Logo KTF KupasTuntasFilm

Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem Bongkar Kejahatan Terbesar Pemangsa Anak!

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 40 views

Film Memburu Pemangsa tayang mulai 24 September 2026 di bioskop


Sinemaku Pictures merilis official teaser poster & trailer film Memburu Pemangsa, yang akan tayang mulai 24 September 2026 di bioskop Indonesia. Dalam official teaser poster, terlihat empat aktris utama: Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem berhadapan dengan sosok misterius dengan wajah menyeramkan. Sosok itu tampil dalam posisi terbalik, dengan tubuh seutuhnya manusia tapi wajahnya sama sekali bukan manusia, menunjukkan bahwa sosok itu punya ikatan dengan iblis. Posisi itu juga menunjukkan kejahatannya yang sangat keji dan di luar nalar manusia.

Sementara itu, official teaser trailer Memburu Pemangsa mengikuti kisah empat jurnalis perempuan, Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem yang ditugaskan untuk mengungkap sebuah kasus kejahatan terbesar yang tak bisa dimaafkan. Kejahatan yang menimpa anak-anak, dan pelakunya masih belum terungkap. Teaser trailer film ini juga menunjukkan suasana yang mencekam dan intens, yang akan mengikuti tempo cepat alur ceritanya. Laura, Prilly, Taskya, dan Yasamin menunjukkan totalitas mereka sebagai jurnalis investigasi, namun juga tampilkan aksi laga yang belum pernah terlihat dari keempatnya.

Dari yang terlihat di teaser trailer, Memburu Pemangsa hadir dengan set realistik, yang memanfaatkan bangunan mall tua, yang sudah terbengkalai selama 13 tahun. Sinemaku Pictures kemudian merombak bangunan mall itu untuk dibersihkan, dan ditata ulang kembali menjadi set terbengkalai agar sesuai dengan world building ceritanya. Teaser trailer ini juga mampu membangun suasana mencekam dan menegangkan, menjadi sajian horror crime action yang sangat dinantikan.


Disutradarai oleh Umay Shahab, Memburu Pemangsa menjadi eksplorasi genre terbaru dan film paling ambisius dari Sinemaku Pictures. Dengan isu yang sangat penting, film ini ingin mengajak penonton Indonesia menyadari pentingnya untuk menjaga keselamatan anak-anak di lingkungan sekitar.

Sebagai mantan artis cilik, isu tentang keselamatan anak sangat dekat dengan Umay, yang menyutradarai film ini. Saat proses development, Umay bersama Sinemaku Pictures juga telah berkonsultasi ke berbagai pihak, mulai dari Komnas Anak hingga redaksi media investigasi untuk kehati-hatian dengan isu sensitif dan menyinggung tentang kejahatan yang tak bisa dimaafkan.

“Memburu Pemangsa adalah film yang mengangkat cerita tentang empat jurnalis membongkar kasus mengerikan tentang penculikan anak. Sebagai keseriusan dan bentuk tanggung jawab, kami juga terlebih dulu berkonsultasi ke berbagai pihak mulai dari Komnas Anak, redaksi media, jurnalis, akademisi di bidang kriminologi.

Saya bersama seluruh kru dan pemeran yang terlibat di film ini merasa perlu ada ruang aman untuk anak-anak di manapun mereka berada. Kejahatan seperti kasus pemangsa anak adalah kejahatan terbesar yang tak bisa dimaafkan,” ujar Umay Shahab.

Bagi Laura Basuki, dirilisnya teaser trailer dan poster film Memburu Pemangsa yang bertepatan dengan Hari Anak Nasional juga jadi momen penting. Film ini ingin mengajak seluruh masyarakat bisa melindungi anak dari berbagai bentuk dan dampak dari tindak kejahatan dan kriminal.

“Sebagai seorang Ibu, anak selalu menjadi nomor satu. Teaser trailer film ini juga jadi pengingat untuk kita semua, bukan hanya orangtua, tapi masyarakat agar selalu aware dan peduli terhadap perlindungan dan hak anak. Aku selalu sedih ketika mendengar berita-berita kekerasan dan anak yang menjadi korbannya,” ujar Laura Basuki

Memburu Pemangsa akan menjadi debut Horror Crime Action Umay Shahab. Film ini juga diperkuat dengan mempersatukan tiga Ratu Horor Indonesia, serta menjadiLatuconsina horror action pertama Laura Basuki, dan action pertama Prilly Latuconsina.


Ikuti informasi terbaru mengenai film Memburu Pemangsa melalui akun media sosial Sinemaku Pictures di Instagram @sinemaku_pictures dan @memburupemangsa. Tonton film Memburu Pemangsa di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026!

More Recommendations

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius  Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!
NEWS

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!

iQIYI merilis trailer perdana series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, yang mengangkat realitas di balik manisnya hubungan couple goals.Jakarta, 10 September 2026 — iQIYI resmi merilis trailer perdana iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, original series Indonesia terbaru yang memadukan drama percintaan, perselingkuhan dan kompleksnya hubungan keluarga. Bekerjasama dengan rumah produksi RRK Pictures & Unlimited Production, series ini mengangkat kisah pasangan selebritis yang selama ini dipandang sebagai couple goals dengan kehidupan rumah tangga yang tampak ideal. Namun, di balik sorotan dan citra sempurna yang mereka tampilkan, tersimpan rahasia, kebohongan, serta persoalan lain yang perlahan menguji hubungan dan keluarga mereka.Melalui trailer iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, penonton diajak menyingkap kilasan keretakan kehidupan rumah tangga Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa). Demi mempertahankan keutuhan keluarga sekaligus reputasi mereka di mata publik, keduanya mempertimbangkan sebuah jalan pintas yang tak biasa: open marriage. Keputusan tersebut pun menyisakan tanda tanya bagi penonton: mampukah open marriage menyelamatkan rumah tangga Duta dan Citra atau justru memicu konflik yang jauh lebih besar?“Dibandingkan kisah perselingkuhan pada umumnya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta terasa berbeda karena hadir dengan cerita yang lebih kompleks, menggabungkan sorotan dunia selebriti, drama rumah tangga, hingga elemen misteri yang cukup kental.” ujar Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI.Keretakan Hubungan yang Sempurna dan Unsur MisteriAda dua sisi cerita yang menjadi kekuatan utama series ini. Pertama, gambaran citra sempurna pasangan selebriti, seperti bagaimana sorotan publik, dan ekspektasi sosial memaksa Duta dan Citra terus mempertahankan topeng kebahagiaan meski hubungan mereka retak dari dalam. Kedua, sisi hubungan yang penuh skandal, kesepakatan open marriage dan perselingkuhan yang perlahan berkembang menjadi bom waktu, membawa cerita ke arah yang lebih gelap dan tak terduga.Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dapat mengubah dinamika pernikahan mereka. Duta diam-diam menjalin hubungan dengan Vania (Shania Gracia), sementara Citra perlahan mulai dekat Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dengan Denis (Ciccio Manassero), sosok pria menawan yang hadir di tengah kerumitan hidupnya. Untuk menyelamatkan masalah rumah tangganya, Citra mengajukan sebuah solusi yang mengaburkan batas kesetiaan dan kebebasan dalam pernikahan kepada Duta.Kehadiran Shania Gracia dan Ciccio Manassero turut menambah warna baru pada dinamika series ini. Chemistry keduanya dengan para pemain utama membuat hubungan semakin kompleks, sekaligus membuka berbagai kemungkinan konflik baru. Seiring konflik perselingkuhan yang memanas, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta perlahan mengungkap elemen misteri yang berpotensi semakin mengguncang keluarga serta reputasi Duta dan Citra.Nantikan 10 episode dari iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta yang akan resmi tayang mulai 25 September 2026, hanya di iQIYI. Trailer perdana dan poster series ini dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi iQIYI Indonesia.

