Logo KTF KupasTuntasFilm

“Jakarta Undercover: Members Only” , Ungkap Misteri di Balik Gemerlap Ibu Kota!

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita

By Admin Kupas Tuntas Film | | 54 views

Dibintangi oleh Caitlin Halderman, Baskara Mahendra, Haico Van der Veken, dan banyak bintang lainnya!


Setelah sukses menghadirkan berbagai Vidio Original Series dengan beragam genre, Vidio kembali merilis trailer perdana Vidio Original Series Jakarta Undercover: Members Only, serial crime drama terbaru yang mengangkat sisi lain kehidupan malam Jakarta melalui kisah penyelidikan, intrik, dan permainan kekuasaan yang penuh misteri. Di balik pintu yang tertutup, ada rahasia yang menunggu dan setiap episodenya selalu ada fakta menggegerkan yang terungkap.

Terinspirasi dari buku Jakarta Undercover karya Moammar Emka (2003), serial ini menghadirkan interpretasi baru yang relevan dengan dinamika Jakarta masa kini.

Disutradarai Aldo Swastia, serial bergenre crime drama ini mengajak penonton menyelami sisi gelap ibu kota yang selama ini tersembunyi di balik gemerlap kehidupan malam.

Mengangkat kisah penuh misteri, Jakarta Undercover: Members Only memperlihatkan bagaimana sebuah dunia eksklusif di balik pintu menyimpan berbagai rahasia yang siap mengubah hidup siapa pun yang memasukinya.


Trailer perdananya dibuka dengan perjalanan Sita (Caitlin Halderman), seorang jurnalis muda yang dihadapkan pada kematian misterius sang kakak, Tania. Menolak percaya bahwa kasus tersebut hanyalah sebuah insiden biasa, Sita terus mencari petunjuk demi mengungkap kebenaran. Ketika penyelidikannya mengarah ke Golden Sunrise Hotel, Sita memutuskan menyusup dengan identitas baru sebagai resepsionis untuk membongkar rahasia yang diyakininya berkaitan dengan kematian sang kakak.


Di balik hotel mewah tersebut, terdapat lift dengan akses khusus "Members Only" yang menjadi gerbang menuju sisi lain Jakarta. Saat memasuki area tersebut, Sita dihadapkan pada realitas kelam kehidupan malam yang penuh eksploitasi, transaksi terselubung, dan permainan kekuasaan.

Di tengah penyelidikannya, ia bertemu Kitty (Haico Van der Veken), seorang perempuan yang bekerja di dunia malam dan perlahan men Di balik hotel mewah tersebut, terdapat lift dengan akses khusus "Members Only" yang menjadi gerbang menuju sisi lain Jakarta.

Saat memasuki area tersebut, Sita dihadapkan pada realitas kelam kehidupan malam yang penuh eksploitasi, transaksi terselubung, dan permainan kekuasaan. Di tengah penyelidikannya, ia bertemu Kitty (Haico Van der Veken), seorang perempuan yang bekerja di dunia malam dan perlahan menjadi salah satu kunci untuk mengungkap semua yang tersembunyi.

Namun, semakin dalam ia mencari kebenaran, semakin besar pula risiko yang harus dihadapinya, drama dimulai ketika ia semakin dekat dengan Arian Hartandi (Baskara Mahendra), putra pemilik hotel. jadi salah satu kunci untuk mengungkap semua yang tersembunyi. Namun, semakin dalam ia mencari kebenaran, semakin besar pula risiko yang harus dihadapinya, drama dimulai ketika ia semakin dekat dengan Arian Hartandi (Baskara Mahendra), putra pemilik hotel.

Selain Caitlin Halderman, Baskara Mahendra, dan Haico Van der Veken series ini juga dibintangi oleh Carissa Perusset, Pangeran Lantang, Brandon Salim, Agnes Naomi dan deretan pemain berbakat lainnya.


Siap menyaksikan sisi gelap Jakarta yang selama ini tersembunyi di balik gemerlap kehidupan malamnya? Jangan lewatkan Vidio Original Series Jakarta Undercover: Members Only mulai Jumat, 7 Agustus 2026 eksklusif hanya di Vidio.

