Logo KTF KupasTuntasFilm

Jakarta Undercover Kembali, Vidio Hadirkan Universe Baru Lewat “Vidio Original Series Jakarta Undercover: Members Only"

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Series

By Admin Kupas Tuntas Film | | 42 views

Caitlin Halderman, Baskara Mahendra, dan Haico Van Der Veken, deretan bintang muda, memperluas semesta kisah Jakarta Undercover yang menyimpan banyak rahasia di balik gemerlap Jakarta.

Dok : Vidio

Di balik gemerlap kehidupan malam Jakarta, tersimpan rahasia yang tak pernah benar-benar terlihat di permukaan. Penyalahgunaan kekuasaan, eksploitasi, hingga permainan kepentingan menjadi potret kelam yang diangkat dalam Vidio Original Series Jakarta Undercover: Members Only. Terinspirasi dari buku fenomenal Jakarta Undercover karya Moammar Emka, Vidio menghadirkan kembali kisah ikonis tersebut dalam format serial dengan interpretasi yang lebih segar, relevan dengan dinamika Jakarta masa kini, serta diperkuat oleh deretan aktor muda yang mewakili perspektif generasi baru. Mengusung genre crime drama yang penuh ketegangan, serial ini mengajak penonton menyelami sisi lain ibu kota melalui kisah para karakter yang masing-masing menyimpan rahasia, ambisi, dan dilema di balik kehidupan yang tampak glamor.

Series ini mengikuti perjalanan Sita (Caitlin Halderman), seorang jurnalis muda yang menyamar sebagai resepsionis di Hotel Golden Sunrise demi mengungkap misteri kematian sang kakak, Tania (Agnes Naomi) Meski pihak berwenang menyatakan Tania meninggal akibat kecelakaan, Sita menemukan sejumlah kejanggalan yang membuatnya yakin ada kebenaran lain yang sengaja disembunyikan. Dalam menjalankan penyelidikannya, Sita dibantu oleh Tio (Brandon Salim), sahabat sekaligus rekan sesama jurnalis yang membantunya menyusun rencana penyamaran.

Di tengah penyelidikannya, Sita bertemu dengan Arian Hartandi (Baskara Mahendra), pewaris Hotel Golden Sunrise yang kehidupannya tak lepas dari berbagai dilema. Berawal dari rasa curiga, hubungan keduanya perlahan berkembang di tengah pencarian kebenaran yang membawa mereka semakin dekat pada rahasia besar yang selama ini tersembunyi. Dalam perjalanannya, Sita juga bertemu dengan Hailey (Carissa Perusset), mantan kekasih Arian, serta Kitty (Haico Van Der Veken), seorang pekerja malam yang mengetahui lebih banyak tentang dunia di balik Hotel Golden Sunrise. Kehadiran mereka membawa Sita menemukan berbagai petunjuk baru dalam mengungkap fakta di balik kematian Tania.

Menghadirkan perpaduan investigasi dan drama karakter, Jakarta Undercover: Members Only tidak hanya mengungkap sebuah misteri, tetapi juga memperlihatkan sisi manusiawidalamnya dari setiap karakter yang terlibat di dalamnya.

Caitlin Halderman Ungkap Keberanian Sita dalam Mencari Kebenaran, Sampai Beli Dua Buku Jakarta Undercover untuk Riset Karakter

Dok : Vidio

Bagi Caitlin Halderman, daya tarik terbesar dari karakter Sita adalah keberaniannya dalam mengambil risiko demi mencari kebenaran meski bukan seorang detektif atau penegak hukum. Untuk mendalami karakter tersebut, Caitlin juga melakukan riset dengan membaca buku Jakarta Undercover karya Moammar Emka agar dapat memahami dunia yang menjadi latar cerita.

“Aku sampai membeli dua bukunya untuk dibaca sebagai bahan riset. Dari situ aku jadi belajar lebih banyak tentang sisi lain Jakarta dan menyadari bahwa banyak hal yang dulu benar-benar pernah terjadi.”

Lewat karakter Sita, Caitlin juga semakin menghargai peran jurnalis yang berani mencari fakta dan menyuarakan mereka yang tidak memiliki ruang untuk berbicara.

“Yang paling aku pelajari dari Sita adalah keberanian untuk tetap mencari kebenaran, meski risikonya besar. Aku juga semakin menghargai profesi jurnalis yang berani menyuarakan mereka yang tidak punya kesempatan untuk bersuara.”