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan
MOVIE
2.3

Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan

Film horor Indonesia terus berkembang dengan menghadirkan berbagai pendekatan baru dalam menyampaikan rasa takut. Tidak semuanya harus mengandalkan jumpscare atau sosok menyeramkan untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Hasut mencoba mengambil jalur tersebut dengan menghadirkan psychological horror yang lebih banyak bermain dengan pikiran, ketakutan, prasangka, serta kondisi psikologis para karakternya.Film ini digarap sekaligus ditulis oleh Ilya Sigma, dengan bantuan Priesnanda Dwisatria. Hasut mencoba membangun kengerian melalui kondisi mental karakter dan bagaimana sebuah pikiran negatif dapat berkembang menjadi sesuatu yang semakin mengganggu.Psychological Horror yang Bermain dengan PikiranSalah satu hal yang cukup menarik dari Hasut adalah keberaniannya untuk tidak hanya mengandalkan jumpscare sebagai sumber ketakutan. Film ini lebih banyak mengajak penonton masuk ke dalam kondisi psikologis karakter dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.Rasa takut dalam film ini muncul dari ketidakpastian. Penonton diajak untuk ikut merasakan kegelisahan, kecurigaan, dan tekanan yang dialami oleh karakter-karakternya. Pendekatan seperti ini membuat Hasut terasa berbeda dibandingkan film horor yang lebih konvensional.Ketika sebuah film psychological horror berhasil membuat penonton mempertanyakan apakah sesuatu yang terjadi benar-benar nyata atau justru merupakan bagian dari kondisi psikologis karakter, di situlah rasa tidak nyaman mulai terbentuk.Hasut memiliki beberapa momen yang mencoba memainkan hal tersebut. Film tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, sehingga penonton harus memperhatikan situasi dan perubahan karakter untuk memahami apa yang sedang terjadi.Musuh Terbesar Bisa Datang dari Pikiran SendiriPesan yang paling terasa dari Hasut adalah bagaimana terkadang musuh terbesar kita justru adalah pikiran kita sendiri.Ketakutan, prasangka, kecemasan, dan pikiran negatif yang terus berkembang dapat memengaruhi cara seseorang melihat keadaan di sekitarnya. Sesuatu yang awalnya mungkin terlihat sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan ketika terus dipenuhi oleh rasa takut dan kecurigaan.Inilah salah satu aspek yang membuat Hasut cukup menarik untuk dibahas. Film ini tidak hanya berusaha membuat penonton takut terhadap sesuatu yang berada di luar diri mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pikiran manusia sendiri dapat menjadi sumber teror.Konsep tersebut sebenarnya memiliki ruang yang cukup luas untuk dikembangkan. Ketika ketakutan dan pikiran negatif mulai mengambil alih, batas antara realitas dan persepsi menjadi semakin sulit dibedakan. Akting Dari Para PemainDari sisi pemain, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova mampu memberikan penampilan yang cukup bagus.Keempat pemain berhasil membawa karakter mereka dengan cukup meyakinkan, terutama ketika harus menunjukkan sisi emosional dan tekanan psikologis yang menjadi bagian penting dari film.Karena Hasut lebih banyak bermain pada kondisi mental karakter, ekspresi, gestur, serta perubahan emosi menjadi bagian yang cukup penting. Para pemain mampu memberikan energi yang sesuai dengan atmosfer film sehingga ketegangan yang dibangun tetap terasa.Chemistry antarpemain juga cukup membantu dalam membuat hubungan antarkarakter terasa lebih hidup dan tidak sekadar menjadi bagian dari cerita horor.Sayangnya, Tidak Semua Misteri Terjawab dengan Memuaskan. Meskipun memiliki konsep yang menarik, Hasut masih memiliki beberapa kekurangan dalam eksekusinya.Ada beberapa elemen cerita yang terasa belum dijelaskan dengan cukup jelas. Latar belakang beberapa karakter juga terasa terlalu singkat sehingga perkembangan dan motivasi mereka tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup. Hal tersebut kemudian membuat beberapa bagian film terasa menyisakan pertanyaan. Setelah film selesai, masih ada beberapa hal yang membuat bertanya-tanya mengenai maksud maupun alasan di balik kejadian tertentu.Sebenarnya, meninggalkan pertanyaan kepada penonton bukan sesuatu yang selalu menjadi masalah dalam film psychological horror. Justru, film dengan genre seperti ini memang sering memberikan ruang untuk interpretasi.Namun, perbedaannya adalah antara misteri yang sengaja dibiarkan terbuka dengan informasi yang terasa seperti belum mendapatkan penjelasan yang cukup. Hasut terkadang berada di antara keduanya, sehingga beberapa bagian terasa kurang maksimal dalam menyampaikan keseluruhan ceritanya.KesimpulanDengan konsep psychological horror yang menarik, pesan yang cukup kuat, serta penampilan para pemain yang solid, Hasut berhasil memberikan pendekatan horor yang berbeda. Namun, eksekusinya masih memiliki beberapa kekurangan, terutama dalam memberikan penjelasan terhadap sejumlah elemen cerita dan latar belakang karakter.Film ini cocok untuk SOBAT KTF yang menyukai film horor psychological, cerita yang bermain dengan kondisi mental karakter, serta horor yang membuat penonton ikut berpikir dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pieter Siaahan 02 Oct 2026
Ketika Waktu Bersama Ibu Tidak Pernah Benar-Benar Panjang
MOVIE
3.2

