Logo KTF KupasTuntasFilm

Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal

MOVIE REVIEW TOP RATED
4.5
USA Horor Supranatural

By Rahmadandi Desky Prayuda | | 82 views

Selama lebih dari empat dekade, waralaba Evil Dead selalu identik dengan Necronomicon, Deadites yang sadis, darah berlimpah, serta perpaduan horor dan gore yang tak kenal ampun. Namun melalui Evil Dead Burn (2026), sutradara Sébastien Vanicek bersama penulis Florent Bernard menghadirkan sesuatu yang terasa berbeda tanpa menghilangkan identitas utama franchise ini.

Alih-alih sekadar menghadirkan pertarungan manusia melawan iblis, film ini justru menjadikan hubungan keluarga yang retak sebagai sumber teror utama. Hasilnya adalah sebuah film Evil Dead yang jauh lebih emosional, psikologis, sekaligus tetap mempertahankan kebrutalan yang menjadi ciri khas waralaba.

Cerita yang Lebih Personal dan Penuh Luka Lama

Hal paling menonjol dari Evil Dead Burn adalah pendekatan ceritanya yang lebih intim. Film ini tidak hanya mengisahkan tentang teror iblis yang memburu korbannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana luka masa lalu, rasa bersalah, dendam, dan kebencian antar anggota keluarga menjadi “bahan bakar” bagi kekuatan jahat.

Saat satu per satu karakter mulai dirasuki Deadites, ancaman yang muncul bukan hanya berupa kekerasan fisik. Iblis memanfaatkan rahasia tergelap setiap anggota keluarga sebagai senjata psikologis. Trauma masa kecil, konflik keluarga yang belum selesai, hingga isu sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga diungkap secara kejam untuk menghancurkan mental para korban sebelum menghancurkan tubuh mereka.

Pendekatan ini membuat horor dalam film terasa jauh lebih mengganggu dibanding sekadar jumpscare atau adegan gore. Penonton dibuat ikut merasakan tekanan emosional yang dialami setiap karakter, sehingga setiap pertikaian memiliki bobot dramatis yang kuat.

Senjata Kuno Melawan Ilmu Hitam

Perubahan menarik lainnya adalah bagaimana film ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada mitologi Necronomicon sebagai pusat konflik.

Kali ini cerita berfokus pada penelitian sang kakek mengenai keberadaan Kandarian Dagger, sebuah belati kuno yang dipercaya mampu memusnahkan iblis untuk selamanya. Premis ini memberikan nuansa petualangan sekaligus misteri yang menyegarkan bagi franchise.

Konsep pertarungan antara senjata kuno melawan ilmu hitam membuat konflik terasa lebih luas dan menghadirkan lapisan mitologi baru dalam semesta Evil Dead. Penonton tidak hanya disuguhi upaya bertahan hidup, tetapi juga pencarian artefak yang menjadi harapan terakhir untuk menghentikan teror Deadites.

Perubahan arah cerita ini berhasil memperluas dunia Evil Dead tanpa menghilangkan akar horornya.

Akting Totalitas dan Sangat Meyakinkan Dari Para Pemain

Deretan pemain tampil luar biasa dalam membangun intensitas cerita. Souheila Yacoub sebagai Alice menjadi pusat emosional film. Ia mampu menampilkan karakter yang rapuh namun perlahan berubah menjadi sosok yang berani menghadapi mimpi buruk keluarganya. Perjalanan emosinya terasa alami dan berhasil mengikat perhatian penonton sejak awal.

Hunter Doohan sebagai Joseph, Luciane Buchanan sebagai Thya, Tandi Wright sebagai Susan, Erroll Shand sebagai Edgar, Maude Davey sebagai Polly, hingga George Pullar sebagai Will sama-sama memberikan penampilan yang sangat total. Ketika karakter mereka mulai dirasuki iblis, perubahan ekspresi, bahasa tubuh, hingga cara berbicara benar-benar terasa mengerikan tanpa kehilangan sisi manusia yang membuat konflik semakin menyakitkan.

Interaksi antar pemain menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Karena fondasi hubungan keluarga dibangun dengan baik, setiap pengkhianatan, pertengkaran, hingga kematian memiliki dampak emosional yang jauh lebih besar dibanding film-film Evil Dead sebelumnya.

Horor Psikologis Berpadu Gore Khas Evil Dead

Meski membawa pendekatan yang lebih dramatis, Evil Dead Burn sama sekali tidak melupakan identitas franchise

Adegan gore tetap brutal, penuh darah, dan sangat kreatif. Namun kali ini kekerasan fisik dipadukan dengan penyiksaan psikologis yang membuat setiap adegan terasa lebih menyiksa untuk ditonton.

Ketegangan dibangun perlahan melalui percakapan yang dipenuhi kecurigaan sebelum akhirnya meledak menjadi kekacauan berdarah yang sangat intens. Perpaduan horor psikologis dan gore ekstrem inilah yang membuat film terasa segar sekaligus tetap memuaskan bagi penggemar lama.

Visual Kelam yang Sangat Atmosferik

Sébastien Vanicek menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun atmosfer lewat pendekatan visual yang suram.

Dominasi warna abu-abu, hitam, dan rona kekuningan menciptakan kesan dunia yang perlahan membusuk. Hampir setiap lokasi terasa lembap, dingin, dan tidak memberikan rasa aman bagi para karakternya.

Sinematografi dipenuhi framing sempit yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama para korban, sementara penggunaan bayangan dan pencahayaan redup membuat ancaman terasa selalu mengintai dari setiap sudut.

Editing dengan teknik smash cut digunakan secara agresif namun efektif untuk mempertahankan ritme ketegangan. Transisi yang mendadak membuat penonton sulit merasa nyaman, sehingga rasa cemas terus terjaga bahkan sebelum adegan horor benar-benar dimulai.