Baskara Mahendra Sebut Arian Bukan Karakter Hitam Putih

Dok : Vidio

Berbeda dari karakter yang mudah ditebak, Arian menjadi salah satu karakter yang menarik bagi Baskara Mahendra karena memiliki banyak lapisan dan konflik batin.

“Karakter seperti Arian bukan tipe peran yang sering ditawarkan. Begitu membaca cerita dan karakternya, aku langsung tertarik untuk mengeksplorasi sejauh apa karakter ini bisa dikembangkan dan seberapa menarik perjalanan ceritanya.”

Dalam proses pendalaman karakter, Baskara mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah memahami perjalanan emosi Arian yang terus berkembang di setiap episode.

Menurutnya, Arian bukan sosok yang dapat dipandang dari satu sisi saja.

"Yang menarik dari Arian adalah dia bukan karakter yang bisa dilihat secara hitam-putih. Dia sering berada di posisi yang membuatnya harus menghadapi dilema moral. Penonton mungkin akan terus bertanya-tanya, sebenarnya Arian sedang berada di pihak siapa."

Haico Van der Veken Ingin Penonton Melihat Sisi Manusiawi Kitty

Dok : Vidio

Memerankan Kitty menjadi pengalaman baru bagi Haico Van der Veken. Berbeda dari karakter-karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya, Kitty membawanya pada dunia yang sama sekali asing sehingga menuntut proses pendalaman karakter yang lebih intens.

"Awalnya aku takut karena sama sekali tidak relate dengan kehidupan Kitty. Tapi semakin mendalami karakternya, aku justru melihat bahwa Kitty punya perjuangan dan luka yang membentuk dirinya. Aku berharap penonton tidak hanya melihat profesinya, tetapi juga memahami cerita di balik setiap pilihan hidupnya.

Ungkap Rahasia Dibalik Jakarta Undercover: Members Only!

Dok : Vidio

Di balik setiap pintu yang tertutup, selalu ada rahasia yang menunggu untuk diungkap.

Melalui Vidio Original Series Jakarta Undercover: Members Only, penonton akan diajak mengikuti perjalanan penuh misteri yang perlahan membuka sisi lain Jakarta beserta kisah orang-orang yang hidup di dalamnya.

SAKSIKAN VIDIO ORIGINAL SERIES JAKARTA UNDERCOVER : MEMBERS ONLY MULAI JUMAT 7 AGUSTUS HANYA DI VIDIO!


More Recommendations

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini
NEWS

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic readingJakarta, 26 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. “Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru,” katanya.Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi “Perempuan dalam Karya Asrul Sani” membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, “Asrul Sani di Mata Generasi Muda” mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui “Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario”, yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi “Asrul Sani dan Inovasi Arsip” yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. “Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbuh Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonar (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.Seluruh rangkaian “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacounci

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
VIDEO
IP MAN : KUNG FU LEGEND Versi Ip Man Yang Berbeda Tapi Tetap Seru Di Nikmati
MOVIE
4.0

IP MAN : KUNG FU LEGEND Versi Ip Man Yang Berbeda Tapi Tetap Seru Di Nikmati

Nama Ip Man tentu sudah sangat melekat dengan sosok Donnie Yen melalui empat film yang sukses memperkenalkan seni bela diri Wing Chun kepada penonton

Abdul Haris 20 Jul 2026
PENGABDI	SETAN	3:	ORIGIN	Memasuki	Tahap	Produksi, Siap	Tayang	di	Bioskop	2027 Bakal Jadi Produksi Paling Ambisius Dari Sutradara Joko Anwar
NEWS

PENGABDI SETAN 3: ORIGIN Memasuki Tahap Produksi, Siap Tayang di Bioskop 2027 Bakal Jadi Produksi Paling Ambisius Dari Sutradara Joko Anwar