More Recommendations

Petualangan Magis yang Hangat dengan Balutan Mitologi Filipina
MOVIE
4.2

Petualangan Magis yang Hangat dengan Balutan Mitologi Filipina

DreamWorks Animation kembali menghadirkan film animasi original melalui Forgotten Island sebuah film petualangan fantasi yang terasa berbeda karena membawa penonton masuk ke dunia mitologi dan cerita rakyat Filipina.Film ini ditulis sekaligus disutradarai oleh Joel Crawford dan Januel P. Mercado, duo yang sebelumnya bekerja sama dalam Puss in Boots: The Last Wish. Kali ini, keduanya membawa sebuah kisah tentang persahabatan, keluarga, perpisahan, dan kenangan dengan latar dunia mistis bernama Nakali..Yang membuat Forgotten Island terasa fresh adalah keberaniannya menjadikan budaya dan mitologi Filipina sebagai bagian penting dari dunia cerita. Bukan sekadar tempelan visual atau nama karakter, berbagai makhluk dari folklore Filipina menjadi bagian dari petualangan Jo dan Raissa.Mengangkat Mitologi Filipina dengan Cara yang FreshCerita Forgotten Island berpusat pada Jo dan Raissa, dua sahabat yang sudah berteman sejak kecil. Keduanya sedang berada di titik perubahan dalam hidup karena setelah lulus sekolah mereka akan menjalani jalan masing-masing.Ketika sedang merayakan malam terakhir mereka bersama, sebuah portal misterius membawa keduanya menuju Nakali, sebuah pulau fantastis yang dipenuhi berbagai makhluk mitologi dan legenda yang selama ini mereka dengar dari keluarga mereka.Di sinilah Forgotten Island mulai menunjukkan identitasnya. Film ini menghadirkan berbagai elemen dari folklore Filipina, termasuk Manananggal, makhluk yang dalam legenda dikenal mampu memisahkan bagian atas tubuhnya dan terbang. Dalam film, sosok tersebut diwujudkan melalui karakter Manang, yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi Jo dan Raissa.Selain Manananggal, dunia Nakali juga diisi dengan berbagai makhluk fantastis lainnya, termasuk Bungi yang merupakan Tiyanak, Raww yang merupakan weredog, serta Batiba yang memiliki hubungan dengan kenangan. Penggunaan mitologi seperti ini membuat Forgotten Island terasa berbeda dari formula film animasi fantasi pada umumnya. DreamWorks tidak hanya menggunakan dunia fantasi sebagai tempat petualangan, tetapi menjadikannya sebagai cara untuk memperkenalkan kekayaan cerita rakyat Filipina kepada penonton yang lebih luas.Film ini juga terasa personal karena Crawford dan Mercado mengambil inspirasi dari hubungan mereka dengan orang-orang terdekat, termasuk keluarga dan persahabatan yang mereka miliki. Mercado bahkan mengambil inspirasi dari saudara perempuannya, sementara Crawford menyebut istrinya dan hubungan anak-anak mereka dengan sahabat sebagai bagian dari inspirasi cerita.Jo dan Raissa: Persahabatan yang Menjadi Jantung CeritaWalaupun Forgotten Island memiliki banyak monster, dunia magis dan petualangan besar, inti sebenarnya dari film ini adalah hubungan Jo dan Raissa.Jo merupakan sosok yang imajinatif, suka bercerita, penuh energi, tetapi juga cukup impulsif. Sementara Raissa lebih pintar, berhati-hati dan penuh perhitungan.Perbedaan karakter tersebut justru membuat hubungan mereka terasa hidup.Keduanya seperti dua pribadi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Hubungan tersebut menjadi semakin menarik karena mereka sedang menghadapi kenyataan bahwa setelah lulus sekolah, hidup mereka mungkin akan membawa mereka ke arah yang berbeda.Hal ini membuat konflik dalam film terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang mungkin pernah mengalami situasi ketika sahabat yang sudah bersama sejak kecil harus berpisah karena sekolah, pekerjaan, keluarga, atau pilihan hidup.DreamWorks kemudian membawa persoalan sederhana tersebut ke dalam sebuah konsep fantasi yang jauh lebih besar: bagaimana jika untuk pulang kita harus mengorbankan semua kenangan bersama orang yang paling kita sayangi?Di titik inilah konsep Forgotten Island menjadi cukup emosional.Voice Acting yang Menghidupkan KarakterSalah satu kekuatan Forgotten Island adalah jajaran voice actor yang mampu memberikan karakter dan kepribadian yang berbeda pada setiap tokohnya.H.E.R. sebagai Jo terasa cocok dengan karakter Jo yang penuh imajinasi, spontan, dan terkadang impulsif. Energi vokalnya membuat Jo terasa seperti remaja yang benar-benar memiliki rasa ingin tahu besar terhadap dunia di sekitarnya.Sementara Liza Soberano sebagai Raissa memberikan karakter yang lebih tenang dan terukur. Raissa bukan hanya menjadi teman Jo, tetapi juga menjadi sosok yang mampu menyeimbangkan sifat Jo yang terkadang bertindak tanpa berpikir panjang.Chemistry H.E.R. dan Liza menjadi salah satu elemen penting karena hubungan Jo dan Raissa adalah pusat emosional film.Kemudian ada Dave Franco sebagai Raww, karakter weredog yang menjadi salah satu sumber komedi. Raww memiliki kepribadian yang lucu, agak ceroboh, dan mudah terpancing emosi. Konsep weredog ini juga memberikan jenis humor fisik yang berbeda dibanding karakter monster pada umumnya. Jenny Slate sebagai Batiba juga memberikan warna tersendiri. Batiba merupakan makhluk yang memiliki hubungan dengan kenangan dan menjadi karakter yang secara konsep cukup menarik karena berkaitan langsung dengan tema utama film: kehilangan