Seluruh elemen visual tersebut berpadu dengan desain suara yang menghantui, menghasilkan pengalaman menonton yang intens sejak menit pertama hingga penutup.

Dua After-Credit yang Wajib Ditunggu

SOBAT KTF jangan terburu-buru meninggalkan kursi setelah kredit utama mulai bergulir yaa, Evil Dead Burn menghadirkan dua adegan after-credit yang sama-sama layak ditunggu.

Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead.

Kesimpulan

Evil Dead Burn (2026) berhasil membuktikan bahwa sebuah waralaba Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead. legendaris masih bisa berevolusi tanpa kehilangan identitasnya.


Dengan menjadikan trauma keluarga sebagai inti cerita, memperkenalkan mitologi baru melalui Kandarian Dagger, serta menghadirkan konflik yang lebih emosional dan psikologis, film ini terasa berbeda dari pendahulunya namun tetap mempertahankan ciri khas Evil Dead berupa gore brutal, Deadites yang mengerikan, dan teror tanpa ampun!


More Recommendations

VIDEO
Setelah Revisi Dua Kali Karena Foto Blur, GJLS: Berapi-Api Akhirnya Merilis Official Poster, Trailer, dan Original Soundtrack Barasuara Bersama Performance Memukau dari Damkar
NEWS

Setelah Revisi Dua Kali Karena Foto Blur, GJLS: Berapi-Api Akhirnya Merilis Official Poster, Trailer, dan Original Soundtrack Barasuara Bersama Performance Memukau dari Damkar

Jakarta, 2 Oktober 2026 — Setelah melalui dua kali proses revisi akibat drama menggelikan dari trio Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir dengan netizen penggemar GJLS, akhirnya poster GJLS: Berapi-api resmi diizinkan tampil jelas tanpa sensor. Dalam perhelatan konferensi pers yang riuh di Lippo Mall Nusantara, rumah produksi Amadeus Sinemagna resmi meluncurkan paket lengkap promosi: revisi kedua Official Poster, Official Trailer, serta lagu orisinal resmi garapan Barasuara untuk film komedi drama GJLS: Berapi-Api.Seremoni Nyaris Gagal: Hendak Tampil Heroik, Malah Diselamatkan Regu Damkar SungguhanSesuai tradisi komedi GJLS, acara pembukaan tirai hitam raksasa penutup poster dan trailer tidak dibiarkan berjalan normal tanpa bumbu kepanikan. Niat hati ingin bergaya bak pahlawan penyelamat dengan menarik tirai secara serentak, trio abang-abang ini justru tersangkut tali dan gagal mengeksekusi seremoni hingga memicu tawa penonton di area mal.Sadar situasi di panggung mulai melenceng dari naskah, Rigen langsung sigap menelepon panggilan darurat pemadam kebakaran. Suasana berubah drastis saat sirene berbunyi dan regu Algojo Api masuk dengan langkah tegap, mengambil alih panggung, lalu menarik tirai hitam tersebut secara sempurna diiringi tepuk tangan riuh para tamu undangan.Official Trailer: Realitas Tugas Damkar dari Ambil Rapor Sampai Kepala Nyangkut PagarMateri official trailer yang baru diputar memperlihatkan pahit-manis perjuangan tiga sahabat masa kecil yang bertekad menjadi petugas pemadam kebakaran yang gagah. Namun, setelah melewati gemblengan tanpa ampun bersama regu Algojo Api, trio GJLS justru dihadapkan pada tugas-tugas lapangan yang tak terduga: mulai dari operasi darurat mengambil rapor anak SD hingga penyelamatan krusial mengeluarkan kepala Yono Bakrie yang tersangkut di jeruji pagar.Misi mulia berbalut kekacauan tersebut ditegaskan oleh para pemeran utama. "Tujuan kami di film ini ga cuma ingin menunjukkan film GJLS yang lucu dan seru, tapi juga ingin membawakan aksi heroik pemadam kebakaran yang selalu siap membantu kita, dan cerita yang dekat dengan kita semua," papar Rigen Rakelna.Membawa momen haru ketika ditanya mengenai tema persahabatan yang dibawa dalam film terbaru dari trio komedian ini, Ananta Rispo ternyata meneteskan air mata di tengah panggung press conference. Sulit berkata-kata karena emosinya yang tak terduga pecah di atas panggung, Rispo menekankan pentingnya momen ini dalam hidupnya. “Saya sangat bangga bisa ada di sini bersama kedua sahabat saya,” sebut Rispo di tengah pelukan Rigen dan Hifdzi.“Intinya, di film ini kami mau membawakan sisi yang dicintai publik penggemar komedi di film pertama, tapi ke level yang lebih dalam segala hal,” ujar Hifdzi mengenai film terbaru mereka.“Ini adalah GJLS yang lebih lucu, lebih hangat, juga lebih bisa dinikmati berbagai kalangan dan usia.”Sutradara Monty Tiwa menambahkan, “GJLS: Berapi-Api adalah film baru dengan cerita baru yang berbeda dengan GJLS: Ibuku Ibu-ibu. Ceritanya di-design untuk bisa ditonton bersama keluarga.”Kemegahan Soundtrack Barasuara dan Jajaran Pemeran LengkapEnergi film ini kian meledak berkat iringan official original soundtrack bertenaga dari band rock Barasuara yang berjudul “Api dan Mimpi” membuktikan bahwa perseteruan perebutan lagu antara Hifdzi dan Iga Massardi tempo hari resmi tuntas secara musikal.Di bawah komando sutradara Monty Tiwa, film ini turut diperkuat oleh deretan bintang dan komika lintas generasi: Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Hifdzi Khoir, Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Indira Ayu Maharani (Inayma), Ebel Cobra, Grace Emmanuela, Yono Bakrie, Nigel Siwabessy, Rio Dumatubun, dan Sadha Triyudha.Catat Tanggal Tayangnya!GJLS: Berapi-Api siap memadamkan stres dan mengocok perut penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 November 2026.Saksikan Official Trailer resmi di kanal YouTube Amadeus Sinemagna dan pantau terus kabar terbarunya melalui akun media sosial resmi @sinemagna, @gjlsberapiapi, dan @gjlsentertainment.