Barunson E&A, perusahaan hiburan Korea Selatan yang memproduksi film pemenang Academy Awards Parasite, bergabung sebagai international sales AgentJakarta, 1 September 2026 – Rapi Films dan Come and See Pictures, bekerja sama dengan Sky Media dan Legacy Pictures, mengumumkan bahwa Pengabdi Setan 3: Origin, film terbaru dari semesta Pengabdi Setan yang ditulis dan disutradarai oleh Joko Anwar, resmi memasuki tahap produksi dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 2027. Barunson E&A, perusahaan hiburan Korea Selatan yang memproduksi film pemenang Academy Awards Parasite, bergabung sebagai international sales agent untuk film ini.Pengabdi Setan 3: Origin akan membawa penonton kembali memasuki semesta yang dimulai melalui Pengabdi Setan (2017) dan berlanjut dalam Pengabdi Setan 2: Communion (2022). Setelah berbagai misteri, petunjuk, dan pertanyaan yang tersisa dari dua film sebelumnya, babak baru ini akan membawa penonton semakin dekat dengan asal dari semua yang telah terjadi. Semua jawaban bermula di sini.“Sejak Pengabdi Setan pertama, cerita ini memang tidak pernah dirancang untuk selesai dalam satu film. Ada banyak hal yang sengaja belum diceritakan dan banyak pertanyaan yang ditinggalkan untuk penonton. Sekarang waktunya kita mulai mencari tahu dari mana semuanya bermula,” ujar Joko Anwar, penulis dan sutradara Pengabdi Setan 3: Origin.Pengabdi Setan meraih lebih dari 4,2 juta penonton di Indonesia pada 2017. Lima tahun kemudian, Pengabdi Setan 2: Communion memperluas dunia dan misteri yang diperkenalkan dalam film pertama, sekaligus meninggalkan lebih banyak pertanyaan mengenai sekte serta sosok-sosok yang selama ini berada di balik berbagai peristiwa dalam semesta Pengabdi Setan terutama Darminah dan Batara. Kini, Pengabdi Setan 3: Origin akan membuka bagian dari dunia tersebut yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya. Film ketiga ini akan membawa semesta Pengabdi Setan ke ruang, waktu, dan skala cerita yang lebih luas, sekaligus membawa penonton semakin dekat pada asal-usul misteri yang menghubungkan ketiga film.“Pengabdi Setan telah tumbuh jauh melampaui apa yang kami bayangkan. Penonton tidak hanya mengikuti ceritanya, tetapi juga terus membicarakan, mencari petunjuk, dan membangun berbagai teori tentang dunia di dalamnya. Pengabdi Setan 3: Origin menjadi babak yang sangat penting dari perjalanan tersebut,” ujar Sunil Samtani, produser Rapi Films.Melanjutkan perjalanan Pengabdi Setan di panggung internasional, Barunson E&A akan menangani international sales untuk Pengabdi Setan 3: Origin. Kemitraan ini melanjutkan kerja sama Barunson E&A dengan Come and See Pictures dalam membawa karya-karya mereka ke pasar dan penonton global.Informasi mengenai cerita, jajaran pemain, serta proses produksi Pengabdi Setan 3: Origin akan diumumkan secara bertahap.Ikuti perkembangan Pengabdi Setan 3: Origin melalui akun-akun resmi media sosialnya.

Admin Kupas Tuntas Film 01 Sep 2026
MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!
MOVIE
3.0

MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!

