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, original series Indonesia terbaru yang memadukan drama percintaan, perselingkuhan dan kompleksnya hubungan keluarga. Bekerjasama dengan rumah produksi RRK Pictures & Unlimited Production, series ini mengangkat kisah pasangan selebritis yang selama ini dipandang sebagai couple goals dengan kehidupan rumah tangga yang tampak ideal. Namun, di balik sorotan dan citra sempurna yang mereka tampilkan, tersimpan rahasia, kebohongan, serta persoalan lain yang perlahan menguji hubungan dan keluarga mereka.Melalui trailer iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, penonton diajak menyingkap kilasan keretakan kehidupan rumah tangga Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa). Demi mempertahankan keutuhan keluarga sekaligus reputasi mereka di mata publik, keduanya mempertimbangkan sebuah jalan pintas yang tak biasa: open marriage. Keputusan tersebut pun menyisakan tanda tanya bagi penonton: mampukah open marriage menyelamatkan rumah tangga Duta dan Citra atau justru memicu konflik yang jauh lebih besar?“Dibandingkan kisah perselingkuhan pada umumnya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta terasa berbeda karena hadir dengan cerita yang lebih kompleks, menggabungkan sorotan dunia selebriti, drama rumah tangga, hingga elemen misteri yang cukup kental.” ujar Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI.Keretakan Hubungan yang Sempurna dan Unsur MisteriAda dua sisi cerita yang menjadi kekuatan utama series ini. Pertama, gambaran citra sempurna pasangan selebriti, seperti bagaimana sorotan publik, dan ekspektasi sosial memaksa Duta dan Citra terus mempertahankan topeng kebahagiaan meski hubungan mereka retak dari dalam. Kedua, sisi hubungan yang penuh skandal, kesepakatan open marriage dan perselingkuhan yang perlahan berkembang menjadi bom waktu, membawa cerita ke arah yang lebih gelap dan tak terduga.Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dapat mengubah dinamika pernikahan mereka. Duta diam-diam menjalin hubungan dengan Vania (Shania Gracia), sementara Citra perlahan mulai dekat Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dengan Denis (Ciccio Manassero), sosok pria menawan yang hadir di tengah kerumitan hidupnya. Untuk menyelamatkan masalah rumah tangganya, Citra mengajukan sebuah solusi yang mengaburkan batas kesetiaan dan kebebasan dalam pernikahan kepada Duta.Kehadiran Shania Gracia dan Ciccio Manassero turut menambah warna baru pada dinamika series ini. Chemistry keduanya dengan para pemain utama membuat hubungan semakin kompleks, sekaligus membuka berbagai kemungkinan konflik baru. Seiring konflik perselingkuhan yang memanas, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta perlahan mengungkap elemen misteri yang berpotensi semakin mengguncang keluarga serta reputasi Duta dan Citra.Nantikan 10 episode dari iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta yang akan resmi tayang mulai 25 September 2026, hanya di iQIYI. Trailer perdana dan poster series ini dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi iQIYI Indonesia.

