Logo KTF KupasTuntasFilm

KlikFilm Hadirkan Deretan Film Drama, Komedi, dan Thriller yang Wajib Masuk Watchlist Di Bulan Agustus Ini.

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 59 views

Bagi para pencinta film klasik, Agustus 2026 menjadi bulan yang penuh nostalgia. Platform streaming KlikFilm dikabarkan akan menghadirkan deretan film-film legendaris era 1980-an yang pernah menghiasi layar bioskop dan televisi Indonesia. Kehadiran film-film ini menjadi kesempatan langka bagi penonton untuk kembali menikmati karya-karya yang membentuk sejarah perfilman dunia.

Era 1980-an dikenal sebagai salah satu periode paling berpengaruh dalam dunia perfilman. Banyak film dari dekade ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga menjadi ikon budaya pop yang terus dikenang hingga sekarang. Dari petualangan, aksi, komedi, hingga drama keluarga, film-film klasik tersebut memiliki daya tarik yang tetap hidup meski telah puluhan tahun berlalu.

Berikut List Film Yang Akan Tayang Di bulan Agustus Dan Bisa Kalian Streaming di KLIKFILM

1. Fight Club ( 1999 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Seorang pekerja kantoran yang stres akibat insomnia, mendirikan klub pertarungan rahasia, dan mengalami konflik identitas psikologis.

2. Dangerous Beauty ( 1998 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Menceritakan kisah nyata Veronica Franco di Venesia abad ke-16 yang memilih menjadi wanita penghibur terhormat demi bertahan hidup dan mengejar kebebasan intelektual.


3. Brazil ( 1985 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Menceritakan kisah Sam Lowry, seorang birokrat rendahan di dunia distopia yang represif. Ia sering bermimpi menjadi pahlawan yang menyelamatkan wanita misterius, lalu terjebak dalam kekacauan birokrasi akibat salah tangkap.


4. Runway Jury ( 2003 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Seorang produsen senjata merekrut seorang konsultan juri demi mendapatkan keputusan yang menguntungkan di persidangan penting, tetapi dua penipu ulung punya rencana lain.


5. A Time To Kill ( 1996 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Film A Time to Kill adalah drama hukum tahun 1996 tentang seorang ayah kulit hitam yang menembak dua pria kulit putih pemerkosa anaknya, serta perjuangan pengacaranya di pengadilan. Film ini menyoroti rasisme, balas dendam, dan arti keadilan.


6. Natural Born Killers ( 1994 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Mickey Knox dan Mallory Knox, sepasang kekasih psikopat yang melakukan perjalanan brutal dan pembunuhan massal, yang kemudian dijadikan tontonan sensasional serta dielu-elukan oleh media massa.


7. L.A. Confidental ( 1997 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

film neo-noir tahun 1997 yang menceritakan investigasi kasus pembunuhan berdarah di sebuah kafe. Penyelidikan ini dipimpin oleh tiga petugas LAPD dengan latar belakang berbeda, yaitu Ed Exley, Bud White, dan Jack Vincennes. Kasus tersebut akhirnya membongkar skandal besar, jaringan pelacuran kelas atas, serta korupsi di dalam tubuh kepolisian Los Angeles.


8. This Boy's Life ( 1993 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

This Boy's Life adalah film drama biografi tahun 1993 yang menceritakan kisah nyata masa remaja penulis Tobias "Toby" Wolff, hubungan penuh konflik dengan ayah tirinya yang kasar, serta perjuangannya bersama sang ibu untuk mencari kehidupan yang lebih baik


9. Heat ( 1995 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Perburuan sengit antara detektif veteran Vincent Hanna (Al Pacino) dan perampok ulung Neil McCauley (Robert De Niro) di Los Angeles. Keduanya adalah profesional cerdas yang saling menghormati, namun harus berada di sisi hukum yang berlawanan.


10. JFK ( 1991 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Menceritakan tentang investigasi pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy serta teori konspirasi di baliknya. Film ini menyoroti kisah nyata seorang jaksa wilayah New Orleans bernama Jim Garrison.


11. The King Of Comedy ( 1982 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

The King of Comedy adalah film komedi hitam satir tahun 1982 arahan Martin Scorsese yang menceritakan tentang Rupert Pupkin, seorang komedian amatir delusi yang terobsesi pada ketenaran dan menculik idolanya, pembawa acara talk show terkenal bernama Jerry Langford, demi mendapat kesempatan tampil di televisi.


12. Once Upon A Time In America ( 1984 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Film Once Upon a Time in America (1984) adalah film drama kriminal epik yang mengisahkan perjalanan hidup, persahabatan, pengkhianatan, dan kejatuhan sekelompok gangster Yahudi di New York dari era 1920-an hingga 1960-an.


13. The Negotiator ( 1998 )

Coutesy : Instagram/klikfilm

Film The Negotiator (1998) menceritakan tentang Danny Roman, seorang ahli perunding sandera polisi yang dijebak dalam kasus korupsi dan pembunuhan. Untuk membersihkan namanya, ia terpaksa menyandera orang di gedung pemerintah dan meminta perunding lain bernama Chris Sabian untuk membongkar konspirasi busuk di kepolisian.

Dengan deretan film pilihan dari berbagai genre, mulai dari drama emosional, komedi segar, thriller menegangkan, hingga film-film klasik yang penuh nostalgia, KlikFilm menghadirkan tontonan yang siap menemani sepanjang Agustus 2026. Kehadiran judul-judul menarik ini menjadi bukti bahwa platform streaming lokal terus menghadirkan pilihan berkualitas bagi penonton Indonesia.

Bagi pecinta film, bulan Agustus bukan hanya soal mencari hiburan, tetapi juga kesempatan menikmati beragam cerita yang mampu mengundang tawa, haru, dan ketegangan dalam satu layar. Jadi, siapkan waktu luangmu dan jangan lewatkan film-film yang akan mulai tayang eksklusif di KlikFilm sepanjang bulan ini.

Pantau terus KupasTuntasFilmID untuk update jadwal tayang, review film terbaru, serta rekomendasi tontonan terbaik setiap minggunya. 🎬✨


Siapa yang tidak kenal dengan Dilan? Karakter fiksi legendaris dengan gombalan ikoniknya yang sukses membuat jutaan pencinta sinema tanah air gagal move on.