dan rasa takut ditinggalkan.Sementara Manny Jacinto sebagai Bungi menjadi salah satu karakter yang paling mudah mencuri perhatian. Bungi merupakan Tiyanak berukuran besar dengan sifat seperti bayi yang lucu, menggemaskan, sekaligus bisa membawa kekacauan ke dalam kelompok.. Namun, salah satu penampilan yang paling menonjol adalah Lea Salonga sebagai Manang.Manang merupakan sosok Manananggal yang kuat, misterius, dan menakutkan. Menariknya, peran Lea tidak hanya mengandalkan dialog. Suara,napas, dan elemen vokalnya ikut digunakan untuk membangun identitas Manang dalam film. Komposer Nathan Matthew David bahkan menjelaskan bahwa vokal Lea digunakan untuk menciptakan dunia suara khusus bagi karakter tersebut.Hasilnya adalah Manang terasa seperti karakter yang kehadirannya bisa dirasakan bahkan ketika ia tidak banyak berbicara.Visual Animasi yang Magis dan Memanjakan MataSecara visual, Forgotten Island juga menjadi salah satu daya tarik terbesarnya.DreamWorks mampu menciptakan Nakali sebagai sebuah dunia yang terasa sangat berbeda dari dunia manusia. Pulau tersebut dipenuhi warna, bentuk, karakter, makhluk fantastis, hingga lingkungan yang membuat setiap bagian terasa seperti dunia dongeng yang hidup.Menariknya, film ini juga mampu menggabungkan berbagai pendekatan visual dalam satu film. Desain karakter manusia dibuat ekspresif dan mudah dikenali, sementara makhluk-makhluk mitologi mendapatkan bentuk yang jauh lebih bebas dan imajinatif.Hal tersebut membuat setiap kemunculan karakter baru terasa seperti menemukan sesuatu yang berbeda.Gaya visualnya juga memiliki sentuhan yang mengingatkan pada pendekatan Puss in Boots: The Last Wish, terutama dalam keberanian bermain dengan bentuk, gerakan, ekspresi, serta bahasa visual yang tidak selalu mengikuti realisme animasi 3D tradisional.Hasil akhirnya adalah sebuah film yang terasa magis, colorful, dinamis, sekaligus kaya detail.Bagi penonton yang menyukai film animasi dengan world-building kuat, Nakali menjadi salah satu bagian paling menyenangkan untuk dieksplorasi.Drama Keluarga, Persahabatan, Komedi dan PetualanganWalaupun dikemas sebagai film keluarga, Forgotten Island tidak hanya mengandalkan humor dan petualangan.Ada drama mengenai keluarga, perubahan hidup, persahabatan, serta ketakutan menghadapi masa depan.Jo dan Raissa sedang berada di fase ketika masa sekolah mereka berakhir. Apa yang sebelumnya terasa permanen seperti persahabatan mereka mulai menghadapi kemungkinan perubahan.Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam konflik fantasi yang cukup sederhana tetapi efektif.Di Nakali, kenangan bukan sekadar sesuatu yang tersimpan di kepala. Kenangan menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan bisa hilang.Karena itu, petualangan Jo dan Raissa bukan hanya tentang menemukan jalan pulang. Mereka juga harus berusaha mempertahankan sesuatu yang jauh lebih penting: hubungan mereka sebagai sahabat.Di sisi lain, kehadiran Raww, Batiba, Bungi dan karakter lainnya memberikan keseimbangan agar film tidak menjadi terlalu serius.Humornya membantu menjaga Forgotten Island tetap terasa sebagai film keluarga, sementara sisi emosionalnya membuat cerita memiliki bobot lebih.Pesan tentang Perpisahan dan KenanganPesan terbesar yang terasa dari Forgotten Island adalah tentang perpisahan.Dalam kehidupan, tidak semua hubungan bisa berlangsung dalam bentuk yang sama selamanya.Ada sahabat yang akhirnya harus pergi. Ada keluarga yang berpindah tempat. Ada orang yang kita sayangi yang akhirnya memiliki jalan hidup sendiri.Dan terkadang, kita tidak bisa menghentikan perubahan tersebut.Forgotten Island kemudian mengajak penonton untuk melihat perpisahan bukan semata-mata sebagai kehilangan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup.Yang membuat sebuah hubungan berarti bukan hanya berapa lama kita bisa bersama seseorang, tetapi kenangan dan pengalaman yang kita ciptakan ketika masih bersama.Itulah yang membuat konflik Jo dan Raissa terasa cukup relate.Mereka bukan hanya takut kehilangan jalan pulang. Mereka takut suatu hari nanti tidak lagi mengingat mengapa persahabatan mereka begitu berarti.KesimpulanForgotten Island menjadi salah satu film animasi DreamWorks yang terasa fresh karena berani membawa mitologi dan folklore Filipina ke dalam sebuah petualangan fantasi keluarga. Joel Crawford dan Januel P. Mercado berhasil menggabungkan cerita tentang persahabatan dan perpisahan dengan dunia Nakali yang penuh makhluk mitologi, humor, petualangan, serta visual yang memanjakan mata. Kekuatan lainnya datang dari jajaran voice actor yang mampu memerankan karakter mereka dengan bagus dan total.Pada akhirnya, Forgotten Island bukan hanya berbicara tentang monster, pulau mistis, atau bagaimana cara kembali ke rumah.Film ini berbicara tentang persahabatan, keluarga, kenangan dan keberanian menerima bahwa dalam hidup pasti akan ada perpisahan, bahkan dengan sahabat atau seseorang yang sangat kita sayangi.Dan mungkin, justru karena perpisahan itulah setiap momen bersama menjadi begitu berharga. Film keluarga ini cocok dan recommended untuk SOBAT KTF yang suka dengan film animasi dengan cerita yang baru, unsur persahabatan yang hangat, serta petualangan yang seru.