Admin Kupas Tuntas Film 02 Oct 2026
VIDEO
Aghniny Haque Diteror Penjaga Gaib dalam Debut Internasionalnya, Film Horor Khadam Resmi Tayang di Bioskop Indonesia 16 September 2026!
NEWS

Aghniny Haque Diteror Penjaga Gaib dalam Debut Internasionalnya, Film Horor Khadam Resmi Tayang di Bioskop Indonesia 16 September 2026!

Jakarta, 3 September 2026 — Kabar gembira bagi para penikmat sinema horor di tanah air. Film debut internasional dari aktris berbakat Aghniny Haque, Khadam, secara resmi mengumumkan tanggal penayangannya di bioskop seluruh Indonesia, yakni mulai 16 September 2026.Sebagai proyek kolaborasi ambisius lintas negara antara Malaysia dan Indonesia, Khadam menyajikan narasi horor mencekam mengenai perjuangan seorang ibu yang harus menyelamatkan keluarganya saat entitas gaib yang seharusnya menjadi “penjaga” justru berbalik arah untuk menyingkirkan dan menggantikan posisinya.Didistribusikan untuk bioskop Indonesia melalui CBI Pictures, film ini diproduksi oleh Red Communications dan Komet Productions, serta menggandeng dua rumah produksi ternama asal Indonesia, MAGMA Entertainment dan VMS Studios. Skala internasional film ini kian solid dengan dukungan dari deretan studio besar kawasan Asia, meliputi Sil Metropole Organisation (China), Applause Entertainment (India), serta Golden Screen Cinemas, dan Primeworks Studios dari Malaysia.Menghadapi Teror Ekstrem sebagai Sosok IbuDalam Khadam, Aghniny Haque bertransformasi memerankan karakter Melor, seorang ibu yang tidak bisa berbicara, yang hidup damai bersama kedua anaknya. Namun, kehidupannya berubah menjadi mimpi buruk saat ia harus berhadapan dengan sebuah entitas "penjaga" mistis yang perlahan berusaha merebut identitas serta menggantikan perannya di dalam keluarga.Perjuangan Melor yang sunyi namun sarat ketegangan mengajak penonton menyelami premis psikologis yang menghantui: “Bagaimana jika penjagamu justru berusaha menggantikanmu?”Terkait perannya di film ini, Aghniny Haque mengungkapkan rasa antusias dan tantangan mendalam yang dihadapinya.“Aku sangat bersyukur bisa dapat kesempatan untuk memerankan Melor, karena ini adalah sebuah peran yang sangat-sangat menantang. Sepanjang film aku harus bisa menjalani 2 karakter dengan ekspresi emosi yang berubah setiap saat,” ujar Aghniny.Reaksi Gemilang dan Pujian Kritikus InternasionalSebelum menyapa penonton tanah air, Khadam telah lebih dulu mencuri perhatian dan menuai pujian luas sejak rilis di bioskop Malaysia pada 11 Juni 2026, Kamboja pada 27 Juli 2026, dan Singapura pada 27 Agustus 2026 lalu, hingga digadang-gadang sebagai salah satu film horor terbaik tahun ini. Film ini sukses meraih penjualan tiket lebih dari USD1,3 juta dari perilisannya di Malaysia.Penampilan akting Aghniny Haque pun sukses menjadi sorotan utama bagi para kritikus dan penikmat film regional. Media kenamaan Malaysia, The Star, turut memuji kepiawaian aktingnya dengan menuliskan, “Penampilan Aghniny, yang sebagian besar dalam film memerankan sebuah karakter bisu sangat brilian.Selain Aghniny Haque, Khadam turut diperkuat oleh jajaran aktor papan atas Malaysia, di antaranya Remy Ishak, Siti Khadijah Halim, Zarra Zaff, Karl El, dan aktris kawakan June Lojong. Film ini juga dijadwalkan untuk tayang di Hong Kong dan Makau pada Oktober 2026 nanti.Saksikan teror dan perjuangan Melor mempertahankan keluarganya dalam film Khadam, serentak di bioskop-bioskop Indonesia mulai 16 September 2026. Informasi terbaru serta materi promosi resmi dapat diakses melalui akun media sosial resmi @khadamthemovie dan @cbipictures.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
Ketika Waktu Bersama Ibu Tidak Pernah Benar-Benar Panjang
MOVIE
3.2