Setelah sukses besar menciptakan semesta Dilan yang fenomenal, sang kreator, Ayah Pidi Baiq, kini bersiap kembali menggetarkan hati penonton lewat karya terbarunya yang siap difilmkan: ‘Dan Bandung’

Lahir dari rumah produksi Verona Films, proyek ini langsung memicu pertanyaan besar di kalangan pencinta film: Akankah kisah cinta di film ini menjadi 'The Next Dilan'?

Bukan Sekadar Cinta Remaja, Ini Kisah Benturan Dua Dunia

Jika Dilan lekat dengan romansa masa SMA yang puitis dan jenaka, ‘Dan Bandung’ menawarkan dinamika konflik yang terasa lebih dewasa, intens, dan relatable. Film ini berfokus pada perjalanan asmara Basil (Samo Rafael) dan Elma (Shanna Shannon), sepasang anak muda yang saling jatuh cinta namun terhadang oleh tembok besar bernama perbedaan kasta sosial.

Basil lahir dan tumbuh di lingkungan yang sangat sederhana. Hidupnya tidak mudah, apalagi ia harus menghadapi realitas pahit bahwa ayahnya tengah mendekam di balik jeruji besi. Sebaliknya, Elma hidup di dunia yang bertolak belakang. Ia terlahir sebagai putri dari keluarga kaya raya dan berkuasa.

Namun, gelimang harta itu harus dibayar mahal dengan kebebasannya yang terenggut akibat aturan strict parents yang sangat mengekangnya. Pertemuan Basil dan Elma adalah awal dari sebuah ruang sunyi yang mereka ciptakan sendiri demi mempertahankan perasaan mereka dari penolakan dunia luar.

Saat Masterminds Romansa Indonesia Bersatu: Kreator Dilan x Sutradara AADC

Langkah Verona Films dalam menghidupkan novel ini pun terbilang tak main-main.

Proyek ‘Dan Bandung’ secara mengejutkan berhasil menggandeng Rudi Soedjarwo, sutradara legendaris di balik mahakarya romansa remaja sepanjang masa, Ada Apa Dengan Cinta? (AADC). Ini menjadi momen comeback yang paling dinantikan dari Rudi Soedjarwo untuk kembali menggarap film drama romansa anak muda setelah sekian lama.

Kolaborasi dua isi kepala jenius ini melahirkan optimisme besar, termasuk dari Pidi Baiq sendiri yang mengaku sangat puas dengan proses adaptasi ini. "Saya percaya banget sama Mas Rudi buat menggarap ini. Dari awal sudah percaya, pas saya datang ke lokasi syuting dan lihat langsung, tambah percaya lagi!" ungkap Ayah Pidi Baiq antusias.

Bayangkan saja, dialog-dialog manis nan autentik khas Pidi Baiq berpadu dengan penyutradaraan Rudi Soedjarwo yang terkenal memiliki sentuhan realis, emosional, dan magis. Kolaborasi inilah yang membuat Dan Bandung punya fondasi kuat untuk menjadi ikon baru romansa sinema Indonesia.

Paket Komplit Romantisme Kota Kembang dan Jajaran Bintang Lintas Generasi

Sesuai dengan judulnya, film ini menjadikan Kota Bandung bukan sekadar sebagai latar belakang tempat, melainkan saksi bisu yang ikut bernyawa dalam menghidupkan kisah cinta Basil dan Elma. Penonton akan diajak menyusuri berbagai sudut dan lokasi familiar yang kental akan nuansa romantis.

Bagi kalian yang ingin bernostalgia atau merindukan momen-momen manis yang pernah tercipta di Kota Kembang, film ini dipastikan akan menjadi penawar rindu yangsempurna.

Daya tarik film ini kian lengkap berkat performa jajaran ensemble cast yang solid. Selain kekuatan chemistry Samo Rafael dan Shanna Shannon, penonton juga akan disuguhkan akting memukau dari bintang muda dan aktor senior seperti Keisya Levronka, Razan Zu, Theo Supple, Arswendy Bening Swara, Donny Damara, Jenny Zhang, Paul Aro, Nugie, hingga Tike Priatnakusumah.

Apakah Basil dan Elma mampu menembus batasan kasta mereka dan bertahan di bawah romantisnya langit Bandung?


Jawabannya bisa kamu temukan segera. ‘Dan Bandung’ dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026. Supaya tidak ketinggalan informasi terbaru, update konten eksklusif, hingga peluncuran soundtrack, pastikan kamu sudah mengikuti akun media sosial resmi mereka di @filmdanbandung!


More Recommendations

VIDEO
Remake Julia’s Eyes (2010) dengan Sentuhan Korea yang Mencekam !
MOVIE
4.0

Remake Julia’s Eyes (2010) dengan Sentuhan Korea yang Mencekam !