Rahmadandi Desky Prayuda 28 Sep 2026
Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini
NEWS

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic readingJakarta, 26 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. “Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru,” katanya.Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi “Perempuan dalam Karya Asrul Sani” membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, “Asrul Sani di Mata Generasi Muda” mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui “Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario”, yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi “Asrul Sani dan Inovasi Arsip” yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. “Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbuh Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonar (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.Seluruh rangkaian “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacounci

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
Ketika Waktu Bersama Ibu Tidak Pernah Benar-Benar Panjang
MOVIE
3.2

Ketika Waktu Bersama Ibu Tidak Pernah Benar-Benar Panjang

Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? menjadi salah satu drama keluarga Indonesia yang mencoba kembali mengangkat tema sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan banyak orang: hubungan antara ibu dan anak serta rasa takut kehilangan orang yang paling kita cintai.Film yang disutradarai Herwin Novianto dan ditulis oleh Alim Sudio ini merupakan remake dari film Korea Selatan Wedding Dress (2010), dengan skenario asli yang ditulis oleh Kwon Hyeong-jin dan Yoo Yeong-ah. Versi Indonesia ini mempertahankan fondasi utama cerita tentang seorang ibu dan anak yang harus menghadapi kenyataan bahwa kebersamaan mereka memiliki batas waktu.Namun, tantangan terbesar sebuah film remake bukan hanya bagaimana mengulang cerita yang sudah dikenal, melainkan bagaimana membawa cerita tersebut agar terasa relevan dan dekat dengan penonton di negara tempat cerita itu dibuat ulang. Di sinilah Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? mencoba memberikan sentuhan Indonesianya. Premis Emosional yang Tetap DipertahankanSebagai sebuah remake, film ini memang masih mempertahankan premis emosional dan struktur hubungan ibu-anak yang menjadi kekuatan utama film aslinya. Stella (Marsha Timothy) merupakan seorang ibu tunggal sekaligus perancang gaun pengantin yang hidup bersama putrinya, Rere (Ariqa Fakhirah Shakila).Kehidupan mereka berubah ketika Stella mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit serius dan waktu yang dimilikinya tidak lagi panjang. Alih-alih hanya memikirkan kesedihan atas kepergiannya, Stella justru mulai memikirkan bagaimana Rere akan menjalani kehidupan setelah dirinya tidak ada.Ia kemudian berusaha menggunakan sisa waktu yang dimilikinya untuk memberikan berbagai bekal kepada sang anak, menciptakan kenangan, sekaligus mempersiapkan Rere agar mampu menjalani kehidupannya sendiri. Salah satu bentuk kasih sayang tersebut diwujudkan melalui pembuatan “gaun masa depan” untuk Rere.Keputusan Herwin Novianto dan Alim Sudio untuk tidak mengubah fondasi hubungan Stella dan Rere secara berlebihan terasa masuk akal mengingat statusnya sebagai remake. Justru, kekuatan film ini berada pada bagaimana cerita yang sudah memiliki struktur emosional kuat tersebut diterjemahkan ke dalam konteks Indonesia.Penonton yang sudah mengetahui Wedding Dress tentu akan menemukan sejumlah persamaan dalam perjalanan emosional ibu dan anaknya. Namun, film ini tetap berusaha memberikan identitas sendiri melalui karakter, lingkungan, dialog, kebiasaan, serta dinamika keluarga yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.Marsha Timothy dan Ariqa Fakhirah Menjadi Jantung CeritaSalah satu kekuatan terbesar Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? berada pada akting dan chemistry antara Marsha Timothy sebagai Stella dan Ariqa Fakhirah Shakila sebagai Rere.Marsha mampu menghadirkan Stella sebagai sosok ibu yang tidak hanya terlihat kuat, tetapi juga menyimpan banyak kekhawatiran di balik sikapnya. Karakter Stella memiliki beban emosional yang cukup besar karena ia mengetahui sesuatu yang belum sepenuhnya bisa diterima oleh Rere.Menariknya, emosi Stella tidak selalu disampaikan melalui adegan yang besar. Banyak momen justru terasa lebih kuat ketika film memperlihatkan interaksi sederhana antara ibu dan anak. Tatapan, percakapan sehari-hari, perhatian kecil, hingga usaha Stella mengajarkan berbagai hal kepada Rere menjadi bagian yang membuat hubungan mereka terasa lebih manusiawi.Di sisi lain, Ariqa Fakhirah Shakila memberikan penampilan yang cukup kuat sebagai Rere. Ia mampu memperlihatkan perubahan emosi seorang anak yang awalnya menjalani kehidupan seperti biasa, kemudian perlahan harus memahami kenyataan bahwa sosok yang selama ini selalu ada untuknya suatu hari tidak akan lagi berada di sisinya. Chemistry keduanya menjadi salah satu alasan mengapa sisi emosional film dapat bekerja dengan cukup baik. Hubungan Stella dan Rere tidak hanya terasa seperti hubungan karakter dalam sebuah skenario, tetapi mampu memberikan kesan sebagai hubungan ibu dan anak yang memiliki kedekatan emosional.Pemain Pendukung Memperkuat Sisi EmosionalSelain dua pemeran utamanya, kehadiran Sara Wijayanto, Kiki Narendra, dan Kinaryosih juga memberikan warna tersendiri.Ketiga pemain tersebut membantu memperluas dunia Stella dan Rere sehingga cerita tidak terasa hanya berputar pada hubungan ibu dan anak. Kehadiran mereka juga memberikan ruang bagi film untuk mengeksplorasi bagaimana orang-orang di sekitar Stella dan Rere turut menjadi bagian dari perjalanan emosional mereka.Karakter-karakter pendukung tersebut memang tidak mengambil alih pusat cerita, tetapi kehadirannya membantu memperkuat atmosfer keluarga dan hubungan antarkarakter. Unsur Komedi Yang Menambah Warna CeritaDi tengah cerita yang cukup emosional, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? juga tidak sepenuhnya membiarkan penonton berada dalam suasana sedih.Kehadiran Ivan Gunawan, Praz Teguh, dan Papham memberikan unsur komedi yang cukup hidup. Humor yang mereka hadirkan menjadi penyeimbang agar film tidak terasa terlalu berat dari awal hingga akhir.Hal ini menjadi keputusan yang cukup efektif karena cerita mengenai penyakit, kehilangan, dan hubungan orang tua-anak berpotensi membuat film terasa sangat melodramatis apabila hanya mengandalkan adegan emosional.Unsur komedi tersebut membuat perjalanan Stella dan Rere terasa lebih berwarna. Penonton diberikan kesempatan untuk tertawa di antara berbagai momen haru yang perlahan dibangun film.Dengan demikian, komedi tidak hanya berfungsi sebagai selingan, tetapi juga membantu menciptakan keseimbangan tone dalam keseluruhan film.Membawa Wedding Dress ke Dalam Konteks IndonesiaSebagai remake, salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? membawa cerita dari Korea Selatan ke lingkungan Indonesia.Film ini tidak sekadar mengganti bahasa atau pemerannya. Karakter, setting, kultur, dinamika keluarga, hingga cara cerita dikemas berusaha dibuat lebih dekat dengan penonton Indonesia.Penyesuaian tersebut penting karena hubungan antara orang tua dan anak dalam sebuah cerita keluarga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya. Versi Indonesia mencoba membuat konflik dan interaksi antarkarakternya terasa lebih familiar bagi penonton lokal.Hasilnya memang bukan sebuah film yang sepenuhnya berbeda dari film aslinya. Fondasi ceritanya masih sangat terasa sebagai Wedding Dress. Namun, identitas Indonesia yang diberikan membuat kisah tersebut memiliki konteks baru.Hal ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi penonton yang belum pernah menyaksikan film aslinya. Mereka dapat menikmati ceritanya sebagai drama keluarga Indonesia tanpa harus mengetahui terlebih dahulu sumber materi aslinya.Sementara bagi penonton yang sudah menyaksikan Wedding Dress, film ini dapat menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana cerita yang sama diterjemahkan melalui perspektif budaya Indonesia.Punya Pesan Yang Cukup DalamPada akhirnya, kekuatan utama Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? bukan hanya terletak pada cerita tentang kehilangan, tetapi pada bagaimana film ini mengajak penonton memikirkan kembali hubungan mereka dengan orang tua.Film ini mengingatkan bahwa waktu bersama orang tua tidak pernah benar-benar bisa kita pastikan panjangnya.Sering kali kita merasa masih memiliki banyak waktu untuk mengucapkan terima kasih, meminta maaf, memberikan perhatian, atau sekadar mengatakan bahwa kita menyayangi mereka. Padahal, tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu berapa lama kesempatan tersebut akan berlangsung.Karena itu, pesan yang terasa kuat dari film ini adalah pentingnya menyampaikan kasih sayang selagi masih ada kesempatan.Tidak perlu menunggu momen besar untuk menunjukkan perhatian. Bahkan kalimat sederhana seperti “Ibu, aku sayang” bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika disampaikan kepada orang yang kita cintai.Pesan tersebut juga terasa relevan dengan bagaimana film memperlihatkan Stella yang tidak hanya memikirkan kepergiannya, tetapi berusaha meninggalkan bekal, kenangan, dan kasih sayang agar Rere tetap dapat melanjutkan hidup.KesimpulanIbu, Bagaimana Aku Tanpamu? merupakan remake yang tetap mempertahankan premis emosional serta struktur hubungan ibu-anak dari Wedding Dress, tetapi berusaha membawa kisah tersebut ke dalam konteks kehidupan dan budaya Indonesia. Herwin Novianto dan Alim Sudio tidak mencoba menghilangkan identitas cerita aslinya. Sebaliknya, mereka menjadikan hubungan Stella dan Rere sebagai pusat cerita, kemudian memberikan penyesuaian melalui karakter, setting, kultur, humor, serta cara penyampaian yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.Akting dari para pemainnya juga bagus dan unsur komedi yang ada disajikan membuat film terasa lebih berwarna dan tidak terus-menerus berada dalam suasana muram.Bagi penonton yang sudah maupun belum menyaksikan Wedding Dress, Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? tetap memiliki ruang untuk dinikmati sebagai sebuah drama keluarga Indonesia mengenai kasih sayang, pengorbanan, kehilangan, dan pentingnya memanfaatkan waktu bersama orang-orang yang kita cintai.Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? cocok dan recommended untuk SOBAT KTF yang sudah maupun belum menonton film aslinya, terutama bagi kalian yang menyukai film keluarga yang hangat, emosional, memiliki unsur komedi, sekaligus membawa pesan tentang arti sebuah keluarga.