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan
MOVIE
2.3

Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan

Film horor Indonesia terus berkembang dengan menghadirkan berbagai pendekatan baru dalam menyampaikan rasa takut. Tidak semuanya harus mengandalkan jumpscare atau sosok menyeramkan untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Hasut mencoba mengambil jalur tersebut dengan menghadirkan psychological horror yang lebih banyak bermain dengan pikiran, ketakutan, prasangka, serta kondisi psikologis para karakternya.Film ini digarap sekaligus ditulis oleh Ilya Sigma, dengan bantuan Priesnanda Dwisatria. Hasut mencoba membangun kengerian melalui kondisi mental karakter dan bagaimana sebuah pikiran negatif dapat berkembang menjadi sesuatu yang semakin mengganggu.Psychological Horror yang Bermain dengan PikiranSalah satu hal yang cukup menarik dari Hasut adalah keberaniannya untuk tidak hanya mengandalkan jumpscare sebagai sumber ketakutan. Film ini lebih banyak mengajak penonton masuk ke dalam kondisi psikologis karakter dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.Rasa takut dalam film ini muncul dari ketidakpastian. Penonton diajak untuk ikut merasakan kegelisahan, kecurigaan, dan tekanan yang dialami oleh karakter-karakternya. Pendekatan seperti ini membuat Hasut terasa berbeda dibandingkan film horor yang lebih konvensional.Ketika sebuah film psychological horror berhasil membuat penonton mempertanyakan apakah sesuatu yang terjadi benar-benar nyata atau justru merupakan bagian dari kondisi psikologis karakter, di situlah rasa tidak nyaman mulai terbentuk.Hasut memiliki beberapa momen yang mencoba memainkan hal tersebut. Film tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, sehingga penonton harus memperhatikan situasi dan perubahan karakter untuk memahami apa yang sedang terjadi.Musuh Terbesar Bisa Datang dari Pikiran SendiriPesan yang paling terasa dari Hasut adalah bagaimana terkadang musuh terbesar kita justru adalah pikiran kita sendiri.Ketakutan, prasangka, kecemasan, dan pikiran negatif yang terus berkembang dapat memengaruhi cara seseorang melihat keadaan di sekitarnya. Sesuatu yang awalnya mungkin terlihat sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan ketika terus dipenuhi oleh rasa takut dan kecurigaan.Inilah salah satu aspek yang membuat Hasut cukup menarik untuk dibahas. Film ini tidak hanya berusaha membuat penonton takut terhadap sesuatu yang berada di luar diri mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pikiran manusia sendiri dapat menjadi sumber teror.Konsep tersebut sebenarnya memiliki ruang yang cukup luas untuk dikembangkan. Ketika ketakutan dan pikiran negatif mulai mengambil alih, batas antara realitas dan persepsi menjadi semakin sulit dibedakan. Akting Dari Para PemainDari sisi pemain, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova mampu memberikan penampilan yang cukup bagus.Keempat pemain berhasil membawa karakter mereka dengan cukup meyakinkan, terutama ketika harus menunjukkan sisi emosional dan tekanan psikologis yang menjadi bagian penting dari film.Karena Hasut lebih banyak bermain pada kondisi mental karakter, ekspresi, gestur, serta perubahan emosi menjadi bagian yang cukup penting. Para pemain mampu memberikan energi yang sesuai dengan atmosfer film sehingga ketegangan yang dibangun tetap terasa.Chemistry antarpemain juga cukup membantu dalam membuat hubungan antarkarakter terasa lebih hidup dan tidak sekadar menjadi bagian dari cerita horor.Sayangnya, Tidak Semua Misteri Terjawab dengan Memuaskan. Meskipun memiliki konsep yang menarik, Hasut masih memiliki beberapa kekurangan dalam eksekusinya.Ada beberapa elemen cerita yang terasa belum dijelaskan dengan cukup jelas. Latar belakang beberapa karakter juga terasa terlalu singkat sehingga perkembangan dan motivasi mereka tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup. Hal tersebut kemudian membuat beberapa bagian film terasa menyisakan