Ketika Waktu Bersama Ibu Tidak Pernah Benar-Benar Panjang

Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? menjadi salah satu drama keluarga Indonesia yang mencoba kembali mengangkat tema sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan banyak orang: hubungan antara ibu dan anak serta rasa takut kehilangan orang yang paling kita cintai.Film yang disutradarai Herwin Novianto dan ditulis oleh Alim Sudio ini merupakan remake dari film Korea Selatan Wedding Dress (2010), dengan skenario asli yang ditulis oleh Kwon Hyeong-jin dan Yoo Yeong-ah. Versi Indonesia ini mempertahankan fondasi utama cerita tentang seorang ibu dan anak yang harus menghadapi kenyataan bahwa kebersamaan mereka memiliki batas waktu.Namun, tantangan terbesar sebuah film remake bukan hanya bagaimana mengulang cerita yang sudah dikenal, melainkan bagaimana membawa cerita tersebut agar terasa relevan dan dekat dengan penonton di negara tempat cerita itu dibuat ulang. Di sinilah Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? mencoba memberikan sentuhan Indonesianya. Premis Emosional yang Tetap DipertahankanSebagai sebuah remake, film ini memang masih mempertahankan premis emosional dan struktur hubungan ibu-anak yang menjadi kekuatan utama film aslinya. Stella (Marsha Timothy) merupakan seorang ibu tunggal sekaligus perancang gaun pengantin yang hidup bersama putrinya, Rere (Ariqa Fakhirah Shakila).Kehidupan mereka berubah ketika Stella mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit serius dan waktu yang dimilikinya tidak lagi panjang. Alih-alih hanya memikirkan kesedihan atas kepergiannya, Stella justru mulai memikirkan bagaimana Rere akan menjalani kehidupan setelah dirinya tidak ada.Ia kemudian berusaha menggunakan sisa waktu yang dimilikinya untuk memberikan berbagai bekal kepada sang anak, menciptakan kenangan, sekaligus mempersiapkan Rere agar mampu menjalani kehidupannya sendiri. Salah satu bentuk kasih sayang tersebut diwujudkan melalui pembuatan “gaun masa depan” untuk Rere.Keputusan Herwin Novianto dan Alim Sudio untuk tidak mengubah fondasi hubungan Stella dan Rere secara berlebihan terasa masuk akal mengingat statusnya sebagai remake. Justru, kekuatan film ini berada pada bagaimana cerita yang sudah memiliki struktur emosional kuat tersebut diterjemahkan ke dalam konteks Indonesia.Penonton yang sudah mengetahui Wedding Dress tentu akan menemukan sejumlah persamaan dalam perjalanan emosional ibu dan anaknya. Namun, film ini tetap berusaha memberikan identitas sendiri melalui karakter, lingkungan, dialog, kebiasaan, serta dinamika keluarga yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.Marsha Timothy dan Ariqa Fakhirah Menjadi Jantung CeritaSalah satu kekuatan terbesar Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? berada pada akting dan chemistry antara Marsha Timothy sebagai Stella dan Ariqa Fakhirah Shakila sebagai Rere.Marsha mampu menghadirkan Stella sebagai sosok ibu yang tidak hanya terlihat kuat, tetapi juga menyimpan banyak kekhawatiran di balik sikapnya. Karakter Stella memiliki beban emosional yang cukup besar karena ia mengetahui sesuatu yang belum sepenuhnya bisa diterima oleh Rere.Menariknya, emosi Stella tidak selalu disampaikan melalui adegan yang besar. Banyak momen justru terasa lebih kuat ketika film memperlihatkan interaksi sederhana antara ibu dan anak. Tatapan, percakapan sehari-hari, perhatian kecil, hingga usaha Stella mengajarkan berbagai hal kepada Rere menjadi bagian yang membuat hubungan mereka terasa lebih manusiawi.Di sisi lain, Ariqa Fakhirah Shakila memberikan penampilan yang cukup kuat sebagai Rere. Ia mampu memperlihatkan perubahan emosi seorang anak yang awalnya menjalani kehidupan seperti biasa, kemudian perlahan harus memahami kenyataan bahwa sosok yang selama ini selalu ada untuknya suatu hari tidak akan lagi berada di sisinya. Chemistry keduanya menjadi salah satu alasan mengapa sisi emosional film dapat bekerja dengan cukup baik. Hubungan Stella dan Rere tidak hanya terasa seperti hubungan karakter dalam sebuah skenario, tetapi mampu memberikan kesan sebagai hubungan ibu dan anak yang memiliki kedekatan emosional.Pemain Pendukung Memperkuat Sisi EmosionalSelain dua pemeran utamanya, kehadiran Sara Wijayanto, Kiki Narendra, dan Kinaryosih juga memberikan warna tersendiri.Ketiga pemain tersebut membantu memperluas dunia Stella dan Rere sehingga cerita tidak terasa hanya berputar pada hubungan ibu dan anak. Kehadiran mereka juga memberikan ruang bagi film untuk mengeksplorasi bagaimana orang-orang di sekitar Stella dan Rere turut menjadi bagian dari perjalanan emosional mereka.Karakter-karakter pendukung tersebut memang tidak mengambil alih pusat cerita, tetapi kehadirannya membantu memperkuat atmosfer keluarga dan hubungan antarkarakter. Unsur Komedi Yang Menambah Warna CeritaDi tengah cerita yang cukup emosional, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? juga tidak sepenuhnya membiarkan penonton berada dalam suasana sedih.Kehadiran Ivan Gunawan, Praz Teguh, dan Papham memberikan unsur komedi yang cukup hidup. Humor yang mereka hadirkan menjadi penyeimbang agar film tidak terasa terlalu berat dari awal hingga akhir.Hal ini menjadi keputusan yang cukup efektif karena cerita mengenai penyakit, kehilangan, dan hubungan orang tua-anak berpotensi membuat film terasa sangat melodramatis apabila hanya mengandalkan adegan emosional.Unsur komedi tersebut membuat perjalanan Stella dan Rere terasa lebih berwarna. Penonton diberikan kesempatan untuk tertawa di antara berbagai momen haru yang perlahan dibangun film.Dengan demikian, komedi tidak hanya berfungsi sebagai selingan, tetapi juga membantu menciptakan keseimbangan tone dalam keseluruhan film.Membawa Wedding Dress ke Dalam Konteks IndonesiaSebagai remake, salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? membawa cerita dari Korea Selatan ke lingkungan Indonesia.Film ini tidak sekadar mengganti bahasa atau pemerannya. Karakter, setting, kultur, dinamika keluarga, hingga cara cerita dikemas berusaha dibuat lebih dekat dengan penonton Indonesia.Penyesuaian tersebut penting karena hubungan antara orang tua dan anak dalam sebuah cerita keluarga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya. Versi Indonesia mencoba membuat konflik dan interaksi antarkarakternya terasa lebih familiar bagi penonton lokal.Hasilnya memang bukan sebuah film yang sepenuhnya berbeda dari film aslinya. Fondasi ceritanya masih sangat terasa sebagai Wedding Dress. Namun, identitas Indonesia yang diberikan membuat kisah tersebut memiliki konteks baru.Hal ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi penonton yang belum pernah menyaksikan film aslinya. Mereka dapat menikmati ceritanya sebagai drama keluarga Indonesia tanpa harus mengetahui terlebih dahulu sumber materi aslinya.Sementara bagi penonton yang sudah menyaksikan Wedding Dress, film ini dapat menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana cerita yang sama diterjemahkan melalui perspektif budaya Indonesia.Punya Pesan Yang Cukup DalamPada akhirnya, kekuatan utama Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? bukan hanya terletak pada cerita tentang kehilangan, tetapi pada bagaimana film ini mengajak penonton memikirkan kembali hubungan mereka dengan orang tua.Film ini mengingatkan bahwa waktu bersama orang tua tidak pernah benar-benar bisa kita pastikan panjangnya.Sering kali kita merasa masih memiliki banyak waktu untuk mengucapkan terima kasih, meminta maaf, memberikan perhatian, atau sekadar mengatakan bahwa kita menyayangi mereka. Padahal, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu berapa lama kesempatan tersebut akan berlangsung.Karena itu, pesan yang terasa kuat dari film ini adalah pentingnya menyampaikan kasih sayang selagi masih ada kesempatan.Tidak perlu menunggu momen besar untuk menunjukkan perhatian. Bahkan kalimat sederhana seperti “Ibu, aku sayang” bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika disampaikan kepada orang yang kita cintai.Pesan tersebut juga terasa relevan dengan bagaimana film memperlihatkan Stella yang tidak hanya memikirkan kepergiannya, tetapi berusaha meninggalkan bekal, kenangan, dan kasih sayang agar Rere tetap dapat melanjutkan hidup.KesimpulanIbu, Bagaimana Aku Tanpamu? merupakan remake yang tetap mempertahankan premis emosional serta struktur hubungan ibu-anak dari Wedding Dress, tetapi berusaha membawa kisah tersebut ke dalam konteks kehidupan dan budaya Indonesia. Herwin Novianto dan Alim Sudio tidak mencoba menghilangkan identitas cerita aslinya. Sebaliknya, mereka menjadikan hubungan Stella dan Rere sebagai pusat cerita, kemudian memberikan penyesuaian melalui karakter, setting, kultur, humor, serta cara penyampaian yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.Akting dari para pemainnya juga bagus dan unsur komedi yang ada disajikan membuat film terasa lebih berwarna dan tidak terus-menerus berada dalam suasana muram.Bagi penonton yang sudah maupun belum menyaksikan Wedding Dress, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? tetap memiliki ruang untuk dinikmati sebagai sebuah drama keluarga Indonesia mengenai kasih sayang, pengorbanan, kehilangan, dan pentingnya memanfaatkan waktu bersama orang-orang yang kita cintai.Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? cocok dan recommended untuk SOBAT KTF yang sudah maupun belum menonton film aslinya, terutama bagi kalian yang menyukai film keluarga yang hangat, emosional, memiliki unsur komedi, sekaligus membawa pesan tentang arti sebuah keluarga.