Rahmadandi Desky Prayuda 23 Sep 2026
The Dangers in My Heart The Movie : Romansa Sederhana yang Lucu, Hangat, dan Bikin Senyum-Senyum Sendiri!
MOVIE
3.0

The Dangers in My Heart The Movie : Romansa Sederhana yang Lucu, Hangat, dan Bikin Senyum-Senyum Sendiri!

The Dangers in My Heart The Movie hadir sebagai versi layar lebar dari salah satu anime romance-comedy yang cukup berhasil mencuri perhatian penonton melalui hubungan unik antara Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada. Film ini digarap oleh Hiroaki Akagi dengan membawa kembali nuansa khas serialnya sekaligus memberikan pengalaman yang lebih padat, fokus, dan sinematik.Bagi penonton yang sudah mengikuti ceritanya hingga Season 2, film ini terasa seperti sebuah perjalanan nostalgia yang kembali mempertemukan kita dengan karakter-karakter yang sudah familiar. Namun bagi yang mengharapkan sebuah cerita yang benar-benar berbeda dari serialnya, film ini mungkin terasa lebih seperti rangkuman yang dikemas ulang dengan beberapa materi baru.Cerita Sederhana, tetapi Dikembangkan dengan Sangat BaikSecara garis besar, cerita The Dangers in My Heart The Movie sebenarnya tidak terlalu rumit. Film ini masih berpusat pada dinamika hubungan Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada, dua karakter dengan kepribadian yang sangat berbeda tetapi perlahan semakin dekat satu sama lain.Tidak ada konflik besar yang harus membuat penonton berpikir keras. Film lebih memilih mengembangkan momen-momen kecil dalam kehidupan mereka menjadi sesuatu yang menarik.Inilah yang menjadi salah satu kekuatan terbesar film.Cerita yang sederhana tersebut mampu dikembangkan dengan baik melalui interaksi karakter, situasi canggung, kesalahpahaman, hingga berbagai kejadian kecil yang terasa relatable. Hubungan Kyotaro dan Anna juga tidak langsung dibuat menjadi romansa yang berlebihan. Perkembangannya terasa bertahap, sehingga penonton bisa menikmati proses keduanya semakin mengenal dan memahami satu sama lain.Yang menarik, kesederhanaan tersebut justru memberikan ruang yang cukup besar bagi film untuk bermain dengan komedi.Komedinya Berhasil Sampai ke PenontonSebagai film bergenre romance comedy, tentu salah satu pertanyaan terpenting adalah apakah jokes yang diberikan mampu membuat penonton tertawa.Jawabannya: cukup berhasil.Berbagai jokes yang muncul terasa menyatu dengan karakter dan situasi yang sedang terjadi. Humor tidak hanya muncul melalui dialog, tetapi juga dari ekspresi wajah, gerakan karakter, timing adegan, serta situasi absurd yang dialami Kyotaro dan teman-temannya.Beberapa momen bahkan terasa semakin lucu karena film mampu membangun situasinya terlebih dahulu sebelum memberikan punchline.Hal tersebut membuat humor yang ada tidak terasa terlalu dipaksakan. Penonton yang sudah mengenal karakter-karakternya sejak serial pun akan mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan karena sudah memahami sifat dan kebiasaan mereka.Bahkan beberapa adegan sederhana bisa berubah menjadi momen yang membuat penonton ikut tertawa di dalam bioskop.Dan yang paling penting, komedi tersebut tidak menghilangkan sisi romantisnya. Film tetap mampu menjaga keseimbangan antara jokes, momen manis, kecanggungan, dan perkembangan hubungan.Penampilan Para Seiyu Menjadi Salah Satu Kekuatan FilmKekuatan lain datang dari penampilan para pengisi suara yang mampu menghidupkan karakter masing-masing.Ayaka Asai sebagai Chihiro Kobayashi mampu memberikan warna tersendiri terhadap karakternya. Sementara itu, Hina Yomiya sebagai Anna Yamada berhasil menghadirkan sisi Anna yang ceria, polos, sekaligus menggemaskan.Kemudian ada Shun Horie sebagai Kyotaro Ichikawa, yang memberikan karakterisasi suara yang cocok dengan sosok Kyotaro.Kyotaro memang membutuhkan pengisi suara yang mampu menunjukkan dua sisi dirinya: sisi luar yang terlihat pendiam dan canggung, serta sisi dalam dirinya yang sering kali dipenuhi pemikiran absurd dan berlebihan.Karakterisasi tersebut menjadi penting karena sebagian besar daya tarik Kyotaro berasal dari apa yang ada di kepalanya dibandingkan dengan apa yang ia tunjukkan kepada orang lain.Megumi Han sebagai Moeko Sekine juga memberikan performa yang cocok dengan karakter yang diperankannya. Kehadiran para seiyu membuat interaksi antarkarakter terasa hidup dan membantu jokes yang diberikan menjadi lebih efektif.Pada akhirnya, chemistry suara antar karakter menjadi salah satu alasan mengapa berbagai momen sederhana dalam film tetap terasa menyenangkan untuk diikuti.Visual Animasi yang Cukup Memanjakan MataDari sisi visual, The Dangers in My Heart The Movie memang bukan film anime yang menjadikan kualitas animasi spektakuler sebagai daya tarik utamanya.Namun, secara keseluruhan kualitas visualnya lumayan bagus, terutama ketika film memperlihatkan beberapa scene pemandangan dan adegan yang berlangsung di luar ruangan.Penggunaan background, lingkungan sekolah, jalanan, serta beberapa lokasi outdoor mampu memberikan kesan dunia yang lebih hidup. Beberapa adegan juga terasa lebih sinematik dibandingkan ketika menontonnya dalam format serial televisi.Visual tersebut semakin membantu membangun suasana romantis yang menjadi bagian penting dari film.Ketika film membutuhkan suasana hangat dan tenang, visualnya mampu mendukung. Ketika memasuki adegan komedi, ekspresi karakter juga menjadi elemen penting yang membuat humor terasa lebih kuat.Versi Padat yang Lebih Fokus dan SinematikSalah satu hal yang perlu dipahami sebelum menonton film ini adalah bahwa The Dangers in My Heart The Movie bukanlah sebuah cerita yang sepenuhnya berdiri sebagai kelanjutan baru dari serialnya.Film ini lebih terasa sebagai versi padat dari perjalanan cerita yang sudah kita kenal, dengan fokus yang lebih diarahkan pada hubungan dan perkembangan karakter utama.Karena durasinya lebih terbatas dibandingkan dua season serial, beberapa bagian tentunya harus dirangkum atau dipadatkan. Namun, keputusan tersebut justru membuat film terasa lebih fokus.Film dapat memilih momen-momen penting yang ingin ditonjolkan tanpa harus terlalu lama berada pada subplot tertentu.Yang membuatnya semakin menarik adalah adanya beberapa adegan baru setelah Season 2. Materi tambahan tersebut memberikan alasan tersendiri bagi penggemar lama untuk kembali melihat perjalanan Kyotaro dan Anna dalam format layar lebar.Dengan penyajian yang lebih sinematik, beberapa momen yang sebelumnya dinikmati dalam episode serial mendapatkan kesempatan untuk terasa lebih spesial ketika ditempatkan dalam format film.KesimpulanThe Dangers in My Heart The Movie mungkin tidak menawarkan cerita yang kompleks ataupun konflik besar. Namun, film ini membuktikan bahwa sebuah cerita sederhana tetap bisa menjadi tontonan yang menarik apabila dikembangkan dengan karakter yang kuat, chemistry yang bagus, serta komedi yang tepat.Cerita yang sederhana berhasil dikembangkan menjadi kisah romance-comedy yang lucu, hangat, dan menyenangkan. Jokes-jokes yang diberikan juga mampu sampai kepada penonton dan menghasilkan beberapa momen yang benar-benar mengundang tawa.Penampilan para seiyu menjadi nilai tambah karena mampu memerankan karakter mereka dengan cocok dan menjaga chemistry antarkarakter tetap terasa.Bagi penggemar serialnya, film ini bisa menjadi kesempatan untuk kembali menikmati hubungan Kyotaro dan Anna dalam format layar lebar. Sedangkan bagi SOBAT KTF yang menyukai anime romance-comedy dengan humor ringan dan karakter yang menggemaskan, film ini tetap menawarkan pengalaman yang menyenangkan.