Industri perfilman Korea Selatan kembali menghadirkan adaptasi yang menarik lewat The Eyes (2026), film thriller psikologis garapan sekaligus ditulis oleh Yeom Ji-ho. Film ini merupakan remake dari film Spanyol Julia’s Eyes (2010) yang sempat menuai pujian berkat kisah misterinya yang menegangkan dan atmosfer psikologis yang kuat. Meski mengikuti garis besar cerita versi aslinya, The Eyes berhasil menghadirkan identitas tersendiri melalui pendekatan visual yang lebih modern, nuansa emosional yang lebih dalam, serta penampilan para pemain yang sangat meyakinkan.Sejak awal, film ini tidak berusaha menyembunyikan akar ceritanya sebagai remake. Justru, Yeom Ji-ho memanfaatkan fondasi cerita Julia’s Eyes untuk menghadirkan pengalaman yang terasa segar bagi penonton baru, sekaligus memberikan interpretasi baru bagi mereka yang sudah mengenal versi Spanyolnya.Shin Min-a Tampil Luar Biasa dalam Peran GandaDaya tarik terbesar film ini tentu berada di tangan Shin Min-a, yang memerankan saudara kembar identik Seo Jin dan Seo In. Memainkan dua karakter yang memiliki wajah sama tetapi kepribadian, emosi, dan perjalanan hidup berbeda bukanlah pekerjaan mudah, namun Shin Min-a mampu melakukannya dengan sangat meyakinkan.Perbedaan karakter keduanya terasa alami tanpa dibuat berlebihan. Melalui ekspresi, intonasi suara, hingga bahasa tubuh, Shin Min-a berhasil membuat penonton langsung mengenali siapa yang sedang muncul di layar meskipun keduanya memiliki wajah yang identik. Penampilannya menjadi pusat emosional film sekaligus alasan mengapa misteri yang dibangun terasa begitu kuat.Chemistry antar pemain juga berjalan sangat solid.Kim Nam-hee sebagai Detektif Do Hyeok tampil tenang namun penuh rasa penasaran, menjadi sosok yang perlahan membantu mengurai misteri. Sementara Kim Young-ah sebagai Detektif Mi Gyeong memberikan dinamika berbeda dalam proses investigasiKehadiran Lee Seung-woo sebagai Hyeon Min pun menjadi salah satu elemen yang membuat ketegangan terus meningkat. Karakternya dibangun secara perlahan hingga meninggalkan kesan yang mengganggu tanpa perlu tampil berlebihan.Misteri yang Terus Membuat Penonton MenebakSalah satu kekuatan terbesar The Eyes adalah cara film ini membangun misteri. Ceritanya tidak memberikan jawaban secara instan, melainkan mengajak penonton menyusun potongan demi potongan teka-teki bersama karakter utama.Setiap petunjuk yang muncul sering kali memunculkan pertanyaan baru, membuat alur cerita sulit ditebak hingga menjelang akhir film. Penonton akan terus dibuat mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya, apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana seluruh kepingan misteri saling terhubung.Ritme seperti ini membuat film terasa sangat efektif sebagai thriller investigasi. Ketegangan lahir bukan dari adegan kejar-kejaran atau aksi berlebihan, melainkan dari rasa penasaran yang terus dipelihara sepanjang durasi.Konsep “Melihat dan Tidak Melihat” yang Menjadi Kekuatan CeritaYang membuat The Eyes berbeda dari thriller kebanyakan adalah penggunaan konsep “melihat dan tidak melihat."Film ini memanfaatkan keterbatasan penglihatan karakter utama sebagai bagian penting dari penceritaan. Penonton diajak merasakan bagaimana sulitnya membedakan kenyataan, firasat, hingga ancaman yang mungkin berada sangat dekat.Konsep tersebut tidak hanya menjadi gimmick visual, tetapi juga menjadi metafora mengenai bagaimana manusia sering kali gagal melihat kebenaran meskipun bukti sebenarnya berada tepat di depan mata. Pendekatan ini membuat pengalaman menonton terasa lebih imersif sekaligus meningkatkan rasa cemas sepanjang film.Sinematografinya pun mendukung konsep tersebut dengan sangat baik. Permainan fokus kamera, pencahayaan redup, sudut pengambilan gambar, hingga penggunaan ruang kosong berhasil menciptakan suasana yang membuat penonton merasa tidak pernah benar-benar aman.Thriller Psikologis yang Mengandalkan Atmosfer, Bukan JumpscareBagi penonton yang mengharapkan film horor penuh kejutan, The Eyes mungkin akan terasa berbeda. Film ini lebih memilih jalur thriller psikologis dibandingkan horor konvensional.Ketegangannya dibangun melalui suasana sunyi, rasa diawasi, tekanan mental, dan kecemasan yang perlahan meningkat dari satu adegan ke adegan berikutnya. Jumpscare memang ada, tetapi digunakan seperlunya sehingga tidak menjadi senjata utama film.Pendekatan ini justru membuat ketakutan yang muncul terasa lebih bertahan lama karena berasal dari kondisi psikologis karakter, bukan sekadar efek kejut sesaat.Remake yang Tetap Menghormati Versi AslinyaSebagai remake, The Eyes cukup setia terhadap inti cerita Julia’s Eyes (2010). Premis, struktur misteri, dan tema utamanya masih dipertahankan, tetapi Yeom Ji-ho memberikan sentuhan baru melalui pendekatan visual khas Korea, ritme yang lebih modern, serta pengembangan emosi karakter yang lebih kuat.Untuk SOBAT KTF yang belum pernah menyaksikan versi Spanyolnya, film ini akan menjadi thriller misteri yang sangat memikat. Sementara bagi penggemar Julia’s Eyes, adaptasi ini menawarkan pengalaman baru tanpa menghilangkan esensi yang membuat cerita aslinya begitu dikenang.KesimpulanThe Eyes (2026) merupakan contoh remake yang berhasil menghormati materi sumber sekaligus menghadirkan identitas baru. Didukung penyutradaraan yang matang dari Yeom Ji-ho, penampilan luar biasa Shin Min-a dalam peran ganda, akting solid dari seluruh pemain, serta cerita penuh teka-teki yang terus membuat penonton berpikir, film ini berhasil menjadi thriller psikologis yang efektif dan memikat.Alih-alih mengandalkan horor konvensional, film ini mengajak penonton larut dalam rasa cemas melalui konsep “melihat dan tidak melihat”, membangun misteri secara perlahan hingga mencapai klimaks yang memuaskan.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bertema thriller psikologis atau film misteri yang penuh intrik dengan atmosfer mencekam, The Eyes (2026) adalah salah satu remake yang layak untuk ditonton!!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026
VIDEO
Spider-Man: Brand New Day  Kembalinya Peter Parker yang Lebih Dewasa, Emosional, dan Penuh Misteri
MOVIE
4.5

Spider-Man: Brand New Day Kembalinya Peter Parker yang Lebih Dewasa, Emosional, dan Penuh Misteri