Rahmadandi Desky Prayuda 23 Sep 2026
GJLS: Berapi-Api Rilis Teaser Trailer, Tiba-tiba Hadirkan Arya Saloka, Baim Wong dan Chicco Jerikho!
NEWS

GJLS: Berapi-Api Rilis Teaser Trailer, Tiba-tiba Hadirkan Arya Saloka, Baim Wong dan Chicco Jerikho!

Jakarta, 3 September 2026 — Rumah produksi Amadeus Sinemagna bersama GJLS Entertainment resmi merilis Teaser Trailer film layar lebar kedua mereka, GJLS: Berapi-Api, yang dijadwalkan meluncur serentak di bioskop mulai 5 November 2026.Kini siap melawan si jago merah sebagai pemadam kebakaran (damkar), trio GJLS; Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir, tampil gagah berseragam khas petugas damkar dalam film komedi terbaru mereka ini. Plot Twist Skala Nasional: Kejutan Munculnya Nama 3 Aktor Papan AtasNamun, ilusi kekerenan tersebut runtuh tanpa ampun saat teaser trailer mulai diputar.Bukannya aksi penyelamatan yang dramatis, penonton langsung disuguhi kemunculan mendadak nama-nama para bintang besar perfilman tanah air; Arya Saloka, Baim Wong dan Chicco Jerikho. Ingat ya, hanya kemunculan namanya saja. Di bawah arahan sutradara Monty Tiwa, film ini membuktikan ambisinya meramu formula multi-genre: dinamika persahabatan, intrik misteri misi penyelamatan, ketegangan kobaran api, hingga letupan romansa yang dibalut humor spontan tanpa rem.Untuk film kami kali ini, saya dan teman-teman GJLS harus melewati persiapan yang lebih serius, bahkan sampai harus menjalani pelatihan sebagai pemadam kebakaran. Melalui film ini, kami tidak hanya ingin membawakan komedi khas GJLS saja, tapi juga cerita tentang persahabatan yang bisa dekat dengan semua orang," seloroh Rigen Rakelna, pemeran utama sekaligus salah satu pendiri GJLS Entertainment.Monty Tiwa: Mengharmoniskan Drama, Aksi, dan Kekalapan AlamiSineas kawakan Monty Tiwa kembali dipercaya menjinakkan liarnya dinamika trio ini dari bangku sutradara."Di film kedua ini, menjadikan trio GJLS sebagai petugas damkar itu ibarat menyalakan korek api di samping tabung gas bocor: langsung meledak secara organik. 'GJLS: Berapi-Api' bukan cuma soal komedi slapstick, tapi ada benang merah pertaruhan persahabatan, misteri, serta aksi yang menghibur yang kami kemas rapi," tutur Monty Tiwa. Peringatan Bahaya: Segera Amankan KursimuGJLS: Berapi-Api resmi tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 November 2026.Teaser trailer resmi GJLS: Berapi-Api kini sudah mengudara di kanal YouTube Amadeus Sinemagna. Ikuti perkembangan informasi terkini tanpa perlu panik melalui akun Instagram @sinemagna, @gjlsberapiapi, @gjlsentertainment..

Admin Kupas Tuntas Film 04 Sep 2026
The Dangers in My Heart The Movie : Romansa Sederhana yang Lucu, Hangat, dan Bikin Senyum-Senyum Sendiri!
MOVIE
3.0

The Dangers in My Heart The Movie : Romansa Sederhana yang Lucu, Hangat, dan Bikin Senyum-Senyum Sendiri!