Ketika Waktu Bersama Ibu Tidak Pernah Benar-Benar Panjang

Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? menjadi salah satu drama keluarga Indonesia yang mencoba kembali mengangkat tema sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan banyak orang: hubungan antara ibu dan anak serta rasa takut kehilangan orang yang paling kita cintai.Film yang disutradarai Herwin Novianto dan ditulis oleh Alim Sudio ini merupakan remake dari film Korea Selatan Wedding Dress (2010), dengan skenario asli yang ditulis oleh Kwon Hyeong-jin dan Yoo Yeong-ah. Versi Indonesia ini mempertahankan fondasi utama cerita tentang seorang ibu dan anak yang harus menghadapi kenyataan bahwa kebersamaan mereka memiliki batas waktu.Namun, tantangan terbesar sebuah film remake bukan hanya bagaimana mengulang cerita yang sudah dikenal, melainkan bagaimana membawa cerita tersebut agar terasa relevan dan dekat dengan penonton di negara tempat cerita itu dibuat ulang. Di sinilah Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? mencoba memberikan sentuhan Indonesianya. Premis Emosional yang Tetap DipertahankanSebagai sebuah remake, film ini memang masih mempertahankan premis emosional dan struktur hubungan ibu-anak yang menjadi kekuatan utama film aslinya. Stella (Marsha Timothy) merupakan seorang ibu tunggal sekaligus perancang gaun pengantin yang hidup bersama putrinya, Rere (Ariqa Fakhirah Shakila).Kehidupan mereka berubah ketika Stella mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit serius dan waktu yang dimilikinya tidak lagi panjang. Alih-alih hanya memikirkan kesedihan atas kepergiannya, Stella justru mulai memikirkan bagaimana Rere akan menjalani kehidupan setelah dirinya tidak ada.Ia kemudian berusaha menggunakan sisa waktu yang dimilikinya untuk memberikan berbagai bekal kepada sang anak, menciptakan kenangan, sekaligus mempersiapkan Rere agar mampu menjalani kehidupannya sendiri. Salah satu bentuk kasih sayang tersebut diwujudkan melalui pembuatan “gaun masa depan” untuk Rere.Keputusan Herwin Novianto dan Alim Sudio untuk tidak mengubah fondasi hubungan Stella dan Rere secara berlebihan terasa masuk akal mengingat statusnya sebagai remake. Justru, kekuatan film ini berada pada bagaimana cerita yang sudah memiliki struktur emosional kuat tersebut diterjemahkan ke dalam konteks Indonesia.Penonton yang sudah mengetahui Wedding Dress tentu akan menemukan sejumlah persamaan dalam perjalanan emosional ibu dan anaknya. Namun, film ini tetap berusaha memberikan identitas sendiri melalui karakter, lingkungan, dialog, kebiasaan, serta dinamika keluarga yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.Marsha Timothy dan Ariqa Fakhirah Menjadi Jantung CeritaSalah satu kekuatan terbesar Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? berada pada akting dan chemistry antara Marsha Timothy sebagai Stella dan Ariqa Fakhirah Shakila sebagai Rere.Marsha mampu menghadirkan Stella sebagai sosok ibu yang tidak hanya terlihat kuat, tetapi juga menyimpan banyak kekhawatiran di balik sikapnya. Karakter Stella memiliki beban emosional yang cukup besar karena ia mengetahui sesuatu yang belum sepenuhnya bisa diterima oleh Rere.Menariknya, emosi Stella tidak selalu disampaikan melalui adegan yang besar. Banyak momen justru terasa lebih kuat ketika film memperlihatkan interaksi sederhana antara ibu dan anak. Tatapan, percakapan sehari-hari, perhatian kecil, hingga usaha Stella mengajarkan berbagai hal kepada Rere menjadi bagian yang membuat hubungan mereka terasa lebih manusiawi.Di sisi lain, Ariqa Fakhirah Shakila memberikan penampilan yang cukup kuat sebagai Rere. Ia mampu memperlihatkan perubahan emosi seorang anak yang awalnya menjalani kehidupan seperti biasa, kemudian perlahan harus memahami kenyataan bahwa sosok yang selama ini selalu ada untuknya suatu hari tidak akan lagi berada di sisinya. Chemistry keduanya menjadi salah satu alasan mengapa sisi emosional film dapat bekerja dengan cukup baik. Hubungan Stella dan Rere tidak hanya terasa seperti hubungan karakter dalam sebuah skenario, tetapi mampu memberikan kesan sebagai hubungan ibu dan anak yang memiliki kedekatan emosional.Pemain Pendukung Memperkuat Sisi EmosionalSelain dua pemeran utamanya, kehadiran Sara Wijayanto, Kiki Narendra, dan Kinaryosih juga memberikan warna tersendiri.Ketiga pemain tersebut membantu memperluas dunia Stella dan Rere sehingga cerita tidak terasa hanya berputar pada hubungan ibu dan anak. Kehadiran mereka juga memberikan ruang bagi film untuk mengeksplorasi bagaimana orang-orang di sekitar Stella dan Rere turut menjadi bagian dari perjalanan emosional mereka.Karakter-karakter pendukung tersebut memang tidak mengambil alih pusat cerita, tetapi kehadirannya membantu memperkuat atmosfer keluarga dan hubungan