Rahmadandi Desky Prayuda 05 Sep 2026
Film Laut Bercerita Terpilih Ikut Kompetisi Utama Busan International Film Festival (BIFF) 2026!
NEWS

Film Laut Bercerita Terpilih Ikut Kompetisi Utama Busan International Film Festival (BIFF) 2026!

Laut Bercerita tayang mulai 29 Oktober 2026 di bioskop IndonesiaJakarta, 3 September 2026 — Film debut Pal8 Pictures, Laut Bercerita arahan sutradara Yosep Anggi Noen terpilih untuk berkompetisi dalam program utama di Busan International Film Festival (BIFF) 2026). Dengan demikian, artinya film ini akan berkompetisi melawan berbagai film internasional lainnya untuk meraih penghargaan Film Terbaik (Best Film) di festival yang akan berlangsung pada 6–15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan.Penayangan film Laut Bercerita di BIFF 2026 ini sekaligus menjadi momen penayangan perdana (World Premiere), sebelum film ini tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.“Busan International Film Festival adalah platform yang tepat untuk penonton pertama yang menyaksikan film ini. Sebuah film membawa cerita tentang Indonesia, disaksikan oleh penonton sinema Asia dan internasional. Kami berharap penayangan di Busan juga bisa memantik percakapan yang lebih meluas di kawasan Asia mengapa cerita ini penting untuk digarap,” ujar produser Gita Fara. “Busan adalah festival yang besar dan penting untuk perfilman Asia dan dunia. Berada dalam kompetisi utama, Laut Bercerita mengusung kisah yang penting disuarakan ke dunia. 19 tahun lalu, di awal karier film, saya ikut workshop film pemula di Busan dan sekarang saya sangat senang kembali ke Busan membawa film ini,” ujar sutradara Yosep Anggi Noen.“Film-film Indonesia saat ini tersebar di seluruh dunia, bukti bahwa kisah-kisah dari Indonesia relevan secara global. Di sisi lain, kualitasnya semakin baik karena mampu disandingkan dengan film-film kelas dunia,” tambah Anggi.Tahun 2026 adalah BIFF edisi ke-31 dan merupakan satu-satunya festival film di Asia yang diakui sejajar dengan Cannes, Venesia, Berlin, Sundance, dan Toronto untuk memenuhi persyaratan masuk ke ajang Academy Awards.The Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) telah mengumumkan perubahan peraturan untuk ajang Academy Awards ke-99 dengan memperluas jalur kelayakan untuk kategori Best International Feature Film. Dengan demikian, pemenang Best Film di BIFF dapat diajukan untuk dipertimbangkan di kategori Best International Feature Film, terpisah dari proses perwakilan resmi negara.Diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Leila S. Chudori, Laut Bercerita disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. Skenario film juga ditulis oleh Yosep Anggi Noen bersama Leila Chudori ini. Dibintangi oleh Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Nagra Kautsar, Ibnu Jamil, Natalius Chendana, Afrian Arisandy.Produser film ini adalah Gita Fara, Leila S.Chudori dan Budi Setyarso. Film ini diproduksi oleh Pal8 Pictures dan didukung oleh VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak Film, dan Brandlink.Ikuti perkembangan terbaru Laut Bercerita melalui media sosial resmi.Instagram : @filmlautbercerita, @lautbercerita, @pal8picturesFacebook : Film Laut BerceritaThreads : @filmlautberceritaHashtag : #lautbercerita #filmlautbercerita #lautberceritamovie

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
Fresh, Eksentrik, dan Mengganggu! Hasut Buktikan Film Horor tak Perlu Penampakan! Suara HT Bikin Kita Merinding dan Terteror !
NEWS

Fresh, Eksentrik, dan Mengganggu! Hasut Buktikan Film Horor tak Perlu Penampakan! Suara HT Bikin Kita Merinding dan Terteror !