pertanyaan. Setelah film selesai, masih ada beberapa hal yang membuat bertanya-tanya mengenai maksud maupun alasan di balik kejadian tertentu.Sebenarnya, meninggalkan pertanyaan kepada penonton bukan sesuatu yang selalu menjadi masalah dalam film psychological horror. Justru, film dengan genre seperti ini memang sering memberikan ruang untuk interpretasi.Namun, perbedaannya adalah antara misteri yang sengaja dibiarkan terbuka dengan informasi yang terasa seperti belum mendapatkan penjelasan yang cukup. Hasut terkadang berada di antara keduanya, sehingga beberapa bagian terasa kurang maksimal dalam menyampaikan keseluruhan ceritanya.KesimpulanDengan konsep psychological horror yang menarik, pesan yang cukup kuat, serta penampilan para pemain yang solid, Hasut berhasil memberikan pendekatan horor yang berbeda. Namun, eksekusinya masih memiliki beberapa kekurangan, terutama dalam memberikan penjelasan terhadap sejumlah elemen cerita dan latar belakang karakter.Film ini cocok untuk SOBAT KTF yang menyukai film horor psychological, cerita yang bermain dengan kondisi mental karakter, serta horor yang membuat penonton ikut berpikir dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pieter Siaahan 02 Oct 2026
VIDEO
Spider-Man: Brand New Day  Kembalinya Peter Parker yang Lebih Dewasa, Emosional, dan Penuh Misteri
MOVIE
4.5

Spider-Man: Brand New Day Kembalinya Peter Parker yang Lebih Dewasa, Emosional, dan Penuh Misteri

Setelah sukses besar trilogi Spider-Man sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, kini tongkat estafet diberikan kepada sutradara baru, Destin Daniel Cretton, yang sebelumnya dikenal lewat film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021). Bersama naskah yang ditulis oleh Chris McKenna, Erik Sommers, dan Stan Lee, Spider-Man: Brand New Day (2026) hadir sebagai babak baru dalam perjalanan Peter Parker versi Tom Holland.Setelah penantian selama lima tahun sejak Spider-Man: No Way Home (2021), film keempat ini berhasil menjawab rasa rindu para penggemar dengan menghadirkan kisah yang lebih dewasa, emosional, sekaligus penuh kejutan. Film ini masih dibintangi oleh Tom Holland sebagai Peter Parker/Spider-Man, Zendaya sebagai MJ, dan Jacob Batalon sebagai Ned Leeds.Konflik Peter Parker yang Sangat Relate dengan PenontonSalah satu kekuatan terbesar Spider-Man: Brand New Day terletak pada bagaimana Destin Daniel Cretton dan para penulis mampu membangun cerita yang terasa sangat dekat dengan kehidupan penonton. Film ini tidak hanya berbicara tentang seorang pahlawan super yang menyelamatkan kota, tetapi juga tentang pergulatan batin seorang pemuda yang berusaha menemukan jati dirinya.Konflik internal Peter Parker menjadi inti utama cerita. Beban sebagai Spider-Man, rasa kehilangan, serta perjuangannya untuk menjalani kehidupan normal membuat karakter Peter terasa semakin manusiawi. Hubungannya dengan MJ juga digambarkan dengan sangat emosional, memperlihatkan bagaimana cinta bisa menjadi sumber kekuatan sekaligus luka yang mendalam.Di sisi lain, persahabatan Peter dengan Ned kembali menjadi elemen penting yang memberikan sentuhan hangat di tengah berbagai konflik besar yang terjadi. Dinamika ketiganya terasa begitu natural hingga penonton benar-benar dapat merasakan apa yang sedang dirasakan Peter Parker sepanjang film.Penampilan Para Pemain yang Semakin MatangTom Holland kembali membuktikan bahwa dirinya adalah sosok yang tepat untuk memerankan Peter Parker. Penampilannya dalam film ini terasa jauh lebih dewasa dibandingkan trilogi sebelumnya. Ia mampu menampilkan sisi rapuh, kebingungan, hingga keberanian Peter dengan sangat meyakinkan.Zendaya juga tampil luar biasa sebagai MJ. Karakternya kini memiliki kedalaman emosi yang lebih kuat, sementara chemistry antara dirinya dan Tom Holland kembali menjadi salah satu aspek terbaik dalam film ini.Tak kalah menarik, Jacob Batalon sebagai Ned Leeds berhasil memberikan keseimbangan antara humor dan drama. Interaksi antara Tom