The Dangers in My Heart The Movie hadir sebagai versi layar lebar dari salah satu anime romance-comedy yang cukup berhasil mencuri perhatian penonton melalui hubungan unik antara Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada. Film ini digarap oleh Hiroaki Akagi dengan membawa kembali nuansa khas serialnya sekaligus memberikan pengalaman yang lebih padat, fokus, dan sinematik.Bagi penonton yang sudah mengikuti ceritanya hingga Season 2, film ini terasa seperti sebuah perjalanan nostalgia yang kembali mempertemukan kita dengan karakter-karakter yang sudah familiar. Namun bagi yang mengharapkan sebuah cerita yang benar-benar berbeda dari serialnya, film ini mungkin terasa lebih seperti rangkuman yang dikemas ulang dengan beberapa materi baru.Cerita Sederhana, tetapi Dikembangkan dengan Sangat BaikSecara garis besar, cerita The Dangers in My Heart The Movie sebenarnya tidak terlalu rumit. Film ini masih berpusat pada dinamika hubungan Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada, dua karakter dengan kepribadian yang sangat berbeda tetapi perlahan semakin dekat satu sama lain.Tidak ada konflik besar yang harus membuat penonton berpikir keras. Film lebih memilih mengembangkan momen-momen kecil dalam kehidupan mereka menjadi sesuatu yang menarik.Inilah yang menjadi salah satu kekuatan terbesar film.Cerita yang sederhana tersebut mampu dikembangkan dengan baik melalui interaksi karakter, situasi canggung, kesalahpahaman, hingga berbagai kejadian kecil yang terasa relatable. Hubungan Kyotaro dan Anna juga tidak langsung dibuat menjadi romansa yang berlebihan. Perkembangannya terasa bertahap, sehingga penonton bisa menikmati proses keduanya semakin mengenal dan memahami satu sama lain.Yang menarik, kesederhanaan tersebut justru memberikan ruang yang cukup besar bagi film untuk bermain dengan komedi.Komedinya Berhasil Sampai ke PenontonSebagai film bergenre romance comedy, tentu salah satu pertanyaan terpenting adalah apakah jokes yang diberikan mampu membuat penonton tertawa.Jawabannya: cukup berhasil.Berbagai jokes yang muncul terasa menyatu dengan karakter dan situasi yang sedang terjadi. Humor tidak hanya muncul melalui dialog, tetapi juga dari ekspresi wajah, gerakan karakter, timing adegan, serta situasi absurd yang dialami Kyotaro dan teman-temannya.Beberapa momen bahkan terasa semakin lucu karena film mampu membangun situasinya terlebih dahulu sebelum memberikan punchline.Hal tersebut membuat humor yang ada tidak terasa terlalu dipaksakan. Penonton yang sudah mengenal karakter-karakternya sejak serial pun akan mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan karena sudah memahami sifat dan kebiasaan mereka.Bahkan beberapa adegan sederhana bisa berubah menjadi momen yang membuat penonton ikut tertawa di dalam bioskop.Dan yang paling penting, komedi tersebut tidak menghilangkan sisi romantisnya. Film tetap mampu menjaga keseimbangan antara jokes, momen manis, kecanggungan, dan perkembangan hubungan.Penampilan Para Seiyu Menjadi Salah Satu Kekuatan FilmKekuatan lain datang dari penampilan para pengisi suara yang mampu menghidupkan karakter masing-masing.Ayaka Asai sebagai Chihiro Kobayashi mampu memberikan warna tersendiri terhadap karakternya. Sementara itu, Hina Yomiya sebagai Anna Yamada berhasil menghadirkan sisi Anna yang ceria, polos, sekaligus menggemaskan.Kemudian ada Shun Horie sebagai Kyotaro Ichikawa, yang memberikan karakterisasi suara yang cocok dengan sosok Kyotaro.Kyotaro memang membutuhkan pengisi suara yang mampu menunjukkan dua sisi dirinya: sisi luar yang terlihat pendiam dan canggung, serta sisi dalam dirinya yang sering kali dipenuhi pemikiran absurd dan berlebihan.Karakterisasi tersebut menjadi penting karena sebagian besar daya tarik Kyotaro berasal dari apa yang ada di kepalanya dibandingkan dengan apa yang ia tunjukkan kepada orang lain.Megumi Han sebagai Moeko Sekine juga memberikan performa yang cocok dengan karakter yang diperankannya. Kehadiran para seiyu membuat interaksi antarkarakter terasa hidup dan membantu jokes yang diberikan menjadi lebih efektif.Pada akhirnya, chemistry suara antar karakter menjadi salah satu alasan mengapa berbagai momen sederhana dalam film tetap terasa menyenangkan untuk diikuti.Visual Animasi yang Cukup Memanjakan MataDari sisi visual, The Dangers in My Heart The Movie memang bukan film anime yang menjadikan kualitas animasi spektakuler sebagai daya tarik utamanya.Namun, secara keseluruhan kualitas visualnya lumayan bagus, terutama ketika film memperlihatkan beberapa scene pemandangan dan adegan yang berlangsung di luar ruangan.Penggunaan background, lingkungan sekolah, jalanan, serta beberapa lokasi outdoor mampu memberikan kesan dunia yang lebih hidup. Beberapa adegan juga terasa lebih sinematik dibandingkan ketika menontonnya dalam format serial televisi.Visual tersebut semakin membantu membangun suasana romantis yang menjadi bagian penting dari film.Ketika film membutuhkan suasana hangat dan tenang, visualnya mampu mendukung. Ketika memasuki adegan komedi, ekspresi karakter juga menjadi elemen penting yang membuat humor terasa lebih kuat.Versi Padat yang Lebih Fokus dan SinematikSalah satu hal yang perlu dipahami sebelum menonton film ini adalah bahwa The Dangers in My Heart The Movie bukanlah sebuah cerita yang sepenuhnya berdiri sebagai kelanjutan baru dari serialnya.Film ini lebih terasa sebagai versi padat dari perjalanan cerita yang sudah kita kenal, dengan fokus yang lebih diarahkan pada hubungan dan perkembangan karakter utama.Karena durasinya lebih terbatas dibandingkan dua season serial, beberapa bagian tentunya harus dirangkum atau dipadatkan. Namun, keputusan tersebut justru membuat film terasa lebih fokus.Film dapat memilih momen-momen penting yang ingin ditonjolkan tanpa harus terlalu lama berada pada subplot tertentu.Yang membuatnya semakin menarik adalah adanya beberapa adegan baru setelah Season 2. Materi tambahan tersebut memberikan alasan tersendiri bagi penggemar lama untuk kembali melihat perjalanan Kyotaro dan Anna dalam format layar lebar.Dengan penyajian yang lebih sinematik, beberapa momen yang sebelumnya dinikmati dalam episode serial mendapatkan kesempatan untuk terasa lebih spesial ketika ditempatkan dalam format film.KesimpulanThe Dangers in My Heart The Movie mungkin tidak menawarkan cerita yang kompleks ataupun konflik besar. Namun, film ini membuktikan bahwa sebuah cerita sederhana tetap bisa menjadi tontonan yang menarik apabila dikembangkan dengan karakter yang kuat, chemistry yang bagus, serta komedi yang tepat.Cerita yang sederhana berhasil dikembangkan menjadi kisah romance-comedy yang lucu, hangat, dan menyenangkan. Jokes-jokes yang diberikan juga mampu sampai kepada penonton dan menghasilkan beberapa momen yang benar-benar mengundang tawa.Penampilan para seiyu menjadi nilai tambah karena mampu memerankan karakter mereka dengan cocok dan menjaga chemistry antarkarakter tetap terasa.Bagi penggemar serialnya, film ini bisa menjadi kesempatan untuk kembali menikmati hubungan Kyotaro dan Anna dalam format layar lebar. Sedangkan bagi SOBAT KTF yang menyukai anime romance-comedy dengan humor ringan dan karakter yang menggemaskan, film ini tetap menawarkan pengalaman yang menyenangkan.