Tonton film Hasut mulai 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia. Jakarta, 25 September 2026 — Tuta Films mempersembahkan film horor-misteri Hasut, karya debut sutradara Ilya Sigma yang mengeksplorasi perasaan takut, curiga, dan terteror dari suara-suara misterius yang muncul dari HT, dan menyesatkan pikiran keempat sahabat di sebuah hutan. Siapa yang berada di balik suara tersebut? Dan mana yang harus dipercaya? Dua pertanyaan ini menjadi tema utama Hasut, sekaligus membawa penonton masuk ke dalam misteri yang dialami keempat sahabat tersebut.Film Hasut menghadirkan horor tanpa penampakan, dengan ketegangan yang dibangun melalui suara-suara misterius yang semakin manipulatif dan memicu paranoia. Justru suara-suara inilah yang membuat teror terasa nyata dan membuat penonton terus bertanya seberapa jauh mereka akan saling mencelakai.Dibintangi empat pemeran utama yang menampilkan akting mereka dengan solid, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova saling curiga satu sama lain, saat suara misterius itu ‘membajak’ HT mereka.Keempatnya yang datang dengan luka dan trauma masa lalu, menjadi semakin tak terkontrol, ketika suara-suara itu juga menghasut mereka untuk saling tak mempercayai hingga akhirnya melukai satu sama lain. Hingga akhir film, kita bertanya, siapa yang menghasut, dan siapa yang bisa dipercaya, saat semua yang terlihat tak sama dengan yang terdengar?“Film Hasut berbicara tentang sebuah rasa curiga dan kepercayaan. Dengan elemen suara yang menjadi kekuatan film ini, Hasut menjadi horor yang datang bukan dari makhluk yang tak terlihat, tapi dari keraguan terhadap diri sendiri dan orang terdekat,” ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma.Film Hasut disutradarai oleh Ilya Sigma, ditulis Ilya Sigma bersama Priesnanda Dwisatria. Film ini diproduseri oleh Putrama Tuta, Siera Tamihardja, dan ko-produser Nick Musa, serta ko-produser Randi Wibawa.“Setelah menonton film Hasut, akan membuat penonton mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita kira sudah kita yakini. Seperti perjalanan empat karakter sahabat di film ini, penonton akan terus dihadapkan pada situasi yang membuat mereka bertanya, siapa yang sebenarnya bisa dipercaya?” Ujar produser Siera Tamihardja.Bagi Rachel Amanda, film Hasut menjadi tantangan baru baginya. Hasut sendiri menjadi film horor ketiga yang dibintanginya. Salah satu yang menantang bagi Amanda adalah lokasi syuting yang sepenuhnya berada di hutan, dengan pemeran yang terdiri dari empat aktor. Kekuatan aktor di film ini juga sangat diuji untuk menghidupkan suasana teror psikologis yang muncul dari suara-suara misterius.“Menonton film Hasut akan membawa kita pada sebuah perasaan tegang, terteror secara psikologis, dan refleksi tentang sebuah relasi terhadap orang terdekat kita.Dan berada di hutan, alam, membuat kita bisa terbuka sisi-sisi yang mungkin selama ini kita tutupi, dan memperlihatkan tentang apakah kita adalah orang yang selama ini menghasut, atau yang dihasut?” Ujar Rachel Amanda“Buat aku salah satu adegan paling emosional adalah saat bersama Rachel Amanda, yang cukup menguras emosi. Karena kami berdua di sini adalah kakak-adik, yang memiliki trauma di masa lalu, dan di hutan inilah, keduanya mencoba membicarakannya untuk pertama kalinya. Perasaan luka masa lalu itu juga yang rasanya membuat karakter Vira dan Rere relate dengan banyak orang,” ujar Karina Salim. Pada akhirnya, Hasut meninggalkan satu pertanyaan menohok: ketika semua orang terlihat bisa dipercaya, tetapi suara yang kita dengar mengatakan sebaliknya, siapa yang akan kita pilih untuk dipercaya?Film Hasut akan tayang di bioskop mulai 8 Oktober 2026. Ikuti perkembangan terbaru melalui akun Instagram @filmhasut & @tutafilms.

Admin Kupas Tuntas Film 25 Sep 2026
VIDEO
Film Kung Fu Soccer : Stephen Chow Kembali dengan Kekocakan Kung Fu dan Sepak Bola!
MOVIE
3.5

Film Kung Fu Soccer : Stephen Chow Kembali dengan Kekocakan Kung Fu dan Sepak Bola!