Munafik: Melawan Iblis hadir sebagai film horor religi yang membawa kembali salah satu cerita horor populer asal Malaysia ke layar lebar Indonesia. Film ini digarap oleh Angger Yudha Setiawan dan Guntur Soeharjanto, dengan skenario yang ditulis oleh M. Ali Ghifari dan Syamsul Yusof.Sebagai sebuah remake dari film yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis memiliki tantangan tersendiri. Film tidak hanya dituntut untuk menghadirkan kembali elemen-elemen yang sudah dikenal oleh penggemar versi aslinya, tetapi juga harus mampu memberikan pengalaman yang tetap terasa relevan bagi penonton Indonesia. Untungnya, film ini cukup berhasil menjalankan tugas tersebut.Alur yang Sederhana tetapi Cukup KuatSalah satu hal yang membuat Munafik: Melawan Iblis menarik adalah bagaimana film ini membangun ceritanya dengan alur yang relatif sederhana, tetapi tetap mampu memberikan rasa penasaran.Film tidak mencoba memasukkan terlalu banyak konflik secara bersamaan. Cerita lebih banyak diarahkan pada perjalanan karakter dalam menghadapi gangguan supernatural sekaligus pergulatan batin yang mereka alami.Pendekatan tersebut membuat film terasa cukup mudah untuk diikuti. Penonton tidak dibuat terlalu sibuk memahami berbagai macam aturan dunia supernatural yang rumit. Sebaliknya, fokus utama tetap berada pada karakter, konflik spiritual, serta bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuan mereka. Sebagai sebuah remake, film ini juga masih mempertahankan identitas utama Munafik sebagai horor religi. Namun, sentuhan produksi Indonesia membuat film memiliki karakter tersendiri sehingga tidak sekadar terasa seperti memindahkan cerita dari satu negara ke negara lainnya.Akting Para Pemain yang Apik dan TotalKekuatan lain dari film ini terletak pada jajaran pemainnya.Arya Saloka sebagai Ustad Adam mampu memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai sosok yang harus berhadapan dengan konflik spiritual sekaligus persoalan dalam dirinya sendiri. Karakternya tidak hanya dituntut untuk tampil sebagai seorang tokoh agama yang kuat, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki ketakutan, keraguan, dan kelemahan.Sementara itu, Acha Septriasa memberikan performa yang cukup emosional sebagai Fitri. Ekspresi, gestur, dan perubahan emosinya mampu membuat karakter tersebut terasa hidup.Dimas Aditya juga tampil solid sebagai Ustad Anwar. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam dinamika cerita, terutama ketika film mulai mempertemukan persoalan agama, kepercayaan, dan teror supernatural. Begitu pula dengan Muhammad Faqih Alaydrus, Donny Damara, Nova Eliza, dan Izabel Jahja yang masing-masing memberikan penampilan yang cukup total terhadap karakter mereka.Menariknya, akting dalam film ini tidak hanya mengandalkan adegan teriakan atau ekspresi ketakutan. Beberapa adegan justru terasa lebih efektif ketika para pemain menampilkan ketakutan melalui ekspresi wajah, tatapan, maupun gestur tubuh.Hal tersebut membuat teror terasa lebih manusiawi dan tidak berlebihan.Make Up Horor yang Tidak BerlebihanSalah satu keputusan yang patut diapresiasi dari Munafik: Melawan Iblis adalah penggunaan make up horornya.Film tidak terlalu bergantung pada tampilan wajah menyeramkan yang berlebihan. Karakter-karakter yang mengalami gangguan supernatural tidak selalu dibuat dengan visual yang ekstrem atau penuh efek khusus.Pendekatan seperti ini justru membuat beberapa momen terasa lebih meyakinkan.Horor tidak harus selalu memperlihatkan sosok dengan wajah