antarkarakter. Unsur Komedi Yang Menambah Warna CeritaDi tengah cerita yang cukup emosional, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? juga tidak sepenuhnya membiarkan penonton berada dalam suasana sedih.Kehadiran Ivan Gunawan, Praz Teguh, dan Papham memberikan unsur komedi yang cukup hidup. Humor yang mereka hadirkan menjadi penyeimbang agar film tidak terasa terlalu berat dari awal hingga akhir.Hal ini menjadi keputusan yang cukup efektif karena cerita mengenai penyakit, kehilangan, dan hubungan orang tua-anak berpotensi membuat film terasa sangat melodramatis apabila hanya mengandalkan adegan emosional.Unsur komedi tersebut membuat perjalanan Stella dan Rere terasa lebih berwarna. Penonton diberikan kesempatan untuk tertawa di antara berbagai momen haru yang perlahan dibangun film.Dengan demikian, komedi tidak hanya berfungsi sebagai selingan, tetapi juga membantu menciptakan keseimbangan tone dalam keseluruhan film.Membawa Wedding Dress ke Dalam Konteks IndonesiaSebagai remake, salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? membawa cerita dari Korea Selatan ke lingkungan Indonesia.Film ini tidak sekadar mengganti bahasa atau pemerannya. Karakter, setting, kultur, dinamika keluarga, hingga cara cerita dikemas berusaha dibuat lebih dekat dengan penonton Indonesia.Penyesuaian tersebut penting karena hubungan antara orang tua dan anak dalam sebuah cerita keluarga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya. Versi Indonesia mencoba membuat konflik dan interaksi antarkarakternya terasa lebih familiar bagi penonton lokal.Hasilnya memang bukan sebuah film yang sepenuhnya berbeda dari film aslinya. Fondasi ceritanya masih sangat terasa sebagai Wedding Dress. Namun, identitas Indonesia yang diberikan membuat kisah tersebut memiliki konteks baru.Hal ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi penonton yang belum pernah menyaksikan film aslinya. Mereka dapat menikmati ceritanya sebagai drama keluarga Indonesia tanpa harus mengetahui terlebih dahulu sumber materi aslinya.Sementara bagi penonton yang sudah menyaksikan Wedding Dress, film ini dapat menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana cerita yang sama diterjemahkan melalui perspektif budaya Indonesia.Punya Pesan Yang Cukup DalamPada akhirnya, kekuatan utama Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? bukan hanya terletak pada cerita tentang kehilangan, tetapi pada bagaimana film ini mengajak penonton memikirkan kembali hubungan mereka dengan orang tua.Film ini mengingatkan bahwa waktu bersama orang tua tidak pernah benar-benar bisa kita pastikan panjangnya.Sering kali kita merasa masih memiliki banyak waktu untuk mengucapkan terima kasih, meminta maaf, memberikan perhatian, atau sekadar mengatakan bahwa kita menyayangi mereka. Padahal, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu berapa lama kesempatan tersebut akan berlangsung.Karena itu, pesan yang terasa kuat dari film ini adalah pentingnya menyampaikan kasih sayang selagi masih ada kesempatan.Tidak perlu menunggu momen besar untuk menunjukkan perhatian. Bahkan kalimat sederhana seperti “Ibu, aku sayang” bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika disampaikan kepada orang yang kita cintai.Pesan tersebut juga terasa relevan dengan bagaimana film memperlihatkan Stella yang tidak hanya memikirkan kepergiannya, tetapi berusaha meninggalkan bekal, kenangan, dan kasih sayang agar Rere tetap dapat melanjutkan hidup.KesimpulanIbu, Bagaimana Aku Tanpamu? merupakan remake yang tetap mempertahankan premis emosional serta struktur hubungan ibu-anak dari Wedding Dress, tetapi berusaha membawa kisah tersebut ke dalam konteks kehidupan dan budaya Indonesia. Herwin Novianto dan Alim Sudio tidak mencoba menghilangkan identitas cerita aslinya. Sebaliknya, mereka menjadikan hubungan Stella dan Rere sebagai pusat cerita, kemudian memberikan penyesuaian melalui karakter, setting, kultur, humor, serta cara penyampaian yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.Akting dari para pemainnya juga bagus dan unsur komedi yang ada disajikan membuat film terasa lebih berwarna dan tidak terus-menerus berada dalam suasana muram.Bagi penonton yang sudah maupun belum menyaksikan Wedding Dress, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? tetap memiliki ruang untuk dinikmati sebagai sebuah drama keluarga Indonesia mengenai kasih sayang, pengorbanan, kehilangan, dan pentingnya memanfaatkan waktu bersama orang-orang yang kita cintai.Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? cocok dan recommended untuk SOBAT KTF yang sudah maupun belum menonton film aslinya, terutama bagi kalian yang menyukai film keluarga yang hangat, emosional, memiliki unsur komedi, sekaligus membawa pesan tentang arti sebuah keluarga.