Setelah sukses besar trilogi Spider-Man sebelumnya yang disutradarai oleh Jon Watts, kini tongkat estafet diberikan kepada sutradara baru, Destin Daniel Cretton, yang sebelumnya dikenal lewat film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021). Bersama naskah yang ditulis oleh Chris McKenna, Erik Sommers, dan Stan Lee, Spider-Man: Brand New Day (2026) hadir sebagai babak baru dalam perjalanan Peter Parker versi Tom Holland.Setelah penantian selama lima tahun sejak Spider-Man: No Way Home (2021), film keempat ini berhasil menjawab rasa rindu para penggemar dengan menghadirkan kisah yang lebih dewasa, emosional, sekaligus penuh kejutan. Film ini masih dibintangi oleh Tom Holland sebagai Peter Parker/Spider-Man, Zendaya sebagai MJ, dan Jacob Batalon sebagai Ned Leeds.Konflik Peter Parker yang Sangat Relate dengan PenontonSalah satu kekuatan terbesar Spider-Man: Brand New Day terletak pada bagaimana Destin Daniel Cretton dan para penulis mampu membangun cerita yang terasa sangat dekat dengan kehidupan penonton. Film ini tidak hanya berbicara tentang seorang pahlawan super yang menyelamatkan kota, tetapi juga tentang pergulatan batin seorang pemuda yang berusaha menemukan jati dirinya.Konflik internal Peter Parker menjadi inti utama cerita. Beban sebagai Spider-Man, rasa kehilangan, serta perjuangannya untuk menjalani kehidupan normal membuat karakter Peter terasa semakin manusiawi. Hubungannya dengan MJ juga digambarkan dengan sangat emosional, memperlihatkan bagaimana cinta bisa menjadi sumber kekuatan sekaligus luka yang mendalam.Di sisi lain, persahabatan Peter dengan Ned kembali menjadi elemen penting yang memberikan sentuhan hangat di tengah berbagai konflik besar yang terjadi. Dinamika ketiganya terasa begitu natural hingga penonton benar-benar dapat merasakan apa yang sedang dirasakan Peter Parker sepanjang film.Penampilan Para Pemain yang Semakin MatangTom Holland kembali membuktikan bahwa dirinya adalah sosok yang tepat untuk memerankan Peter Parker. Penampilannya dalam film ini terasa jauh lebih dewasa dibandingkan trilogi sebelumnya. Ia mampu menampilkan sisi rapuh, kebingungan, hingga keberanian Peter dengan sangat meyakinkan.Zendaya juga tampil luar biasa sebagai MJ. Karakternya kini memiliki kedalaman emosi yang lebih kuat, sementara chemistry antara dirinya dan Tom Holland kembali menjadi salah satu aspek terbaik dalam film ini.Tak kalah menarik, Jacob Batalon sebagai Ned Leeds berhasil memberikan keseimbangan antara humor dan drama. Interaksi antara Tom Holland, Zendaya, dan Jacob Batalon menjadi salah satu alasan mengapa film ini terasa begitu hidup. Chemistry mereka benar-benar membuat penonton seolah ikut terlibat dalam perjalanan emosional Peter Parker.Sementara itu, kehadiran Jon Bernthal sebagai Frank Castle/Punisher dan Florence Pugh sebagai Yelena Belova memberikan warna baru yang menarik. Kedua karakter tersebut membawa nuansa yang lebih gelap sekaligus memperluas dunia Spider-Man ke arah yang lebih besar.Visual Spektakuler & Nuansa Komik yang KentalDari segi sinematografi dan efek visual, Spider-Man: Brand New Day berhasil menghadirkan pengalaman yang memanjakan mata. Adegan-adegan swing melintasi gedung-gedung New York dibuat dengan sangat dinamis dan imersif, membuat penonton seolah ikut terbang bersama Spider-Man.Destin Daniel Cretton juga berhasil memasukkan banyak elemen yang terinspirasi dari komik klasik Spider-Man, baik dari segi visual, desain adegan, maupun detail-detail kecil yang akan disukai oleh para penggemar lama.Penggunaan warna, pencahayaan, serta pengambilan gambar dalam berbagai adegan aksi membuat film ini memiliki identitas visual yang kuat dan berbeda dari film-film Spider-Man sebelumnya.Pertarungan Akhir yang Sangat EpikSeperti film MCU pada umumnya, Spider-Man: Brand New Day menghadirkan banyak adegan aksi spektakuler sepanjang durasinya. Memang, beberapa adegan pertarungan terasa familiar dengan formula khas Marvel Studios.Namun, Destin Daniel Cretton berhasil membayar semuanya melalui pertarungan terakhir yang benar-benar epik dan berkesan. Koreografi pertarungan, tensi emosional, serta taruhan besar yang dipertaruhkan dalam adegan tersebut menjadikannya sebagai salah satu klimaks terbaik dalam sejarah film Spider-Man versi Tom Holland.Adegan final ini bukan hanya sekadar pertarungan fisik, tetapi juga menjadi puncak dari perjalanan emosional Peter Parker yang telah dibangun sejak awal film.Debut Sadie Sink sebagai Jean Grey yang MenjanjikanSalah satu kejutan terbesar dalam film ini adalah kemunculan Sadie Sink sebagai Jean Grey. Karakter tersebut diperkenalkan dengan sangat baik dan tidak terasa dipaksakan masuk ke dalam cerita.Meski porsinya belum terlalu besar, kehadiran Jean Grey membuka banyak kemungkinan baru bagi masa depan Marvel Cinematic Universe. Penyebutan nama Jean Grey dalam film ini seolah menjadi sinyal bahwa semesta Spider-Man perlahan mulai terhubung dengan dunia X-Men.Jika benar arah tersebut yang ingin diambil Marvel Studios, maka Spider-Man: Brand New Day bisa menjadi titik awal dari pertemuan besar antara Spider-Man dan para mutan di masa depan.Adegan Post-Credits yang Wajib DitungguUntuk para penggemar Marvel, bertahan hingga lampu bioskop menyala adalah sebuah kewajiban, dan Spider-Man: Brand New Day membuktikan hal tersebut.Film ini menghadirkan adegan post-credits yang memang singkat, tetapi dipenuhi teka-teki yang memancing banyak teori. Tanpa memberikan terlalu banyak jawaban, adegan tersebut justru meninggalkan rasa penasaran yang besar mengenai masa depan Marvel Cinematic Universe.Banyak petunjuk yang mengarah pada kemungkinan keterkaitan film ini dengan Avengers: Doomsday (2026), membuat para penggemar semakin tidak sabar menantikan kelanjutan kisahnya.KesimpulanSpider-Man: Brand New Day bukan hanya menjadi film superhero biasa, tetapi juga sebuah kisah tentang kehilangan, persahabatan, cinta, dan pencarian jati diri. Setelah menunggu selama lima tahun, film ini berhasil menghadirkan cerita yang relatable, penampilan para pemain yang semakin matang, visual yang memukau, pertarungan klimaks yang spektakuler, serta pengalaman yang emosional sekaligus menghibur.Spider-Man: Brand New Day berhasil membuktikan bahwa perjalanan Peter Parker masih jauh dari kata selesai, dan masa depan Spider-Man di Marvel Cinematic Universe tampak semakin menarik untuk diikuti.Untuk SOBAT KTF penggemar MCU, film ini layak menjadi salah satu film superhero terbaik tahun 2026.