mengerikan. Terkadang, ekspresi manusia yang terlihat tidak normal, perubahan gestur tubuh, atau kehadiran sosok dalam kondisi yang tidak seharusnya sudah cukup untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Film ini memahami hal tersebut dan menggunakan make up horor secara cukup terukur.Atmosfer Horor yang “Sunyi” dan MencekamJika ada satu elemen yang cukup menonjol dari Munafik: Melawan Iblis, atmosfer horornya adalah salah satunya.Alih-alih terus-menerus memberikan kejutan atau jumpscare, film lebih banyak memanfaatkan kesunyian untuk membangun ketegangan. Ruang kosong, suasana malam, pencahayaan yang minim, serta momen ketika karakter berada dalam keadaan sendirian menjadi bagian penting dalam menciptakan rasa takut.Kesunyian tersebut justru membuat penonton merasa seperti sedang menunggu sesuatu terjadi.Dan ketika sebuah suara, gerakan, atau sosok akhirnya muncul, efeknya menjadi terasa lebih kuat karena ketegangan sudah dibangun sebelumnya.Pendekatan ini juga membuat horornya terasa lebih atmosferik. Penonton tidak hanya disuguhi sesuatu yang menakutkan secara visual, tetapi juga diajak merasakan ketidaknyamanan melalui suasana yang dibangun sepanjang film.Horor yang Tidak Hanya Berbicara Tentang IblisDi balik segala teror supernaturalnya, Munafik: Melawan Iblis sebenarnya membawa pembahasan yang lebih dalam mengenai manusia dan dirinya sendiri. Film tidak hanya menempatkan iblis sebagai sumber kejahatan yang harus dikalahkan. Konflik spiritual yang dihadirkan juga menjadi gambaran mengenai bagaimana manusia berhadapan dengan rasa takut, keraguan, dosa, kelemahan, dan berbagai sisi gelap dalam dirinya sendiri.Dari sinilah pesan moral film terasa cukup kuat:Kemenangan melawan iblis harus dimulai dari melawan diri sendiri.”Pesan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita.Sebab, sebelum manusia mampu menghadapi sesuatu yang berada di luar dirinya, mereka terlebih dahulu harus mampu mengalahkan ketakutan, kesombongan, keraguan, serta kelemahan yang ada di dalam diri. Dengan begitu, iblis dalam film ini tidak hanya dapat dimaknai sebagai sosok supernatural, tetapi juga sebagai simbol dari berbagai hal buruk yang dapat menguasai manusia ketika mereka kehilangan kendali atas dirinya sendiri.Remake yang Berhasil Memiliki Identitas SendiriSebagai film remake yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis tentu akan selalu dibandingkan dengan versi aslinya.Namun, film ini cukup berhasil berdiri dengan identitasnya sendiri.Kekuatan utamanya bukan terletak pada usaha untuk membuat sesuatu yang sepenuhnya berbeda, melainkan bagaimana cerita yang sudah dikenal dapat dikemas kembali dengan pendekatan produksi dan karakter yang sesuai dengan penonton Indonesia.Hasilnya adalah sebuah film horor religi yang masih memiliki nuansa Munafik, tetapi tetap terasa sebagai film yang memiliki wajah baru.Kesimpulan Munafik: Melawan Iblis merupakan remake horor religi yang cukup berhasil menghadirkan cerita dengan alur yang menarik dan mudah diikuti. Film ini tidak hanya mengandalkan teror supernatural, tetapi juga memberikan ruang yang cukup besar untuk perkembangan karakter dan konflik batin. Film ini mengajak penonton melihat bahwa terkadang musuh terbesar manusia bukanlah sesuatu yang berada di luar dirinya, melainkan kelemahan yang ada di dalam dirinya sendiri.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film bergenre Horor Religi & Supernatural, film ini cukup bagus dan sangat recommended untuk masuk ke watchlist kalian!