Rahmadandi Desky Prayuda 23 Sep 2026
VIDEO
Trailer & Poster Ungkap Visual yang Menawan Film Empat Musim Pertiwi Membawa Cinematic Experience yang Belum Pernah Tersaji di Layar Sinema Indonesia dari Sutradara Gadis Kretek Kamila Andini!
NEWS

Trailer & Poster Ungkap Visual yang Menawan Film Empat Musim Pertiwi Membawa Cinematic Experience yang Belum Pernah Tersaji di Layar Sinema Indonesia dari Sutradara Gadis Kretek Kamila Andini!

Empat Musim Pertiwi tayang mulai 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia! Jakarta, 10 September 2026 — Forka Films merilis trailer dan poster film Empat Musim Pertiwi, yang menjadi karya terbaru dari sutradara Gadis Kretek, Kamila Andini. Melalui trailernya, Empat Musim Pertiwi menunjukkan skala produksi terbesar Forka Films, dengan penjelajahan artistik yang eksploratif, yang akan menawarkan cinematic experience yang hanya dapat dinikmati di layar bioskop.Mengikuti perjalanan Pertiwi (Putri Marino), yang pulang ke tanah kelahirannya, setelah puluhan tahun pergi. Pertiwi bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya, baik yang memberinya musim baik hingga mereka yang menjadi musim terburuk dalam hidupnya.Sementara itu, poster Empat Musim Pertiwi menampilkan sosok Pertiwi sebagai perempuan yang tampak telah melalui berbagai fase kehidupannya dan siap menghadapi berbagai peristiwa. Empat Musim Pertiwi, yang memiliki judul internasional Four Seasons in Java akan tayang perdana (world premiere) di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 pada September ini. TIFF juga menandai kembalinya Kamila ke festival tersebut, setelah bersama film Yuni (2021) yang memenangkan Platform Prize.Dalam waktu yang bersamaan dengan rilisnya di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026, Empat Musim Pertiwi juga akan tayang di Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Di BIFF, Empat Musim Pertiwi akan tayang dalam program A Window On Asian Cinema, sebuah program yang mempresentasikan karya-karya yang akan menjadi zeitgeist dari para sineas Asia yang telah menepakkan jejaknya di peta sinema internasional serta para sineas Asia pendatang baru. “Senang rasanya film Empat Musim Pertiwi dapat tayang di bioskop Indonesia dalam waktu yang berdekatan ketika filmnya World Premiere di Toronto dan dalam waktu yang bersamaan dengan tayangnya di Busan. Kami berharap penonton dapat merasakan bersama perjalanan pulang Pertiwi dalam menemui musim-musim dalam hidupnya, lewat penjelajahan artistik terbaru Kamila Andini, yang juga didukung oleh jajaran kru yang telah bekerja sama sejak Gadis Kretek,” ujar produser Ifa Isfansyah.“Syutingnya dilakukan pada tahun 2025, dan ini menjadi skala produksi terbesar Forka Films. Kami syuting hampir sepenuhnya di Bromo, dengan berbagai titik yang kami gunakan mulai dari area permukiman, area persawahan, dan tentunya titik berpasir. Untuk berpindah dari satu titik ke titik lain tentu membutuhkan logistik yang besar. Belum lagi, secara post-production, kami juga memasukkan banyak detail yang membuat desain produksinya besar,” tambah Ifa.Bagi Kamila, membuat film selalu menjadi ruang pembelajaran baru baginya untuk memahami dunia sekitar bekerja. Di film Empat Musim Pertiwi, ia juga berupaya untuk menyuarakan apa yang tengah menjadi keresahannya, melalui balutan cross-genre yang menjadi alat untuk menyampaikan pesan. Di film ini, salah satu yang baru baginya adalah sci-fi.“Sebenarnya, secara personal saya sangat menyukai film-film sci-fi. Namun, baru sekarang saya merasa punya kebutuhan untuk menampilkan sesuatu lewat sci-fi secara yang lebih luas dan universal. Setiap cerita memiliki kebutuhannya sendiri, dan bagi saya ini juga akan menjadi salah satu cara terbaik untuk menyampaikan apa yang menjadi perjalanan Pertiwi dan orang-orang di sekitarnya,” ujar sutradara Kamila Andini.Ide pembuatan Empat Musim Pertiwi sudah ada sejak 2017, jauh sebelum Gadis Kretek dan Before, Now & Then. Putri Marino, sejak awal juga sudah diplot untuk menjadi Pertiwi. Saat itu, pendekatan awal terjadi pada saat Ifa mengerjakan film Losmen Bu Broto. Film ini sekaligus menandai reuninya tim Gadis Kretek antara Kamila Andini, Ifa Isfansyah, Putri Marino, serta Arya Saloka.Selain Putri dan Arya, film ini dibintangi oleh Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti. Dwika merupakan aktor dengan vitiligo, dan Hanna merupakan aktor tuli. Keterlibatan keduanya juga menjadi representasi keberagaman di film ini. Bagi Putri, untuk memerankan karakter Pertiwi cukup berat dan menguras energi.Putri pun kemudian mendapat bantuan dari Kamila untuk mendiskusikan tentang desain karakternya, salah satunya saat ia diberikan novel karya perempuan penulis Mesir, Nawal el-Saadawi.Di sini, aku diminta untuk menjadi seseorang yang seperti sudah mati di dalamnya, dingin. Salah satu yang juga sebenarnya membantuku untuk mengembangkan karakter Pertiwi adalah saat aku diberi bahan bacaan buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi, dan aku akhirnya bisa memahami apa yang dilalui Pertiwi,” ujar Putri Marino.Menjadi proyek terbesar Forka Films, Empat Musim Pertiwi menjadi ko-produksi enam negara, Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia. Film ini juga turut didukung dan kolaborasi bersama dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. Flm ini juga turut disponsori oleh Oriflame.Empat Musim Pertiwi juga resmi mendapatkan representasi internasional dari Goodfellas, salah satu international sales agent asal Prancis yang dikenal melalui katalog film-film auteur dengan perjalanan kuat di festival film dunia.Keputusan Goodfellas untuk menangani Empat Musim Pertiwi menjadi bagian penting dari perjalanan film ini. Bagi Forka Films, partnership tersebut bukan sekadar langkah distribusi internasional, tetapi juga sebuah bentuk kepercayaan terhadap kualitas artistik, skala produksi, dan potensi internasional film Indonesia.Goodfellas selama ini dikenal bekerja bersama filmmaker dengan visi artistik yang kuat dan menangani film-film yang memiliki perjalanan penting di festival internasional, termasuk karya-karya yang mendapat pengakuan di Cannes Film Festival dan Academy Awards.Empat Musim Pertiwi kini berada dalam katalog internasional yang sama dengan berbagai film auteur dari berbagai belahan dunia. Beberapa film yang sebelumnya ditangani oleh Goodfellas di antaranya adalah Pemenang Piala Oscar Pan’s Labyrinth (2006) karya Guillermo del Toro dan The Artist (2011) karya Michel Hazanavicius, dan film peraih Palme d’Or di Cannes Film Festival seperti Shoplifter (2018) karya Koreeda Hirokazu, Titane karya Julia Ducournau (2021) dan Fjord karya Cristian Mungiu (2026).Saksikan di layar lebar saat Pertiwi pulang. Empat Musim Pertiwi tayang 8 Oktober 2026. Ikuti perkembangan terbaru film Empat Musim Pertiwi melalui akun media sosial Instagram @forkafilms dan saksikan filmnya di bioskop pada tahun 2026!

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
Fresh, Eksentrik, dan Mengganggu! Hasut Buktikan Film Horor tak Perlu Penampakan! Suara HT Bikin Kita Merinding dan Terteror !
NEWS

Fresh, Eksentrik, dan Mengganggu! Hasut Buktikan Film Horor tak Perlu Penampakan! Suara HT Bikin Kita Merinding dan Terteror !