Rahmadandi Desky Prayuda 06 Aug 2026
VIDEO
Perpaduan Survival, Teror Hiu, dan Drama Keluarga yang Menegangkan
MOVIE
4.0

Perpaduan Survival, Teror Hiu, dan Drama Keluarga yang Menegangkan

Disutradarai oleh Renny Harlin dan ditulis oleh Pete Bridges, Shayne Armstrong, serta S.P. Krause, Deep Water (2026) hadir sebagai film thriller survival yang memadukan ketegangan bencana, drama keluarga, dan teror hiu dalam satu paket yang intens. Film ini dibintangi oleh Aaron Eckhart sebagai Ben, Ben Kingsley sebagai Rich, Angus Sampson sebagai Dan, Lucy Barrett sebagai Penny, Richard Crouchley sebagai Matt, Molly Belle Wright sebagai Cora, Wenhan Li sebagai Sam, Rosie Simei Zhao sebagai Lilly, Nashi sebagai Zoe, dan Lakota Jri sebagai Hutch.Sejak menit-menit awal, film ini langsung membangun atmosfer yang mencekam. Ceritanya berhasil menjaga tempo dengan sangat baik, membuat penonton terus dibuat penasaran mengenai nasib para karakter yang terjebak di tengah lautan setelah sebuah kecelakaan besar terjadi. Renny Harlin, yang dikenal lewat berbagai film aksi dan thriller, kembali menunjukkan kemampuannya dalam menciptakan adegan-adegan penuh tekanan yang membuat jantung berdebar.Akting Dari Para Pemain Yang ApikAaron Eckhart tampil sangat meyakinkan sebagai Ben, sosok yang harus berjuang mempertahankan hidup sekaligus melindungi orang-orang di sekitarnya. Karisma dan emosi yang ia tampilkan terasa kuat sepanjang film. Ben Kingsley juga memberikan performa yang solid sebagai Rich, menghadirkan karakter yang berwibawa sekaligus emosional.Namun, salah satu kejutan terbesar justru datang dari para pemeran pendukung, terutama Molly Belle Wright sebagai Cora. Aktingnya sebagai karakter anak-anak terasa sangat natural dan menyentuh. Ia berhasil menyampaikan rasa takut, kepanikan, hingga kesedihan dengan sangat baik, sehingga membuat penonton semakin terhubung secara emosional dengan cerita. Interaksi antara para karakter dewasa dan anak-anak menjadi salah satu kekuatan utama film ini.Punya Visual Yang Menegangkan Salah satu adegan terbaik dalam Deep Water tentu saja adalah momen jatuhnya pesawat. Adegan tersebut disajikan dengan sangat intens, dramatis, dan menegangkan. Kamera bergerak cepat mengikuti kepanikan para penumpang, sementara efek suara dan musik latar semakin memperkuat suasana mencekam. Penonton akan dibuat seolah ikut merasakan ketakutan dan kepanikan para karakter saat berusaha bertahan hidup di tengah situasi yang semakin memburuk.Dari sisi visual, CGI yang digunakan juga patut mendapatkan apresiasi. Efek air, ombak, reruntuhan pesawat, hingga kemunculan hiu terlihat cukup realistis dan mampu mendukung atmosfer film. Renny Harlin berhasil memanfaatkan teknologi visual untuk menghadirkan adegan-adegan aksi yang spektakuler tanpa terasa berlebihan.Punya Sisi Komedi & EmosionalMeskipun didominasi oleh ketegangan, film ini tetap menyisipkan beberapa momen komedi ringan yang membuat suasana sedikit mencair. Humor yang muncul tidak mengganggu alur cerita, justru memberikan jeda bagi penonton sebelum kembali dibawa ke situasi yang menegangkan.Tak hanya menawarkan aksi survival, Deep Water juga menyimpan beberapa adegan emosional yang cukup menyentuh. Hubungan antar-karakter, pengorbanan, dan perjuangan untuk bertahan hidup berhasil menghadirkan momen-momen sedih yang terasa tulus dan menyayat hati.Serangan Hiu Yang BrutalTentu saja, elemen yang paling ditunggu adalah serangan hiunya. Film ini berhasil menghadirkan teror yang brutal dan sulit ditebak. Setiap kemunculan hiu selalu dibangun dengan ketegangan yang efektif, membuat penonton tidak pernah merasa aman. Beberapa adegan serangan bahkan hadir secara tiba-tiba dan mengejutkan, memberikan sensasi horor yang intens sepanjang film.KesimpulanDeep Water (2026) adalah film thriller survival yang sukses menghadirkan kombinasi aksi, drama, ketegangan, dan emosi dalam porsi yang seimbang. Dengan adegan pesawat jatuh yang spektakuler, performa para pemain yang solid, CGI yang memukau, serta teror hiu yang brutal dan tidak terduga, film ini menjadi tontonan yang layak bagi para penggemar film survival dan thriller.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film seperti The Shallows, 47 Meters Down, atau The Reef, Deep Water menawarkan pengalaman menonton yang seru, menegangkan, dan penuh kejutan dari awal hingga akhir.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Jul 2026
VIDEO
Balas Dendam Brutal Alan Ritchson yang Bicara Lewat Aksi Di Film Motor City
MOVIE
3.5