Rahmadandi Desky Prayuda 04 Sep 2026
VIDEO
‘Aku Sebelum Aku’ Sebuah Potret Pencarian Jati Diri dan Luka yang Kerap Tak Terucapkan
MOVIE
4.3

‘Aku Sebelum Aku’ Sebuah Potret Pencarian Jati Diri dan Luka yang Kerap Tak Terucapkan

Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai bertanya, "Apa yang selama ini aku lakukan benar-benar untuk diriku sendiri?"Pertanyaan itulah yang menjadi denyut utama dalam Aku Sebelum Aku (2026). Film terbaru garapan Gina S. Noer ini mengisahkan Jati, seorang remaja laki-laki yang tumbuh di bawah didikan ayah yang keras dan penuh ambisi terhadap masa depannya. Sedari kecil, hidup Jati seolah telah dipetakan tentang apa yang harus ia capai, seperti apa ia harus berkembang, hingga jalan hidup seperti apa yang dianggap terbaik untuknya.Sumber : NetflixPremis tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Tidak sedikit dari kita yang pernah berada di posisi Jati, berusaha memenuhi harapan orang tua, mengejar sesuatu karena dianggap "baik", hingga lupa menanyakan kepada diri sendiri apa yang sebenarnya diinginkan.SinopsisFilm Aku Sebelum Aku mengisahkan Jati (Bima Sena), seorang remaja SMP dengan segudang prestasi yang tampak sempurna di kalangan anak sepantarannya. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan kecemasan akibat tuntutan yang diberikan oleh ayahnya, Jaya (Ringgo Agus Rahman). Alhasil, sebuah momen tak terduga menjadi hasil bom waktu akibat kecemasan yang lama ia pendam. Serangan panik yang berakhir mendatangkannya ke dalam perjalanan juga petualangan nan historis dari lingkungan baru.Tempat Untuk Pulang yang Seringkali Menjadi Sumber LukaSalah satu kekuatan terbesar Aku Sebelum Aku terletak pada bagaimana film ini membangun dinamika hubungan antara Jati dan sang ayah. Konflik yang dihadirkan tidak menempatkan salah satu pihak sebagai sosok yang sepenuhnya benar atau salah. Sebaliknya, film memperlihatkan bagaimana cinta dan perhatian terkadang hadir dalam bentuk yang keliru, menciptakan jarak emosional yang perlahan menjadi luka bagi kedua belah pihak.Sumber : NetflixMelalui hubungan tersebut, film mengajak penonton memahami bahwa setiap anggota keluarga membawa harapan, ketakutan, dan caranya masing-masing dalam menunjukkan kasih sayang. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, niat baik pun dapat berubah menjadi tekanan yang membebani.Pendekatan seperti ini membuat konflik keluarga dalam film terasa begitu manusiawi. Banyak momen yang mungkin akan terasa dekat bagi sebagian penonton, terutama mereka yang pernah berada di persimpangan antara memenuhi ekspektasi orang tua dan menemukan jalan hidupnya sendiri.Membuka Ruang Diskusi Tentang Kesehatan Mental dan Sudut Pandang TerbukaDi balik kisah yang diusung, Aku Sebelum Aku juga menyinggung berbagai isu yang relevan dengan kehidupan saat ini, salah satunya mengenai kesehatan mental. Film ini mengajak penonton untuk melihat bahwa pergulatan batin seseorang seringkali jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.Gina S. Noer menghadirkan berbagai sudut pandang yang mendorong penonton untuk lebih terbuka dan berempati terhadap pengalaman orang lain. Alih-alih menawarkan jawaban yang hitam dan putih, film ini justru memberikan ruang untuk berdiskusi, memahami, dan mempertimbangkan perspektif yang mungkin berbeda dari pengalaman pribadi masing-masing.Sumber : NetflixPendekatan tersebut menjadikan Aku Sebelum Aku terasa lebih dari sekadar kisah tentang pencarian jati diri. Film ini juga menjadi pengingat bahwa memahami seseorang seringkali membutuhkan rasa kesediaan untuk mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.Gina S. Noer dalam Meramu Kisah Coming-of-AgeDalam beberapa tahun terakhir, Gina S. Noer menunjukkan konsistensinya dalam menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan pengalaman manusia dan penuh nuansa emosional. Di Aku Sebelum Aku, ia kembali memperlihatkan kemampuannya dalam mengembangkan narasi coming-of-age yang terasa hangat, personal, dan membumi.Konflik yang dibangun berkembang secara natural hingga mencapai penyelesaiannya. Film tidak terburu-buru dalam menyampaikan pesan dengan membiarkan penonton bertumbuh bersama para karakternya dan memahami setiap keputusan yang mereka ambil.Sumber : NetflixPendekatan yang intim tersebut membuat perjalanan Jati terasa autentik, sekaligus memperkuat tema utama film mengenai pencarian identitas dan keberanian untuk mengenal diri sendiri.KesimpulanPada akhirnya, Aku Sebelum Aku bukan sekadar film tentang seorang remaja yang berkonflik dengan ayahnya. Film ini merupakan refleksi mengenai hubungan keluarga, ekspektasi, dan perjalanan panjang untuk memahami siapa diri kita sebenarnya di tengah berbagai tuntutan yang datang dari luar.Dengan premis yang dekat dengan kehidupan banyak orang, penyutradaraan yang matang dari Gina S. Noer, serta keberaniannya mengangkat isu kesehatan mental dan pentingnya empati, Aku Sebelum Aku berhasil menjadi tontonan yang hangat sekaligus mengundang perenungan. Lebih dari itu, film ini terasa cocok untuk ditonton bersama keluarga atau menjadi bahan diskusi dengan orang-orang terdekat.Sumber : NetflixFilm Aku Sebelum Aku sudah dapat ditonton di situs resmi Netflix!