Rahmadandi Desky Prayuda 05 Sep 2026
Ketika Warisan Gaib Berubah Menjadi Ancaman bagi Keluarga!
MOVIE
3.2

Ketika Warisan Gaib Berubah Menjadi Ancaman bagi Keluarga!

Khadam merupakan film horor Malaysia garapan Shamyl Othman dengan skenario yang ditulis oleh Fariza Azlina. Dibintangi Aghniny Haque, Remy Ishak, Siti Khadijah Halim, Zarra Zaff, Karl El, dan June Lojong, film ini menjadi salah satu kolaborasi perfilman Malaysia dan Indonesia yang membawa cerita tentang kepercayaan terhadap makhluk gaib serta warisan turun-temurun ke dalam sebuah horor bernuansa drama keluarga. Berlatar pada era 1950-an, Khadam mengikuti kisah Melor (Aghniny Haque), seorang ibu yang harus menghadapi warisan mistis keluarganya setelah sang ibu meninggal dunia. Khadam yang diwariskan tersebut bukan sekadar makhluk gaib yang dapat memberikan perlindungan atau membantu kehidupan pemiliknya, tetapi memiliki konsekuensi yang perlahan mulai mengancam kehidupan Melor dan keluarganya.Warisan Gaib yang Tidak Pernah Benar-Benar GratisSalah satu hal menarik dari Khadam adalah bagaimana film ini membangun gagasan mengenai makhluk gaib yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada awalnya, keberadaan Khadam dapat dipandang sebagai sesuatu yang menguntungkan. Makhluk tersebut dipercaya dapat membantu pemiliknya, memberikan perlindungan, menyembuhkan luka, membantu pekerjaan hingga memberikan kemudahan dalam kehidupan. Namun, semua kemudahan tersebut ternyata memiliki harga yang harus dibayar. Dari sinilah film mulai membangun konflik utamanya. Apa yang semula terlihat seperti sebuah warisan justru berubah menjadi beban yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya.Konsep tersebut membuat Khadam tidak hanya berbicara mengenai teror makhluk gaib, tetapi juga mengenai konsekuensi dari keputusan generasi sebelumnya. Sesuatu yang mungkin pernah dianggap sebagai jalan keluar pada masa lalu justru menjadi sumber masalah bagi keluarga di kemudian hari.Horor yang Tidak Sekadar Mengandalkan JumpscareKhadam juga cukup berhasil menghadirkan horor yang tidak semata-mata bergantung pada jumpscare.Memang terdapat beberapa momen yang dirancang untuk memberikan kejutan, tetapi film lebih banyak membangun rasa tidak nyaman melalui suasana, misteri, dan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Melor dan keluarganya.Pendekatan tersebut membuat ketegangan terasa lebih bertahap. Penonton tidak langsung diberikan seluruh jawaban, melainkan diajak mengikuti berbagai petunjuk sebelum memahami hubungan antara Melor, keluarganya, dan Khadam.Ada pula beberapa perkembangan cerita yang cukup tidak terduga. Konsekuensi dari keberadaan Khadam ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat pada awal film.Dengan demikian, Khadam tidak berhenti pada formula sederhana makhluk gaib muncul → karakter ketakutan → jumpscare → selesai, tetapi berusaha membangun konsekuensi yang lebih panjang terhadap kehidupan para karakternya.Cerita yang Perlahan Membuka MisterinyaPada bagian awal, Khadam memang membutuhkan waktu untuk membangun dunianya. Penonton mungkin masih bertanya-tanya mengenai arah cerita dan bagaimana sebenarnya hubungan setiap karakter dengan Khadam. Namun, seiring berjalannya cerita, berbagai potongan informasi mulai terhubung.Beberapa hal sengaja disimpan oleh film dan baru diperlihatkan secara perlahan. Strategi tersebut membuat rasa penasaran tetap terjaga karena penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan Melor hingga akhir.Hal yang menarik adalah bagaimana konflik supernatural tersebut kemudian tidak hanya menjadi ancaman terhadap keselamatan fisik, tetapi juga mulai mengganggu identitas, keluarga, dan posisi Melor sebagai seorang ibu serta istri. Premis resmi film bahkan menggambarkan bagaimana Khadam perlahan mengambil alih peran Melor sebagai istri dan ibu, sehingga konflik yang dihadapi bukan sekadar bagaimana mengalahkan makhluk gaib, tetapi bagaimana mempertahankan kehidupannya sendiri.Aghniny Haque Menjadi Kekuatan UtamaSalah satu kekuatan terbesar Khadam berada pada penampilan Aghniny Haque sebagai Melor.Karakter Melor merupakan peran yang cukup menantang karena sebagian besar emosinya harus disampaikan tanpa mengandalkan dialog. Aghniny diketahui menjalani pelatihan intensif untuk mempelajari bahasa isyarat yang dikembangkan secara khusus untuk kebutuhan film. Hasilnya cukup terasa dalam film.Aghniny mampu membawa Melor sebagai karakter yang tidak hanya berada di tengah-tengah cerita horor, tetapi juga memiliki pergulatan emosional yang kuat sebagai seorang ibu yang berusaha melindungi keluarganya. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta perubahan emosinya menjadi bagian penting dalam menyampaikan kondisi Melor. Hal tersebut membuat karakternya terasa lebih hidup dan membantu menjaga intensitas film, terutama ketika cerita mulai memasuki bagian yang lebih gelap. Penampilan Aghniny juga menjadi semakin menarik karena Khadam merupakan debutnya dalam perfilman Malaysia. Chemistry Para PemainSelain Aghniny Haque, jajaran pemain lainnya juga memberikan kontribusi yang cukup kuat.Remy Ishak sebagai Awang mampu memberikan keseimbangan terhadap karakter Melor. Hubungan keduanya menjadi salah satu elemen emosional yang membantu membuat konflik keluarga dalam film terasa lebih personal. Sementara itu, Siti Khadijah Halim sebagai Manis juga memberikan warna tersendiri. Interaksinya dengan karakter-karakter lain membuat konflik keluarga dalam Khadam terasa semakin kompleks.Zarra Zaff sebagai Puteh, Karl El sebagai Hitam, serta June Lojong sebagai Nek Mak juga memberikan performa yang mendukung atmosfer film. Keenam pemeran utama tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarkarakter yang nantinya berpengaruh terhadap perkembangan konflik.Chemistry antara Aghniny dan Remy juga mendapat perhatian dalam pemberitaan seputar film. Remy sendiri menyebut bahwa mereka dapat membangun keserasian dalam waktu relatif singkat selama proses produksi. Kolaborasi Malaysia dan Indonesia yang MenarikSebagai film hasil kolaborasi lintas negara, Khadam juga menarik untuk diperhatikan dari sisi perpaduan elemen Indonesia dan Malaysia. Film ini diproduksi oleh rumah produksi Malaysia Red Communications dan Komet Productions, dengan keterlibatan pihak Indonesia dalam produksi dan distribusinya. Perpaduan tersebut terasa cukup natural karena cerita Khadam sendiri berangkat dari unsur budaya dan folklor Melayu/Nusantara yang memiliki kedekatan dengan masyarakat di kedua negara.Latar era 1950-an juga membantu membangun identitas visual film. Suasana pedesaan, kehidupan keluarga, serta kepercayaan terhadap hal-hal mistis membuat Khadam memiliki atmosfer yang cukup khas.Sutradara Shamyl Othman juga menjelaskan bahwa cerita film ini berangkat dari keinginan penulis untuk mengeksplorasi kepercayaan dan folklor Melayu mengenai saka. Proses pengembangan ceritanya turut melibatkan riset dengan masyarakat desa dan tokoh agama.KesimpulanSecara keseluruhan, Khadam merupakan film horor yang cukup berhasil menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar rangkaian jumpscare.Film ini memiliki premis yang menarik mengenai warisan makhluk gaib dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya. Ceritanya memang membutuhkan waktu untuk membuka seluruh misterinya, tetapi pendekatan tersebut justru membuat penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan Melor. Kolaborasi Malaysia–Indonesia yang dihadirkan pun terasa cukup apik. Khadam mampu memanfaatkan kedekatan budaya dan folklor kedua negara tanpa kehilangan identitasnya sebagai film horor Malaysia.Pada akhirnya, Khadam bukan film yang sekadar mengandalkan formula “makhluk gaib muncul, penonton dikagetkan, kemudian cerita selesai.” Ada cerita mengenai keluarga, warisan, pengorbanan seorang ibu, serta konsekuensi dari sesuatu yang sejak awal terlihat memberikan keuntungan.Dan setelah melihat apa yang terjadi kepada Melor, satu hal yang mungkin terlintas setelah menonton film ini adalah: beberapa warisan memang sebaiknya tidak pernah diterima.Film ini cocok dan recomended untuk SOBAT KTF yang suka horor dengan unsur mistis , drama , dan penuh rahasia.