Balas Dendam Brutal Alan Ritchson yang Bicara Lewat Aksi Di Film Motor City

Motor City bukan film aksi yang meminta penonton untuk duduk nyaman, mendengarkan dialog panjang, lalu menunggu karakter menjelaskan siapa dirinya dan apa yang sedang terjadi. Film garapan Potsy Ponciroli ini justru melakukan hal sebaliknya. Ia memaksa penonton membaca wajah, gerakan tubuh, suara mesin, dentuman musik, tatapan, darah, dan kekerasan sebagai bagian dari bahasa cerita.Berlatar Detroit tahun 1977, film ini mengikuti John Miller, seorang mantan narapidana dan veteran Vietnam yang berusaha memulai kembali kehidupannya setelah keluar dari penjara. Ia ingin hidup sederhana bersama Sophia, perempuan yang dicintainya. Namun harapan tersebut runtuh ketika John kembali berhadapan dengan dunia kriminal yang pernah menjebaknya.Dari titik itulah Motor City berubah menjadi perjalanan balas dendam yang sangat personal.Alan Ritchson menjadi pusat dari semuanya. Setelah dikenal luas sebagai sosok aksi lewat Reacher, Ritchson kembali memanfaatkan fisiknya yang besar, tetapi kali ini dengan pendekatan yang berbeda. John bukan karakter yang banyak bicara. Bahkan, salah satu eksperimen terbesar film ini adalah hampir menghilangkan dialog dari keseluruhan narasi. Beberapa sumber menyebut film ini hanya memiliki sedikit sekali percakapan verbal.Dan keputusan tersebut ternyata memiliki konsekuensi besar.John Miller: Pria yang Kehilangan Kesempatan untuk Menjadi Orang BiasaMenariknya, John sebenarnya bukan sekadar mesin pembunuh.Pada awal cerita, ia diperlihatkan sebagai seseorang yang ingin keluar dari kehidupan lamanya.Ia sudah menjalani hukuman. Ia mencoba kembali bekerja. Ia memiliki hubungan romantis. Bahkan ada gambaran bahwa John ingin membangun kehidupan normal bersama Sophia.Inilah bagian yang membuat karakter John menjadi lebih menarik dibanding sekadar tokoh protagonis dalam film balas dendam.John sebenarnya sudah memiliki kesempatan untuk menjadi orang biasa.Tetapi masa lalu tidak membiarkannya.Ketika kehidupan yang baru dibangun tersebut dihancurkan. Bukan Film Tanpa Suara, Melainkan Film yang Mengganti Dialog dengan Bahasa VisualKesalahan terbesar jika masuk ke Motor City dengan ekspektasi sebagai film bisu adalah menganggap film ini hanya menghilangkan dialog.Tidak.Film ini tetap sangat “berisik”.Suara pukulan, deru kendaraan, suara senjata, langkah kaki, napas karakter, suara kota dan terutama musik menjadi pengganti percakapan. Musik bahkan memiliki fungsi seperti narator yang tidak terlihat.Ini membuat Motor City terasa lebih dekat dengan sebuah pertunjukan audiovisual daripada film kriminal konvensional.Ben Foster dan Ancaman yang Tidak Selalu Membutuhkan Banyak PenjelasanBen Foster memainkan Reynolds, sosok kriminal yang menjadi pusat konflik John.Foster sebenarnya memiliki kualitas akting yang sangat cocok untuk karakter seperti ini: ekspresif, tidak stabil, dan mampu membuat karakter terasa berbahaya bahkan ketika tidak melakukan apa-apa.Namun film juga memperlihatkan salah satu masalah dari konsep minim dialog.Karakter antagonis membutuhkan ruang untuk menjelaskan motivasi, hubungan kekuasaan, dan psikologinya.Di Motor City, informasi tersebut sebagian besar harus disampaikan melalui tindakan.Hasilnya memang membuat film bergerak cepat, tetapi kedalaman karakter tertentu menjadi terbatas.Ini menjadi salah satu paradoks film: semakin sedikit karakter berbicara, semakin banyak penonton harus menafsirkan.Shailene Woodley dan Karakter SophiaSophia seharusnya menjadi salah satu elemen emosional terpenting dalam perjalanan John.Ia bukan sekadar pasangan protagonisIa adalah representasi dari kehidupan normal yang sebenarnya diinginkan John.Karena itu, hubungan John dan Sophia memiliki fungsi penting dalam struktur cerita: Sophia memperlihatkan bahwa John sebenarnya masih memiliki sisi manusia yang ingin diselamatkan. Namun karakter ini juga menjadi salah satu bagian yang terasa kurang berkembang.Minimnya dialog membuat hubungan mereka lebih banyak dibangun melalui visual daripada percakapan.Secara konsep memang menarik.Tetapi secara emosional, film terkadang membuat penonton harus menerima begitu saja bahwa hubungan mereka sangat dalam tanpa memberikan cukup ruang untuk benar-benar merasakan proses kedekatan tersebut.Detroit 1977 Bukan Sekadar LatarSalah satu kekuatan Motor City adalah bagaimana Detroit tahun 1977 digunakan sebagai atmosfer.Film tidak mencoba membuat Detroit hanya sebagai lokasi tempat karakter bergerak.Kota tersebut terasa seperti bagian dari identitas film.Lingkungan yang kasar, warna visual yang terasa kusam, kendaraan klasik, pakaian, interior, serta musik periode 1970-an menciptakan atmosfer retro yang kuat.Penonton harus “membaca” dunia yang ditampilkan.Detroit dalam film terasa seperti kota yang sedang mengalami luka, dan John seolah menjadi representasi dari luka tersebut.Itulah sebabnya judul Motor City terasa lebih tepat daripada sekadar nama lokasi.Motor, jalan raya, bengkel, mobil, dan kekerasan semuanya menjadi bagian dari identitas visual film.Kekerasan yang Tidak Sekadar Dipakai untuk GayaMotor City tidak malu memperlihatkan kekerasan ,Pukulan terasa berat, Benturan terasa menyakitkan, Darah bukan sekadar aksesoris.Beberapa adegan aksinya bahkan terasa seperti sengaja dirancang untuk membuat penonton meringis.Namun yang menarik adalah kekerasan tersebut sering kali digunakan sebagai bentuk komunikasi.Karena John tidak bisa mengatakan “aku marah”, film membuatnya memukul.Karena ia tidak bisa menjelaskan bahwa dirinya telah kehilangan kendali, tubuhnya menunjukkan hal tersebut, Karena ia tidak memiliki banyak ruang untuk bernegosiasi, konflik diselesaikan melalui fisik.Dengan demikian, aksi bukan hanya bagian hiburan. Aksi menjadi bahasa John.Kesimpulan Motor City (2026) menawarkan film aksi balas dendam dengan gaya yang berbeda, mengandalkan visual, musik, dan ekspresi karakter dibanding dialog. Meski ceritanya sederhana dan beberapa karakter kurang tergali, Alan Ritchson mampu membawa intensitas film dengan kuat. Bukan film yang sempurna, tetapi punya identitas dan atmosfer yang membuatnya tetap menarik untuk disaksikan.

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
Komedinya Gila, Dramanya Bikin Hati Hangat, Film Agensi Rumah Tangga Satukan Enzy Storia dan Afgan dengan Rekor 7 Komika Perempuan di Satu Layar!
NEWS

Komedinya Gila, Dramanya Bikin Hati Hangat, Film Agensi Rumah Tangga Satukan Enzy Storia dan Afgan dengan Rekor 7 Komika Perempuan di Satu Layar!