Setelah cukup lama tidak menghadirkan film layar lebar sebagai sutradara, Stephen Chow akhirnya kembali dengan Kung Fu Soccer (2026).Film aksi, komedi, dan olahraga ini menjadi salah satu proyek yang paling menarik perhatian karena membawa kembali formula yang pernah membuat Shaolin Soccer (2001) begitu ikonik: sepak bola, seni bela diri, aksi berlebihan, komedi absurd, serta karakter-karakter underdog yang berusaha membuktikan kemampuan mereka. Film ini juga menjadi film layar lebar pertama Chow sebagai sutradara setelah The New King of Comedy (2019).Namun, Kung Fu Soccer bukan sekadar mengulang cerita Shaolin Soccer. Kali ini Stephen Chow mengarahkan cerita kepada sebuah tim sepak bola wanita bernama Emei yang harus menghadapi berbagai tantangan dalam turnamen Supreme Invincible Cup. Tim tersebut dipimpin oleh Shuangshuang yang diperankan Zhang Xiaofei, bersama Yu Long yang diperankan Dilraba Dilmurat dan Xu Feng yang diperankan Yixing Zhang.Kembali Ke Formula Stephen ChowSalah satu alasan utama mengapa Kung Fu Soccer terasa menarik adalah karena film ini benar-benar membawa kembali gaya penyutradaraan Stephen Chow.Stephen Chow masih sangat memahami bagaimana menggabungkan komedi slapstick, ekspresi wajah yang berlebihan, dialog kocak, adegan aksi yang tidak masuk akal, serta momen-momen yang sengaja dibuat absurd. Bahkan ketika pertandingan sepak bola berlangsung serius, selalu ada saja kejadian yang membuat suasananya berubah menjadi komedi. Inilah yang membuat film ini terasa seperti karya Stephen Chow.Ada banyak adegan yang seolah-olah mengatakan kepada penonton bahwa mereka tidak perlu terlalu serius ketika menonton film ini. Logika dan hukum fisika bisa ditinggalkan sementara karena yang ingin diberikan Chow adalah hiburan.Konsep kung fu yang diterapkan ke dalam sepak bola juga menjadi daya tarik tersendiri. Tendangan, gerakan tubuh, dan berbagai teknik bela diri dikemas seperti sebuah pertarungan besar, tetapi tetap dengan sentuhan humor.Buat penggemar Shaolin Soccer, formula seperti ini tentu akan terasa sangat familiar.Bahkan secara konsep, Kung Fu Soccer bisa dianggap sebagai penerus spiritual Shaolin Soccer, bukan sekadar film olahraga biasa. Keduanya sama-sama memadukan seni bela diri dengan sepak bola dan menghadirkan kelompok underdog yang harus berjuang menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih kuat.Akting Para Pemain Yang ApikDari sisi akting, jajaran pemain Kung Fu Soccer tampil cukup baik.Zhang Xiaofei sebagai Shuangshuang mampu menjadi pusat perhatian sebagai karakter utama. Ia bisa membawa sisi serius ketika cerita membutuhkannya, tetapi juga mampu mengikuti ritme komedi yang menjadi identitas film.Dilraba Dilmurat juga memberikan penampilan yang menyenangkan. Kehadirannya memberikan energi tersendiri, terutama ketika film mulai memasuki bagian pertandingan.Sementara Yixing Zhang juga cukup menarik sebagai bagian penting dari perjalanan tim.Selain ketiganya, film ini diperkuat oleh deretan pemeran pendukung seperti Mi Ai, Jin Au-Yeung, Louis Cheung, Sisley Choi, Jacob Gau, Carina Lau, Jiayue Li, Zhao Lina, Takeru Satoh, Larine Tang, Jimmy O. Yang, dan Isabelle Zhang.Menariknya, film ini juga membawa sejumlah nama besar Asia sebagai bagian dari jajaran pemainnya. Takeru Satoh dan Carina Lau menjadi salah satu nama yang cukup mencuri perhatian dari jajaran cast.Ceritanya Sederhana , Namun KuatDari segi cerita, Kung Fu Soccer tidak mencoba membuat alur yang terlalu rumit.Fokus utamanya adalah perjalanan tim sepak bola wanita Emei dalam menghadapi berbagai rintangan sampai mereka bisa membuktikan kemampuan di kompetisi besar.Cerita seperti ini sebenarnya sangat familiar namun, kesederhanaan tersebut justru membuat film mudah diikuti.Alurnya tidak berbelit-belit dan penonton bisa dengan cepat memahami tujuan setiap karakter. Film juga tidak terlalu sibuk memasukkan banyak konflik yang justru bisa mengganggu fokus utama.Meski begitu, Kung Fu Soccer tetap memberikan beberapa momen emosional sehingga film tidak hanya berisi komedi dari awal sampai akhir.Komedi Yang Kocak & AbsurdKalau ada satu hal yang paling terasa dari Kung Fu Soccer, tentu saja adalah komedinya.Stephen Chow masih menggunakan jenis humor yang menjadi ciri khasnya: absurd, slapstick, spontan, dan terkadang sengaja dibuat berlebihan.Ada beberapa part yang benar-benar berhasil membuat tertawa karena timing komedinya cukup tepat. Bahkan dalam beberapa adegan pertandingan, sesuatu yang awalnya terlihat serius bisa berubah menjadi lelucon hanya karena ekspresi karakter atau situasi yang tidak terduga.Yang menarik, humor dalam film ini tidak hanya muncul dari dialog. Banyak juga komedi visual yang memanfaatkan gerakan tubuh, editing, efek visual, hingga reaksi para karakter.Buat penonton yang memang cocok dengan gaya komedi Stephen Chow, bagian ini kemungkinan besar menjadi salah satu alasan utama menikmati filmnya.Ada Momen Sedih Di Balik KekocakanWalaupun identitas utamanya adalah film komedi, Kung Fu Soccer tidak melupakan sisi emosional.Beberapa bagian cerita memberikan ruang bagi karakter untuk memperlihatkan perjuangan, tekanan, kegagalan, dan alasan mereka tetap bertahan.Momen-momen tersebut membuat karakter terasa sedikit lebih manusiawi.Perubahan suasana dari komedi menuju adegan yang lebih emosional juga cukup menarik. Penonton yang awalnya tertawa bisa tiba-tiba diajak melihat sisi lain dari karakter-karakternya.Memang tidak semua momen emosionalnya memiliki kedalaman yang luar biasa, tetapi cukup untuk memberikan keseimbangan agar film tidak terasa seperti kumpulan sketsa komedi semata.Adegan Musikal Yang Menambah WarnaSelain kung fu, sepak bola, komedi, dan drama, Kung Fu Soccer juga mempunyai beberapa bagian musikal.Elemen ini memang bukan bagian terbesar dari film, tetapi cukup memberikan variasi.Bagian musikal membuat film terasa semakin ringan dan semakin dekat dengan gaya hiburan Stephen Chow yang memang sering mencampurkan berbagai elemen dalam satu film.Ketika sebuah film sudah mempunyai pertandingan sepak bola, aksi kung fu, komedi absurd, dan drama, kehadiran beberapa bagian musikal justru membuat pengalaman menontonnya semakin unik.Punya Sinematografi & CGI Yang BagusSecara visual, Kung Fu Soccer juga tampil cukup menarik.Adegan pertandingan sepak bola dibuat lebih spektakuler dengan penggunaan kamera yang dinamis serta koreografi yang menggabungkan gerakan sepak bola dengan seni bela diri.CGI juga digunakan untuk memperbesar skala aksi. Tendangan yang biasanya hanya terlihat sebagai tendangan biasa dapat dibuat menjadi sebuah serangan dengan efek yang jauh lebih fantastis.Memang, CGI dalam film seperti ini tidak harus selalu terlihat realistis karena sejak awal Kung Fu Soccer memang bermain di wilayah fantasi dan komedi.Justru visual yang berlebihan tersebut menjadi bagian dari identitas film.Hal ini juga mengingatkan kembali pada Shaolin Soccer, yang terkenal dengan penggunaan efek visual untuk membuat pertandingan sepak bola terasa seperti pertarungan superhero.Stephen Chow Masih Punya Sentuhan MagisnyaHal paling menarik dari Kung Fu Soccer adalah bagaimana Stephen Chow masih mampu mempertahankan identitasnya sebagai seorang filmmaker.Setelah bertahun-tahun, gaya khasnya masih sangat mudah dikenali.Film ini tidak berusaha menjadi film sepak bola yang realistis. Tidak juga mencoba menjadi film kung fu yang serius.Dan menurut MINPAS , keputusan tersebut adalah pilihan yang tepat.Film ini mungkin tidak akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi penonton yang sudah sangat mengenal karya-karya Stephen Chow. Beberapa formula bahkan terasa seperti nostalgia terhadap karya-karya lamanya. Tetapi justru di situlah kesenangannya.Menonton Kung Fu Soccer seperti kembali melihat Stephen Chow bermain dengan dunia yang absurd, karakter underdog, aksi yang tidak masuk akal, dan komedi yang sengaja dibuat kelewat batas.KesimpulanKung Fu Soccer (2026) adalah comeback yang cukup menyenangkan dari Stephen Chow sebagai sutradara.Cerita yang sederhana dan tidak berbelit-belit membuat film mudah dinikmati.Akting para pemainnya juga cukup bagus, sementara komedi absurd khas Stephen Chow menjadi salah satu kekuatan terbesar film.Untuk SOBAT KTF jangan berharap Kung Fu Soccer bisa sepenuhnya mengulang keajaiban Shaolin Soccer ya...Kung Fu Soccer cukup berhasil membawa kembali formula Stephen Chow ke layar lebar dan jelas terasa seperti surat cinta Stephen Chow kepada salah satu formula paling ikonik dalam kariernya.

Rahmadandi Desky Prayuda 14 Aug 2026