Abdul Haris 20 Sep 2026
IT’S MY TIME : Usia Bukan Batas untuk Meraih Mimpi
MOVIE
3.0

IT’S MY TIME : Usia Bukan Batas untuk Meraih Mimpi

IT’S MY TIME hadir sebagai film drama-komedi keluarga yang membawa kisah sederhana, tetapi dikembangkan menjadi sebuah cerita yang hangat, inspiratif, sekaligus cukup emosional. Film ini digarap oleh Xue Bai, yang juga menjadi salah satu penulis naskah bersama Yan Sun dan Yizhou Xu.Mengangkat dunia kompetisi Rubik’s Cube, film ini tidak hanya berbicara tentang kejuaraan dan kemampuan memecahkan kubus warna-warni tersebut. Di balik kompetisinya, IT’S MY TIME justru menawarkan cerita tentang keluarga, persahabatan, kesempatan kedua, serta keberanian untuk membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk melakukan sesuatu yang luar biasa.Terinspirasi dari Kisah Nyata yang InspiratifSalah satu daya tarik utama IT’S MY TIME adalah bagaimana film ini terinspirasi dari kisah nyata Zhao Wenying, seorang guru pensiunan asal Zhejiang, Tiongkok, yang berhasil menjadi orang tercepat menyelesaikan Magic Cube/Rubik’s Cube dengan mata tertutup pada usia 70 tahun.Inspirasi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah cerita fiksi yang lebih dramatis melalui karakter Zhao Yanhong. Film tidak sekadar menjadikan kemampuan bermain Rubik sebagai gimmick, tetapi menggunakannya sebagai simbol bahwa seseorang masih bisa mengejar sesuatu yang baru, bahkan ketika banyak orang menganggap usia seharusnya menjadi batas.Hal tersebut membuat perjalanan Zhao Yanhong terasa lebih bermakna. Ia bukan sekadar ingin memenangkan sebuah kompetisi, tetapi juga ingin membuktikan kepada dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya bahwa kesempatan untuk berkembang tidak pernah benar-benar berhenti.Cerita Sederhana dengan Konflik yang Cukup KompleksPada dasarnya, cerita IT’S MY TIME cukup mudah untuk diikuti. Penonton diajak melihat perjalanan Zhao Yanhong, seorang perempuan yang kemudian menemukan tantangan baru melalui dunia Rubik’s Cube.Namun, perjalanan tersebut tidak berjalan mulus. Film memasukkan berbagai konflik personal dan keluarga yang membuat ceritanya menjadi lebih kompleks.Di satu sisi terdapat ambisi Zhao Yanhong untuk membuktikan kemampuannya. Di sisi lain, ia harus berhadapan dengan berbagai persoalan yang muncul dari hubungan keluarga, persahabatan, masa lalu, hingga orang-orang yang berada di sekitarnya.Menariknya, film mampu menjaga keseimbangan antara konflik tersebut dengan unsur komedi. Ketika dramanya mulai terasa berat, humor dari karakter-karakternya mampu memberikan ruang bernapas sehingga film tidak terasa terlalu melodramatis.Hasilnya adalah sebuah cerita yang terasa hangat, lucu, tetapi tetap memiliki konflik yang cukup kuat.Michelle Yeoh Tampil Memikat sebagai Zhao YanhongMichelle Yeoh menjadi salah satu kekuatan utama film melalui perannya sebagai Zhao Yanhong.Penampilannya mampu membawa karakter yang terlihat sederhana menjadi sosok yang memiliki motivasi dan perjalanan emosional yang kuat. Zhao Yanhong bukan karakter yang dibuat sempurna. Ia memiliki keraguan, masalah, serta berbagai tantangan yang membuat perjalanan karakternya terasa lebih manusiawi.Michelle Yeoh juga berhasil menghadirkan sisi komedi dan emosional dari karakternya secara seimbang. Chemistry yang dibangunnya dengan para pemain lain menjadi salah satu aspek yang membuat hubungan antarkarakter terasa natural.Chemistry Para Pemain Menjadi Kekuatan FilmSelain Michelle Yeoh, Li Haoran juga memberikan penampilan yang menarik sebagai Wu Youwei, mantan juara Rubik terkenal yang kini terlilit hutang.Karakter Wu Youwei menjadi pasangan yang menarik bagi perjalanan Zhao Yanhong. Ia membawa pengalaman dari dunia kompetisi, tetapi kehidupannya sendiri sedang berada dalam kondisi yang tidak ideal. Perbedaan karakter dan latar belakang keduanya membuat interaksi mereka terasa menarik untuk diikuti.Sementara itu, SaRina tampil sebagai Shuzhen, sahabat Zhao Yanhong sejak kecil. Shuzhen merupakan karakter yang gemar membuat keributan dan menghadirkan banyak momen komedi, tetapi di balik sifat tersebut ia merupakan sosok yang sangat setia kepada sahabatnya.Kehadiran Shuzhen memberikan warna tersendiri terhadap film. Hubungannya dengan Zhao Yanhong juga memperlihatkan bahwa persahabatan yang telah dibangun sejak lama bisa menjadi salah satu sumber dukungan terbesar ketika seseorang menghadapi masa sulit.Kemudian ada Tongshen Han sebagai Lao Wan, anak Zhao Yanhong, dan Xi Qi sebagai Manting, istri Lao Wan.Kehadiran