Tonton film Hasut mulai 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia. Jakarta, 25 September 2026 — Tuta Films mempersembahkan film horor-misteri Hasut, karya debut sutradara Ilya Sigma yang mengeksplorasi perasaan takut, curiga, dan terteror dari suara-suara misterius yang muncul dari HT, dan menyesatkan pikiran keempat sahabat di sebuah hutan. Siapa yang berada di balik suara tersebut? Dan mana yang harus dipercaya? Dua pertanyaan ini menjadi tema utama Hasut, sekaligus membawa penonton masuk ke dalam misteri yang dialami keempat sahabat tersebut.Film Hasut menghadirkan horor tanpa penampakan, dengan ketegangan yang dibangun melalui suara-suara misterius yang semakin manipulatif dan memicu paranoia. Justru suara-suara inilah yang membuat teror terasa nyata dan membuat penonton terus bertanya seberapa jauh mereka akan saling mencelakai.Dibintangi empat pemeran utama yang menampilkan akting mereka dengan solid, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova saling curiga satu sama lain, saat suara misterius itu ‘membajak’ HT mereka.Keempatnya yang datang dengan luka dan trauma masa lalu, menjadi semakin tak terkontrol, ketika suara-suara itu juga menghasut mereka untuk saling tak mempercayai hingga akhirnya melukai satu sama lain. Hingga akhir film, kita bertanya, siapa yang menghasut, dan siapa yang bisa dipercaya, saat semua yang terlihat tak sama dengan yang terdengar?“Film Hasut berbicara tentang sebuah rasa curiga dan kepercayaan. Dengan elemen suara yang menjadi kekuatan film ini, Hasut menjadi horor yang datang bukan dari makhluk yang tak terlihat, tapi dari keraguan terhadap diri sendiri dan orang terdekat,” ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma.Film Hasut disutradarai oleh Ilya Sigma, ditulis Ilya Sigma bersama Priesnanda Dwisatria. Film ini diproduseri oleh Putrama Tuta, Siera Tamihardja, dan ko-produser Nick Musa, serta ko-produser Randi Wibawa.“Setelah menonton film Hasut, akan membuat penonton mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita kira sudah kita yakini. Seperti perjalanan empat karakter sahabat di film ini, penonton akan terus dihadapkan pada situasi yang membuat mereka bertanya, siapa yang sebenarnya bisa dipercaya?” Ujar produser Siera Tamihardja.Bagi Rachel Amanda, film Hasut menjadi tantangan baru baginya. Hasut sendiri menjadi film horor ketiga yang dibintanginya. Salah satu yang menantang bagi Amanda adalah lokasi syuting yang sepenuhnya berada di hutan, dengan pemeran yang terdiri dari empat aktor. Kekuatan aktor di film ini juga sangat diuji untuk menghidupkan suasana teror psikologis yang muncul dari suara-suara misterius.“Menonton film Hasut akan membawa kita pada sebuah perasaan tegang, terteror secara psikologis, dan refleksi tentang sebuah relasi terhadap orang terdekat kita.Dan berada di hutan, alam, membuat kita bisa terbuka sisi-sisi yang mungkin selama ini kita tutupi, dan memperlihatkan tentang apakah kita adalah orang yang selama ini menghasut, atau yang dihasut?” Ujar Rachel Amanda“Buat aku salah satu adegan paling emosional adalah saat bersama Rachel Amanda, yang cukup menguras emosi. Karena kami berdua di sini adalah kakak-adik, yang memiliki trauma di masa lalu, dan di hutan inilah, keduanya mencoba membicarakannya untuk pertama kalinya. Perasaan luka masa lalu itu juga yang rasanya membuat karakter Vira dan Rere relate dengan banyak orang,” ujar Karina Salim. Pada akhirnya, Hasut meninggalkan satu pertanyaan menohok: ketika semua orang terlihat bisa dipercaya, tetapi suara yang kita dengar mengatakan sebaliknya, siapa yang akan kita pilih untuk dipercaya?Film Hasut akan tayang di bioskop mulai 8 Oktober 2026. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @filmhasut & @tutafilms.

Admin Kupas Tuntas Film 25 Sep 2026
Film Memburu Pemangsa Libatkan 3.000+ Siswa dalam Kampanye Perlindungan Diri, Ajak Warga Blok M Untuk Gerakkan #JagaAnakAnak, serta Hadirkan Kolaborasi 1 Juta Cup untuk Perkuat Awareness Perlindungan Anak!
NEWS

Film Memburu Pemangsa Libatkan 3.000+ Siswa dalam Kampanye Perlindungan Diri, Ajak Warga Blok M Untuk Gerakkan #JagaAnakAnak, serta Hadirkan Kolaborasi 1 Juta Cup untuk Perkuat Awareness Perlindungan Anak!