Rachmatya Shabrina Ramadhani 17 Jul 2026
Ketika Calon Gubernur Tak Bisa Lagi Berbohong, Pencitraan Mulai Berantakan!
NEWS

Ketika Calon Gubernur Tak Bisa Lagi Berbohong, Pencitraan Mulai Berantakan!

Teaser Trailer BAPAK PALING JUJUR Perlihatkan Kekacauan Jonas Prakoso di Tengah Kampanye. Jakarta, 3 September 2026 — Apa jadinya kalau seorang calon gubernur tiba-tiba tidak bisaberbohong? Pertanyaan sederhana itu menjadi awal kekacauan dalam BAPAK PALING JUJUR, film komedi karya sutradara Fajar Nugros yang hari ini merilis teaser trailer resminya. Film ini akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 15 Oktober 2026.Di film ini, Jonas Prakoso (Andovi da Lopez) adalah calon gubernur yang tahu betul bagaimana memenangkan hati rakyat. Ia punya program, janji kampanye, strategi, dan tentu saja citra yang harus dijaga. Semuanya disiapkan agar terlihat meyakinkan di depan publik.Sampai sebuah kutukan dari neneknya membuat Jonas tidak bisa lagi berbohong. Tidak bisa mengelak. Tidak bisa memberi jawaban aman. Tidak bisa mengatakan apa yang seharusnya dikatakan hanya demi menjaga citra. Apa yang ada di kepala, keluar begitu saja.Dan masalahnya, kejujuran tidak selalu enak didengar.Dalam teaser trailer, kutukan tersebut mulai membuat hidup Jonas berantakan. Di tengah kampanye, apa yang seharusnya menjadi janji dan pencitraan justru berubah menjadi pengakuan yang tidak pernah direncanakan. Bahkan di rumah, kejujuran Jonas mulai menimbulkan masalah dengan istrinya, Vanny (Claresta Taufan).Jonas yang selama ini tahu bagaimana mengontrol citranya, kini tidak lagi bisa mengontrol mulutnya sendiri. Dan di situlah kekacauan Jonas benar-benar dimulai. Karena ternyata, berkata jujur terus-terusan juga bukan perkara mudah.“Teaser ini baru awalnya. Yang menarik justru apa yang terjadi setelah Jonas nggak bisa bohong lagi. Kalau seorang calon pemimpin benar-benar harus ngomong jujur setiap saat, kira-kira hidupnya bakal lebih baik atau malah makin kacau?” ujar Aoura Lovenson Chandra, Produser BAPAK PALING JUJUR.“Situasi Jonas memang absurd, tapi justru itu yang membuatnya menarik. Kami nggak ingin menggurui atau menghakimi siapa pun. Kami ingin penonton melihat situasi yang konyol, tertawa, lalu mungkin sadar bahwa apa yang mereka tertawakan sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka sendiri.” ujar Fajar Nugros, Sutradara BAPAK PALING JUJUR.Disutradarai oleh Fajar Nugros, BAPAK PALING JUJUR diadaptasi dari film Korea Selatan Honest Candidate. Film ini dibintangi oleh Andovi da Lopez, Claresta Taufan, Benedictus Siregar, Soleh Solihun, Nayla Purnama, David Nurbianto, Lolox, Cing Abdel, TJ Ruth, Indy Barends, Akim Bagil, Mr. Keminggris, Rizki N. Firmansyah, Jeremy Teti, Elwina Ceritain, Mieke Shahir dan deretan pemain lainnya.BAPAK PALING JUJUR merupakan film ketiga Cahaya Pictures setelah Satu Imam Dua Makmum dan Pesugihan Sate Gagak. Informasi terbaru mengenai film BAPAK PALING JUJUR dapat diikuti melalui akun Instagram @cahayapictures_id dan TikTok @cahayapicturesidBAPAK PALING JUJUR tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 15 Oktober 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
Ketika Sebuah Rumah Menjadi Tempat Untuk Menemukan Harapan
MOVIE
3.0