keduanya memperkuat sisi drama keluarga dalam film. Hubungan antara Zhao Yanhong dengan anaknya menjadi salah satu elemen yang membuat cerita tidak hanya berfokus pada kompetisi Rubik, tetapi juga tentang bagaimana keputusan seseorang dapat memengaruhi keluarganya.Secara keseluruhan, chemistry antarpemain terasa sangat baik. Interaksi mereka tidak terasa kaku dan justru menjadi salah satu alasan mengapa sisi komedi maupun drama keluarga dalam film dapat bekerja dengan efektif.Perpaduan Komedi, Drama Keluarga, dan Kisah InspiratifSalah satu hal yang membuat IT’S MY TIME menarik adalah keberhasilannya menggabungkan beberapa genre sekaligus.Film ini memiliki komedi yang cukup menghibur, terutama melalui karakter-karakter pendukung dan interaksi antartokohnya.Kemudian terdapat drama keluarga yang memberikan bobot emosional. Konflik yang terjadi bukan hanya mengenai kemenangan dalam kompetisi, tetapi juga mengenai hubungan antara orang tua dan anak, persahabatan, serta bagaimana seseorang menghadapi perubahan dalam hidupnya.Di atas semuanya, terdapat unsur inspiratif yang menjadi jantung cerita.Film ingin menunjukkan bahwa seseorang tidak harus berhenti mengejar impian hanya karena usia terus bertambah. Justru ketika seseorang memiliki kemauan, keberanian, dan ketekunan, selalu ada kemungkinan untuk memulai sesuatu yang baru.Transisi dan Sinematografi yang Menunjang CeritaDari sisi teknis, IT’S MY TIME juga memiliki kualitas visual yang cukup menarik.Transisi antarscenenya terasa rapi dan membantu menjaga ritme cerita. Film tidak hanya berpindah dari satu konflik ke konflik lain secara konvensional, tetapi menggunakan visual dan editing untuk membuat perjalanan karakter terasa lebih dinamis.Sinematografinya juga menjadi salah satu aspek yang patut diapresiasi.Hal tersebut paling terasa ketika film memasuki adegan-adegan kejuaraan Rubik. Momen kompetisi dibuat dengan cukup intens sehingga aktivitas memutar Rubik yang secara sederhana mungkin terlihat biasa dapat berubah menjadi adegan yang menegangkan.Close-up pada Rubik, ekspresi para peserta, pergerakan tangan, serta tempo editing membuat penonton ikut merasakan tekanan ketika waktu terus berjalan.Walaupun penonton mungkin tidak terlalu memahami teknik menyelesaikan Rubik, penyajian visual tersebut tetap mampu membuat kompetisinya terasa menegangkan..Punya Pesan Mendalam Bahwa Usia Bukanlah BatasanPada akhirnya, pesan terbesar yang ingin disampaikan IT’S MY TIME adalah bahwa usia tidak seharusnya menjadi batas bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan.Film ini memperlihatkan bahwa kemampuan seseorang tidak otomatis hilang hanya karena usia bertambah.Selama masih memiliki kemauan untuk belajar, berusaha, dan mencoba, seseorang tetap memiliki kesempatan untuk mencapai sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan.Pesan tersebut terasa semakin kuat karena cerita film berangkat dari inspirasi kisah nyata. Keberhasilan seseorang di usia lanjut dalam menguasai sesuatu yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi menjadi pengingat bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai.IT’S MY TIME juga secara tidak langsung mengajak penonton untuk tidak terlalu cepat menilai kemampuan seseorang berdasarkan umur.Karena terkadang, yang membedakan seseorang yang berhasil dengan mereka yang menyerah bukanlah usia, melainkan kemauan untuk terus mencoba.KesimpulanSecara keseluruhan, IT’S MY TIME merupakan film drama-komedi keluarga yang berhasil menghadirkan kisah kompetisi Rubik dengan pendekatan yang hangat dan inspiratif.Cerita yang terinspirasi dari kisah nyata Zhao Wenying menjadi fondasi yang menarik untuk mengembangkan perjalanan Zhao Yanhong. Konfliknya memang cukup kompleks karena tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga menyentuh persoalan keluarga, persahabatan, kehidupan, dan kesempatan kedua.Penampilan Michelle Yeoh ,Li Haoran, SaRina, Tongshen Han, dan Xi Qi dengan chemistry para pemain terasa kuat sehingga unsur komedi maupun drama keluarga dapat berjalan dengan baik..IT’S MY TIME pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang memenangkan kompetisi Rubik, tetapi tentang bagaimana seseorang berani membuktikan bahwa dirinya masih mampu bermimpi, mencoba, dan mencapai sesuatu yang luar biasa.Film ini cukup bagus dan recommended untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bertema kejuaraan, film keluarga yang hangat, serta drama-komedi yang dibalut dengan kisah inspiratif.

Rahmadandi Desky Prayuda 13 Sep 2026