Film Memburu Pemangsa tayang mulai 24 September 2026 di bioskop! Jakarta, 10 September 2026 — Menjelang penayangannya di bioskop pada 24 September 2026, film Memburu Pemangsa persembahan Sinemaku Pictures menghadirkan sejumlah rangkaian kegiatan yang bertujuan membangun awareness tentang ruang aman bagi anak-anak. Mulai dari berdiskusi dengan anak-anak sekolah, hingga kolaborasi strategis demi menjangkau publik luas.Kampanye #JagaAnakAnak Goes to SchoolSinemaku Pictures bersama film Memburu Pemangsa membawa kampanye #JagaAnakAnak ke lingkungan pendidikan. Dalam dua hari, kampanye ini menjangkau sekitar total 3.000 siswa di SMK Pustek Serpong dan SMAN 2 Kota Serang melalui rangkaian edukasi mengenai perlindungan anak yang dikemas lewat talkshow dan game interaktif.Kampanye #JagaAnakAnak ini masih akan berlanjut ke sekolah-sekolah di berbagai kota lainnya. Kampanye ini turut dihadiri sutradara Memburu Pemangsa Umay Shahab, pemeran Taskya Namya, dan Sadam Permana, tokoh muda inspiratif yang dikenal lewat konten-kontennya di media sosial yang banyak mengedukasi generasi muda.Momentum ini menjadi upaya untuk mengajak para siswa saling menjaga diri dan lingkungan dari predator yang memburu anak-anak. Kampanye ini menjadi penting karena hingga saat ini kasus penculikan dan kekerasan terhadap anak di Indonesia masih tergolong tinggi. “Kementerian PPPA mencatat 35.920 kasus kekerasan perempuan dan anak sepanjang 2025. Kasus-kasus ini banyak terjadi di ruang terdekat anak,” ujar sutradara film Memburu Pemangsa Umay Shahab mengenai pentingnya membawa kampanye Jaga Anak-Anak di lingkungan sekolah.“Ketika saya kecil pun, banyak melihat anak-anak seumuran saya yang menjadi korban dari kekerasan para penjahat. Itu yang membuat kenapa saya merasa penting, saat memiliki kesempatan, membuat film yang menjadi keresahan saya dan banyak orang. Dan cerita serta isu sepenting ini belum ada yang mengangkatnya,” tambah Umay Shahab. Umay berharap kampanye #JagaAnakAnak ini juga menyadarkan banyak orang termasuk para siswa dan guru di lingkungan sekolah untuk menciptakan lingkungan aman dan mencegah terjadinya kejahatan.Bersama Warga Blok M Berkomitmen Ciptakan Ruang Publik AmanFilm Memburu Pemangsa sempat melakukan Talkshow yang dipandu oleh ‘Gubernur Blok M’ Arvino dan salah satu personel trio NPD, Niky Putra. Dalam momen itu juga turut dirilis trailer dan poster film Memburu Pemangsa, serta sesi diskusi bersama jajaran pemeran Laura Basuki, Taskya Namya, Yasamin Jasem dan Rifnu Wikana.“Dari film ini saya merasa bahwa manusia itu bisa lebih keji daripada setan sebenarnya. Jadi kejahatan itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Rasanya kasihan dan miris, ketika anak-anak yang harus terus aware menjaga diri mereka.Jangan terus menerus menyalahkan ‘Oh mungkin karena dia jalan sendiri', 'Oh karena dia pakai baju terlalu terbuka’, ya yang dibenerin harusnya kita sebagai orang dewasa, dan orang dewasa harus ikut menjaga keamanan anak-anak,” ujar Laura Basuki.Tak hanya dukungan untuk menciptakan wilayah yang berkomitmen melawan pemangsa anak, di Blok M jajaran pemeran bersama warga Blok M juga turut terlibat dalam kegiatan permainan interaktif. Permainan interaktif ini hadir lewat kolaborasi Sinemaku Pictures bersama XSpace Indonesia, salah satu hiburan escape room yang menggabungkan role-play, teka-teki, dan elemen horor interaktif.Banyak dari warga di Blok M pun sangat antusias menyambut Memburu Pemangsa.Tak hanya ikut dalam sesi talkshow, namun mereka juga ikut bermain permainan interaktif yang dibuat oleh Xspace Indonesia.Kolaborasi XSpace Indonesia dan Kopi NakoBersama XSpace Indonesia, film Memburu Pemangsa membawa pengalaman berburu dari layar ke dunia nyata melalui immersive experience yang akan membawa penonton ke sebuah misi investigasi dan perburuan. Nuansa horror-crime-action di film juga akan dihidupkan, dengan permainan dan misi yang akan dirasakan langsung oleh pengunjung di wahana XSpace di Pasaraya Blok M.Pengunjung juga dapat menikmati pengalaman imersif film Memburu Pemangsa pada 14 September–11 Oktober 2026 di XSpace Pasaraya Blok M.Dengan kolaborasi bersama XSpace Indonesia, penonton film Memburu Pemangsa nantinya juga bisa merasakan pengalaman berburu seperti karakter 4 jurnalis di film. Kolaborasi ini memperluas pengalaman Memburu Pemangsa dari layar bioskop ke ruang imersif, dengan mengajak peserta terlibat langsung dalam permainan yang terinspirasi dari dunia dan cerita film.Di luar bioskop, Memburu Pemangsa juga memperluas kampanye #JagaAnakAnak melalui kolaborasi bersama Kopi Nako. Mulai 7 September 2026, sebanyak 1 juta cup Kopi Nako x Memburu Pemangsa resmi hadir di 57 gerai Kopi Nako di berbagai wilayah Indonesia.“Ketika diajak bekerja sama dengan Sinemaku Pictures, kami sangat tertarik karena mempunyai pesan yang sangat positif. Bagaimana menyuarakan isu tentang #JagaAnakAnak untuk bisa cepat sampai langsung ke masyarakat, yaitu dalam bentuk visual, yang disampaikan dalam sebuah cup. Biarkan cup Kopi Nako berbicara kepada customer kami. Terkadang, sebuah pesan yang baik bisa dimulai dari hal kecil yang kita temui sehari-hari.” ujar Chief Creative & Marketing Kanma Group, Robert Wanasida.Melalui kolaborasi tersebut, pesan mengenai pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak diharapkan dapat menjangkau masyarakat lebih luas, bahkan di luar ruang bioskop.Film Memburu Pemangsa juga riset sejak tahap pengembangan cerita. Dalam prosesnya, tim menggandeng Komnas Perlindungan Anak, akademisi kriminologi Universitas Indonesia, Divisi Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Kejahatan terhadap Anak (TPPO) Bareskrim Polri, serta redaksi media investigasi untuk menyentuh isu yang nyata.Ikuti informasi terbaru mengenai film Memburu Pemangsa melalui akun media sosial Sinemaku Pictures di Instagram @sinemaku_pictures dan @memburupemangsa. Tonton film Memburu Pemangsa di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026!

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
VIDEO
Night Shift For Cuties
SERIES
4.0

Night Shift For Cuties

Ketika Kehidupan Malam Menjadi Panggung Cerita. Di tengah banyaknya serial yang berlomba menghadirkan konflik besar dan cerita penuh kejutan

Kupas Tuntas Film 05 Jul 2026