Tonton film Agensi Rumah Tangga mulai 10 September 2026 di bioskop!! Jakarta, 3 September 2026 — Setelah sukses dengan drama komedi dan drama keluarga, sutradara pencetak blockbuster Naya Anindita kini menggarap film komedi perdananya, Agensi Rumah Tangga, persembahan Starvision, bekerjasama dengan Legacy Pictures, Vortera Studios, dan Navvaros, dari produser Chand Parwez Servia. Film Agensi Rumah Tangga diadaptasi dari novel best seller Almira Bastari, dengan naskah yang ditulis oleh Upi dan Ayu Anggraini Putri. Film ini membawa kisah yang hangat dari Katia (Enzy Storia), yang kena PHK dan akhirnya membangun bisnis agensi penyaluran pekerja rumah tangga. Film Agensi Rumah Tangga menjadi eksplorasi terbaru Naya dengan genre komedi, yang menampilkan jajaran komika perempuan sebagai para ART yang ikonik. Mereka berhasil menyampaikan komedi-komedi baik secara dialog hingga adegan dengan penuh kekacauan yang membuat penonton terhibur dan ngakak.“Ini pertama kalinya ada 7 komika perempuan bermain dalam satu judul film. Agensi Rumah Tangga akan membuat penonton menikmatinya dengan cerita yang seru, komedi yang kocak, dan drama yang menyentuh,” ujar produser Chand Parwez Servia.Tak hanya menampilkan komedi, film Agensi Rumah Tangga juga membawa isu yang penting dan dekat. Lewat jajaran para pekerja rumah tangga serta para karakter pekerja perempuan, film ini juga berbicara mengenai pentingnya memberikan kelayakan hak untuk para pekerja domestik.“Aku melihat ART itu terkadang dianggap seperti sebuah fasilitas dalam rumah tangga. Padahal mereka ini juga pekerja, staf, sama seperti kita yang juga pekerja. Untuk itu, film ini juga ingin memantik diskusi bahwa sudah seharusnya kita memperlakukan para ART juga sama seperti kita. Film ini membawa kisah yang penting, meski dikemas dengan ringan dan komedi,” ujar sutradara Naya Anindita.Agensi Rumah Tangga dibintangi oleh Enzy Storia, Afgansyah Reza, Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, Unique Priscilla, Tike Priatnakusumah, Nada Novia, Dea Panendra, Astrid Juwita, Nury Zhafira, Farrell Rafisqy, Khalif Al Juna, Sheila Dara, Hesti Purwadinata, Lulu Tobing, Febby Rastanty, Dayu Wijanto, Nazira C Noer, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Niky Putra, Mario Caesar, Kev, Oline Mendeng, Yono Bakrie, Marchella FP, Rendha Rais, Reza Chandika, Arvino Ramadhan, Oki DM, Anyun Cadel, Elia Margaretha, Yudha Brajamusti, McDanny, Shela Lala, Vadie Akbar, Dian Iyoy, dll. Sementara itu, jajaran komika perempuan terbanyak hadir di film ini, mereka di antaranya adalah Ummi Quary, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Boah Sartika, Priska Baru Segu, Nury Zhafira, dan Mega Salsabila.“Ini cerita yang relate dan semoga untuk yang menonton jadi lebih bisa menghargai kerja para ART yang sudah banyak membantu pekerjaan sehari-hari kita. Film ini juga punya komedi yang sangat lucu dengan komedi-komedi yang diberikan para komika perempuannya. Semoga hangat dan tawanya sampai ke hati penonton,” ujar Enzy Storia.“Film Agensi Rumah Tangga menjadi penanda yang spesial bagi saya karena bertepatan dengan 18 tahun saya merayakan perjalanan bermusik. Di tahun ini, Naya memberikan kesempatan saya untuk mengeksplorasi tantangan baru lewat peran Kafka di film ini, bergabung bersama para pemeran yang luar biasa, dan ceritanya yang hangat, komedinya juga sangat menghibur,” ujar Afgansyah Reza.Ikuti perkembangan terbaru film Agensi Rumah Tangga melalui Instagram @FilmAgensiRumahTangga, @Starvisionplus, @LegacyPictures, @VorteraStudios, @Navvaros.entertainment dan TikTok @StarvisionOfficial.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
VIDEO
UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast
MOVIE
3.8

UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast

Undertone (2025) menjadi salah satu film horor produksi A24 yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan horor modern pada umumnya. Disutradarai oleh Ian Tuason, film ini tidak mengejar ketakutan instan melalui rentetan jumpscare. Sebaliknya, Undertone memilih membangun rasa cemas secara perlahan melalui atmosfer yang sunyi, desain suara yang presisi, serta tekanan psikologis yang terus meningkat hingga klimaks.Premis yang diangkat terasa segar dan tidak biasa. Cerita berpusat pada sebuah lagu misterius yang diyakini menyimpan pesan tersembunyi ketika diputar secara terbalik. Penemuan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan dalam sebuah podcast, namun semakin jauh mereka menyelidikinya, semakin banyak kejadian ganjil yang sulit dijelaskan secara logis. Ide mengenai backmasking dipadukan dengan dunia podcast membuat misteri yang disajikan terasa relevan dengan era digital, sekaligus memberikan identitas tersendiri di tengah banyaknya film horor bertema supranatural.Keheningan Menjadi Kunci Dari FilmYang paling menonjol dari Undertone adalah kemampuannya menciptakan rasa tidak nyaman melalui keheningan. Ian Tuason memahami bahwa rasa takut tidak selalu harus muncul dari sosok mengerikan yang tiba-tiba muncul di layar. Sebaliknya, kamera yang diam terlalu lama, ruangan yang nyaris tanpa suara, hingga efek audio yang samar mampu membuat penonton terus berada dalam kondisi waspada. Ketegangan dibangun sedikit demi sedikit, sehingga ketika momen-momen penting akhirnya datang, dampaknya terasa jauh lebih efektif.Desain suara menjadi elemen yang sangat vital dalam film ini. Mengingat premisnya berkaitan erat dengan musik dan rekaman audio, setiap detail suara memiliki peran penting dalam membangun atmosfer. Bisikan, dengungan frekuensi rendah, hingga distorsi suara dimanfaatkan bukan sekadar sebagai efek, tetapi menjadi bagian dari narasi yang perlahan mengaburkan batas antara kenyataan dan halusinasi. Penggunaan audio yang minimalis justru memperkuat kesan mencekam dan membuat penonton ikut larut dalam paranoia yang dialami para karakter.Akting Dari Para Pemain Yang ApikDari sisi akting, Nina Kiri memberikan performa yang sangat kuat sebagai Evy. Ia berhasil menggambarkan perubahan emosi karakternya secara bertahap, mulai dari rasa penasaran, kegelisahan, hingga ketakutan yang perlahan menggerogoti kondisi mentalnya. Ekspresi yang subtil dan permainan emosinya membuat perjalanan psikologis Evy terasa autentik dan mudah diikuti.Di sisi lain, Adam DiMarco sebagai Justin tampil lebih tenang, namun tetap mampu menghadirkan emosi yang dalam. Chemistry antara keduanya terasa natural, sehingga hubungan mereka menjadi salah satu fondasi emosional yang membuat penonton semakin peduli terhadap nasib para karakter ketika misteri mulai berkembang menjadi ancaman yang nyata.Sinematografi Yang Simpel Namun Tetap TegangSecara visual, sinematografi Undertone juga patut diapresiasi. Dominasi pencahayaan redup, komposisi gambar yang rapi, serta penggunaan ruang kosong dalam banyak adegan berhasil memperkuat kesan isolasi dan kesunyian. Film ini memanfaatkan ruang negatif dengan efektif, membuat penonton terus merasa ada sesuatu yang mengintai meskipun layar tampak kosong. Pendekatan visual seperti ini selaras dengan tema psikologis yang diusung dan menjadi salah satu alasan mengapa atmosfer film terasa begitu melekat.Meski memiliki tempo yang relatif lambat, ritme tersebut justru menjadi bagian dari identitas film. Penonton yang menyukai horor penuh aksi mungkin akan merasa film ini berjalan terlalu perlahan. Namun bagi pencinta horor atmosferik dan psikologis, tempo tersebut memberikan ruang untuk menikmati setiap petunjuk, membangun teori sendiri, sekaligus merasakan tekanan yang terus meningkat hingga akhir cerita.KesimpulanPada akhirnya, Undertone bukan sekadar film tentang kutukan atau fenomena supranatural. Film ini mengeksplorasi rasa takut yang muncul dari obsesi, rasa penasaran, serta bagaimana suara—sesuatu yang biasanya dianggap biasa—dapat berubah menjadi sumber teror yang menghantui pikiran.Dengan penyutradaraan yang matang, desain suara yang luar biasa, sinematografi yang elegan, dan performa akting yang solid, Undertone berhasil menjadi horor psikologis yang meninggalkan kesan mendalam bahkan setelah kredit penutup bergulir.Film ini sukses menghadirkan pengalaman menonton yang menghantui, sekaligus menjadi salah satu horor atmosferik paling menarik di tahun 2025.

Rahmadandi Desky Prayuda 14 Jul 2026
Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!
NEWS

Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!

Suasana megah di CGV Grand Indonesia mendadak pecah oleh isak tangis histeris pada penyelenggaraan Gala Premiere film layar lebar paling dinantikan tahun ini, dari Sumargo Film dan LYTO Pictures, Baby Udon.Ruang bioskop yang disulap berhiaskan instalasi pohon sakura mekar, sebagai tribut mengenang mendiang Hajime Kondoh, berubah menjadi lautan air mata sesaat setelah film selesai diputar.Puncaknya terjadi pada sesi press conference usai penayangan. Sambil mendekap erat sang buah hati, Kazuki atau yang akrab disapa KazKaz, content creator Fanny Kondoh melontarkan pengakuan mengharukan yang seketika membuat ratusan pasang mata yang hadir di studio meneteskan air mata."Teruntuk suami tercintaku, aku berharap kamu bisa melihat sebanyak apa orang di sini yang merayakan kisah cinta dan perjuangan kita untuk KazKaz. Film ini ada untuk mengenangmu, dan agar KazKaz bisa tahu kalau ayahnya adalah sosok yang luar biasa," ucap Fanny dengan suara bergetar dan berurai air mata, membuat seluruh awak media dan tamu undangan ikut menangis tersedu-sedu. Momen haru tersebut sekaligus menjadi saksi pertaruhan besar karier Denny Sumargo. Bersama sang istri, Olivia Sumargo, Denny resmi menandai debut perdana mereka sebagai produser di industri film Indonesia.Bukan hanya modal nama, Densu bahkan rela memangkas habis rambutnya hingga botak licin dan menonton rekaman sakratul maut asli mendiang Hajime demi menyajikan akting yang menghipnotis penonton."Sebagai produser pertama kali, saya nggak nyangka efeknya bakal sehancur ini di hati penonton. Dari tur di berbagai kota kemarin, saya lihat sendiri orang-orang keluar studio sambil nangis sesenggukan. Alasan terbesar saya bikin film ini cuma satu: nggak mau mengecewakan amanah Fanny dan Hajime. Kisah ini bukan sekadar tontonan, tapi pelukan hangat buat siapa pun yang pernah kehilangan," tegas Denny Sumargo, Produser dari Sumargo Film, di hadapan awak media."Kami amat bangga bisa membawa film Baby Udon ke penonton Indonesia. Semoga cerita yang mengharukan dan indah dari Bu Fanny Kondoh dan Almarhum Bapak Hajime Kondoh bisa memberikan kesan yang baik dan menginspirasi banyak orang," kata Andi Suryanto, selaku Produser dari LYTO Pictures.Gala Premiere spektakuler ini turut dihadiri sederet bintang ternama tanah air, mulai dari jajaran produser Denny Sumargo, Olivia Sumargo, Andi Suryanto, dan Marcella Daryanani, hingga deretan pemeran utama seperti Caitlin Halderman, Ayya Renita, Putri Ayudya, Alfie Alfandy, Miyu Okazaki, Hiroaki Kato, Royhan Hidayat, Hafni Thalib, dan Alexandra Valerie.Selain di Jakarta, film ‘Baby Udon’ telah menggelar Gala Premiere di 7 (Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Banjarmasin, Palembang, Medan) kota sampai saat ini. Tidak berhenti di sini, tur Gala Premiere dan Meet & Greet masih akan berlanjut ke Makassar (Nipah XXI) dan akan ditutup di Bali (Level 21 XXI).Film Baby Udon dipastikan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Penonton juga bisa menikmati promo terbatas Buy One Get One Free (BOGOF) khusus untuk hari pertama penayangan di aplikasi tiket MTIX.Intip cuplikan viral, trailer resmi, dan informasi tiket di akun Instagram @filmbabyudon, @sumargofilm, dan @lytopictures.

Admin Kupas Tuntas Film 30 Aug 2026