Holland, Zendaya, dan Jacob Batalon menjadi salah satu alasan mengapa film ini terasa begitu hidup. Chemistry mereka benar-benar membuat penonton seolah ikut terlibat dalam perjalanan emosional Peter Parker.Sementara itu, kehadiran Jon Bernthal sebagai Frank Castle/Punisher dan Florence Pugh sebagai Yelena Belova memberikan warna baru yang menarik. Kedua karakter tersebut membawa nuansa yang lebih gelap sekaligus memperluas dunia Spider-Man ke arah yang lebih besar.Visual Spektakuler & Nuansa Komik yang KentalDari segi sinematografi dan efek visual, Spider-Man: Brand New Day berhasil menghadirkan pengalaman yang memanjakan mata. Adegan-adegan swing melintasi gedung-gedung New York dibuat dengan sangat dinamis dan imersif, membuat penonton seolah ikut terbang bersama Spider-Man.Destin Daniel Cretton juga berhasil memasukkan banyak elemen yang terinspirasi dari komik klasik Spider-Man, baik dari segi visual, desain adegan, maupun detail-detail kecil yang akan disukai oleh para penggemar lama.Penggunaan warna, pencahayaan, serta pengambilan gambar dalam berbagai adegan aksi membuat film ini memiliki identitas visual yang kuat dan berbeda dari film-film Spider-Man sebelumnya.Pertarungan Akhir yang Sangat EpikSeperti film MCU pada umumnya, Spider-Man: Brand New Day menghadirkan banyak adegan aksi spektakuler sepanjang durasinya. Memang, beberapa adegan pertarungan terasa familiar dengan formula khas Marvel Studios.Namun, Destin Daniel Cretton berhasil membayar semuanya melalui pertarungan terakhir yang benar-benar epik dan berkesan. Koreografi pertarungan, tensi emosional, serta taruhan besar yang dipertaruhkan dalam adegan tersebut menjadikannya sebagai salah satu klimaks terbaik dalam sejarah film Spider-Man versi Tom Holland.Adegan final ini bukan hanya sekadar pertarungan fisik, tetapi juga menjadi puncak dari perjalanan emosional Peter Parker yang telah dibangun sejak awal film.Debut Sadie Sink sebagai Jean Grey yang MenjanjikanSalah satu kejutan terbesar dalam film ini adalah kemunculan Sadie Sink sebagai Jean Grey. Karakter tersebut diperkenalkan dengan sangat baik dan tidak terasa dipaksakan masuk ke dalam cerita.Meski porsinya belum terlalu besar, kehadiran Jean Grey membuka banyak kemungkinan baru bagi masa depan Marvel Cinematic Universe. Penyebutan nama Jean Grey dalam film ini seolah menjadi sinyal bahwa semesta Spider-Man perlahan mulai terhubung dengan dunia X-Men.Jika benar arah tersebut yang ingin diambil Marvel Studios, maka Spider-Man: Brand New Day bisa menjadi titik awal dari pertemuan besar antara Spider-Man dan para mutan di masa depan.Adegan Post-Credits yang Wajib DitungguUntuk para penggemar Marvel, bertahan hingga lampu bioskop menyala adalah sebuah kewajiban, dan Spider-Man: Brand New Day membuktikan hal tersebut.Film ini menghadirkan adegan post-credits yang memang singkat, tetapi dipenuhi teka-teki yang memancing banyak teori. Tanpa memberikan terlalu banyak jawaban, adegan tersebut justru meninggalkan rasa penasaran yang besar mengenai masa depan Marvel Cinematic Universe.Banyak petunjuk yang mengarah pada kemungkinan keterkaitan film ini dengan Avengers: Doomsday (2026), membuat para penggemar semakin tidak sabar menantikan kelanjutan kisahnya.KesimpulanSpider-Man: Brand New Day bukan hanya menjadi film superhero biasa, tetapi juga sebuah kisah tentang kehilangan, persahabatan, cinta, dan pencarian jati diri. Setelah menunggu selama lima tahun, film ini berhasil menghadirkan cerita yang relatable, penampilan para pemain yang semakin matang, visual yang memukau, pertarungan klimaks yang spektakuler, serta pengalaman yang emosional sekaligus menghibur.Spider-Man: Brand New Day berhasil membuktikan bahwa perjalanan Peter Parker masih jauh dari kata selesai, dan masa depan Spider-Man di Marvel Cinematic Universe tampak semakin menarik untuk diikuti.Untuk SOBAT KTF penggemar MCU, film ini layak menjadi salah satu film superhero terbaik tahun 2026.

Rahmadandi Desky Prayuda 06 Aug 2026