Ketika Sebuah Rumah Menjadi Tempat Untuk Menemukan Harapan

Rumah Singgah hadir sebagai film drama yang tidak hanya mengandalkan konflik emosional, tetapi juga berusaha memberikan ruang bagi hampir setiap tokohnya untuk memiliki cerita masing-masing. Digara​​p oleh Dyan Sunu Prastowo dan ditulis oleh Celvin Jaya Hadi, Raditya Kurnia, dan Aryo Wibianto, film ini menawarkan kisah tentang manusia, hubungan, serta arti sebuah tempat yang perlahan bisa berubah menjadi rumah bagi orang-orang yang sedang membutuhkan tempat untuk pulang.Sejak awal, film ini mampu membangun cerita dengan unsur drama yang cukup kuat. Menariknya, Rumah Singgah tidak hanya berfokus pada satu karakter utama, tetapi memberikan kesempatan kepada sejumlah tokohnya untuk diperkenalkan lebih jauh. Masing-masing memiliki latar belakang, persoalan, dan perjalanan emosional yang membuat keberadaan mereka terasa penting terhadap keseluruhan cerita.Pendekatan tersebut membuat film terasa lebih manusiawi. Penonton tidak hanya diajak mengikuti satu konflik, tetapi juga melihat bagaimana berbagai karakter dengan permasalahan masing-masing bisa saling bertemu, berinteraksi, dan memberikan pengaruh satu sama lain.Bukan Sekadar Tempat PersinggahanSalah satu kekuatan terbesar Rumah Singgah justru terdapat pada judulnya. “Rumah Singgah” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat untuk tinggal sementara.Rumah dalam film ini menjadi ruang tempat para pasien menemukan sesuatu yang mungkin selama ini mereka butuhkan: keluarga, persahabatan, cinta, harapan, dan alasan untuk tetap tersenyum.Mereka mungkin datang sebagai orang-orang yang sedang berada dalam kondisi sulit, tetapi rumah tersebut perlahan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang membuat perjalanan hidup terasa sedikit lebih ringan. Dari sinilah film menunjukkan bahwa rumah tidak selalu berbicara tentang bangunan atau tempat tinggal.Rumah bisa berarti orang-orang yang membuat kita merasa diterima.Makna tersebut menjadi salah satu pesan emosional yang membuat Rumah Singgah terasa dekat dengan kehidupan. Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan solusi besar untuk menghadapi masalahnya. Terkadang, kehadiran orang lain, sebuah percakapan sederhana, persahabatan, atau bahkan tawa kecil sudah cukup untuk memberikan alasan agar seseorang terus bertahan.Akting & Chemistry Dari Para Pemain Yang BagusFilm ini dibintangi oleh Adhisty Zara sebagai Karla, Devano Danendra sebagai Luki, Ciccio Manassero sebagai Toni, dan Messi Gusti sebagai Pika.Keempatnya mampu memberikan warna berbeda terhadap cerita. Adhisty Zara tampil dengan pembawaan emosional yang mampu membawa penonton lebih dekat dengan karakter Karla. Sementara Devano Danendra memberikan keseimbangan melalui karakter Luki yang memiliki dinamika tersendiri dalam cerita.Chemistry antara para pemain juga menjadi salah satu aspek yang membuat film terasa hidup. Hubungan antarkarakter tidak terasa sekadar dibuat untuk kebutuhan cerita, tetapi berkembang melalui interaksi dan berbagai momen yang mereka lalui bersama.Yang menarik, kekuatan akting film ini tidak hanya berasal dari pemeran utamanya. Para pemain pendukung seperti Aming, Dewi Irawan, Alex Abbad, dan Marthino Lio turut memberikan kontribusi besar terhadap atmosfer emosional film.Kehadiran mereka membuat cerita memiliki lapisan emosi yang lebih luas. Beberapa karakter pendukung bahkan mampu mencuri perhatian melalui ekspresi, dialog, maupun interaksi mereka dengan karakter lainnya.Unsur Drama & Komedi yang Berjalan SeimbangMeski membawa tema yang cukup emosional, Rumah Singgah tidak menjadikan dirinya sebagai film drama yang terus-menerus serius.Unsur komedi disisipkan di beberapa bagian dengan cukup baik sehingga film tidak terasa berat ataupun membosankan. Momen-momen ringan tersebut memberikan jeda dari konflik emosional yang sedang berlangsung.Perpaduan antara drama dan komedi ini menjadi salah satu alasan mengapa film tetap terasa nyaman untuk diikuti. Ketika cerita mulai membawa penonton ke situasi yang emosional, humor hadir untuk memberikan sedikit ruang bernapas sebelum cerita kembali membawa penonton kepada konflik utamanya.Keseimbangan tersebut juga terasa penting karena tema yang diangkat sebenarnya cukup sensitif dan emosional. Dengan adanya komedi, film tidak terasa terlalu melodramatis.Punya Sinematografi Yang Cukup BagusDari sisi visual, Rumah Singgah memiliki sinematografi yang cukup baik dalam mendukung suasana cerita. Pengambilan gambar tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi turut membantu membangun atmosfer emosional di beberapa adegan.Salah satu bagian yang cukup menarik adalah scene origami. Adegan tersebut memiliki nilai visual sekaligus emosional yang kuat. Origami yang secara sederhana merupakan aktivitas melipat kertas dapat terasa memiliki makna lebih besar ketika ditempatkan dalam konteks cerita.Visual pada bagian tersebut menjadi salah satu momen yang menunjukkan bahwa Rumah Singgah tidak hanya ingin bercerita melalui dialog. Ada beberapa hal yang disampaikan melalui gambar, gestur, serta objek yang digunakan oleh karakter.Keluarga Bukan Hanya Tentang Ikatan DarahRumah Singgah bukan hanya film mengenai para pasien dan tempat mereka tinggal sementara. Film ini berbicara tentang bagaimana manusia bisa menemukan keluarga di tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.Keluarga dalam film ini tidak selalu hadir melalui hubungan darah. Ia dapat terbentuk melalui persahabatan, kepedulian, kasih sayang, dan keberanian untuk hadir bagi seseorang ketika mereka sedang berada di titik terendah.Film ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu terlihat dari luar. Di balik seseorang yang terlihat kuat, bisa saja terdapat perjuangan yang sangat berat. Karena itu, sedikit perhatian dan kepedulian dari orang lain terkadang bisa memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.KesimpulanSecara keseluruhan, Rumah Singgah merupakan film drama yang berhasil menggabungkan cerita emosional, persahabatan, keluarga, cinta, serta komedi dengan cukup baik. Keputusan untuk memberikan cerita kepada hampir setiap karakter membuat dunia film terasa lebih luas dan membuat penonton memiliki kesempatan untuk memahami perjalanan masing-masing tokoh.Akting dan chemistry para pemain juga menjadi kekuatan utama, ditambah dengan sinematografi yang cukup menarik, mRumah Singgah mampu memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh.Film ini ingin menyampaikan pesan bahwa rumah tidak selalu berarti tempat untuk kembali. Terkadang, rumah adalah tempat di mana kita menemukan orang-orang yang membuat kita kembali memiliki alasan untuk berharap.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bergenre drama, persahabatan, dan keluarga , film ini bisa jadi tonton wajib buat kalian.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Aug 2026