Logo KTF KupasTuntasFilm

Debut Executive Producer Nikita Mirzani, Film Beautiful Pain akan Tayang 22 Oktober 2026 Di Bioskop!

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

Kolaborasi Dapur Film milik Hanung Bramantyo dan debut sutradara Dmaz Brodjonegoro, resmi rilis first-look tentang rahasia, luka, dan pengkhianatan.

Jakarta, 26 Agustus 2026 — Di balik senyum hangat sebuah keluarga dan keintiman yang tampak sempurna, selalu ada luka yang disembunyikan rapat-rapat. Rasa sakit itu kini siap disingkap ke layar lebar melalui film drama paling dinanti tahun ini, "Beautiful Pain", yang secara resmi mengumumkan tanggal penayangan serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

Bersamaan dengan pengumuman tanggal rilis tersebut, film ini meluncurkan potongan gambar dan cuplikan video perdana (first-look) yang langsung menebar atmosfer penuh tanda tanya, pekat akan ketegangan batin, dan sarat misteri tak terucap. Proyek prestisius ini sekaligus menandai babak baru dalam karier Nikita Mirzani yang mencatatkan debut perdananya sebagai Executive Producer, berdampingan dengan perannya di depan kamera.

Executive Producer sekaligus pemeran Nikita Mirzani membagikan antusiasmenya terhadap debut di belakang layarnya ini. “Melalui film Beautiful Pain, saya akhirnya mengambil langkah baru untuk mendukung sebuah cerita yang penting untuk dibicarakan. Film ini kami buat untuk kita semua yang pernah merasakan disakiti, dan saya berharap film ini dapat menciptakan diskusi yang penting nantinya.”

Dalam penggarapannya, proyek ini menggandeng rumah produksi bereputasi tinggi Dapur Film milik sutradara kawakan Hanung Bramantyo, serta menjadi ajang unjuk kebolehan bagi sutradara debutan berbakat, Dmaz Brodjonegoro, dalam meramu konflik rumah tangga dan drama psikologis yang intens.

Peluncuran materi first-look foto dan video melalui kanal media sosial resmi serta akun para pemeran utama, seperti Raihaanun, Baim Wong, dan Nikita Mirzani, langsung memantik tanda tanya besar. Pada first-look foto yang dirilis menyajikan teka-teki relasi yang kontras: sosok Raihaanun yang merengkuh kedua anaknya di pesisir pantai dengan tatapan dingin, di foto lainnya terlihat dalam momen intim antara Nikita Mirzani dan Baim Wong di ruang temaram, hingga foto yang menggambarkan kegetiran antara Niki dan Raihaanun, yang mengisyaratkan pengkhianatan besar. Sementara pada video first-look yang dirilis memperlihatkan lapisan trauma problematika rumah tangga yang mendalam, yang dialami oleh karakter Raihaanun. Di satu sisi, ia ingin bangkit meski hidup hanya bersama anak-anak, namun di sisi lain ia harus memberikan pemahaman kepada anak-anaknya tentang pilihan tersebut.

Ikut serta dalam memproduseri film ini, Hanung Bramantyo angkat bicara mengenai alasan yang dimilikinya. “Saya selalu senang dengan adanya suara-suara baru dalam perfilman. Dari awal saya sudah percaya dengan konsep yang dibawa oleh film ini, bagaimana representasi perjuangan sembuh dari trauma yang banyak dari kita pernah lalui. Saya harap film ini dapat menjadi refleksi bagi kita semua."

Apakah kepedihan dan trauma mendalam yang dipikul Raihaanun berakar dari hubungan terlarang yang terjadi antara Baim Wong dan Nikita Mirzani?

Mengusung pesan utama fight the trauma, film ini menyuguhkan sinopsis resmi yang menggetarkan. Beautiful Pain mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal yang berusaha bangkit dari jurang keterpurukan dan menemukan secercah harapan melalui karier barunya sebagai aktris. Namun, harapan itu runtuh seketika saat fitnah keji dan kasus pelecehan seksual menghancurkan nama baiknya hingga merenggut hak asuh atas buah hati tercintanya. Dikelilingi dukungan orang-orang terdekat, ia menolak untuk bungkam dan memilih berdiri teguh melawan ketidakadilan sistem yang bias demi merebut kembali kehormatan, keutuhan keluarga, serta suaranya sebagai seorang perempuan. Isu sensitif seputar KDRT, relasi kuasa, dan kekerasan seksual dibungkus dengan narasi dramatis yang berani dan menyentuh nurani.

Sutradara Dmaz Brodjonegoro memberikan pernyataan mengenai apa yang ingin dibawakannya melalui film ini. “Beautiful Pain bukan hanya tentang trauma, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan merebut kembali suara. Saya berharap film ini mengajak penonton mempertanyakan siapa yang dipercaya, siapa yang dilindungi, dan seperti apa keadilan bagi mereka yang harus memperjuangkannya sendirian.”

Kemegahan cerita Beautiful Pain dihidupkan oleh ansambel pemeran lintas generasi terbaik di industri perfilman Indonesia. Film ini mempertemukan kepiawaian akting Raihaanun, Baim Wong, Jajang C. Noer, Tarra Budiman, Nikita Mirzani, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Sha Ine Febriyanti, Anantya Kirana, Evano Zyan, Willem Bevers, Anastasia Herzigova, hingga Berliana Lovell. Sementara di jajaran kreatif, kursi penyutradaraan dipercayakan kepada Dmaz Brodjonegoro dengan Nikita Mirzani sebagai Executive Producer di bawah naungan bendera produksi Dapur Film.

Film Beautiful Pain siap menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam dan menggugah kesadaran masyarakat di seluruh jaringan bioskop Tanah Air mulai 22 Oktober 2026. Pantau terus kabar terbaru, potongan adegan eksklusif, dan jadwal peluncuran trailer resmi melalui Akun media sosial resmi @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.

More Recommendations

VIDEO
Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!
MOVIE
3.3

Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!

Film horor Asia kembali menghadirkan kisah pengusiran roh lewat The Tao Exorcist (2026) yang di garap oleh sutradara Hau-Jou Chiou. Dibintangi oleh Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang, film ini mencoba memadukan unsur horor supranatural, misteri keluarga, serta ritual pengusiran setan khas budaya Taoisme.Meski mengusung premis yang cukup familiar, The Tao Exorcist tetap menawarkan pengalaman menonton yang seru berkat atmosfer mencekam dan misteri yang perlahan terungkap sepanjang cerita.Cerita yang Sederhana, tetapi Tetap Menarik DiikutiDari segi cerita, The Tao Exorcist sebenarnya tidak menghadirkan alur yang terlalu rumit. Premis tentang pengusiran roh jahat dan balas dendam dari masa lalu memang sudah cukup sering digunakan dalam genre horor Asia.Namun, film ini berhasil mengemas konfliknya dengan cukup baik. Misteri demi misteri dibuka secara bertahap, sehingga penonton tetap memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan para karakternya hingga akhir film.Meskipun beberapa twist terasa mudah ditebak, penyajian ceritanya masih cukup efektif dalam menjaga rasa penasaran. Tempo yang tidak terlalu cepat juga membantu penonton memahami hubungan antara para karakter dan latar belakang konflik yang menjadi inti cerita.Akting Para Pemain Yang Cukup BagusPenampilan Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang berhasil membawa karakter masing-masing dengan cukup meyakinkan. Interaksi antar karakter terasa natural, terutama ketika mereka harus menghadapi situasi penuh teror dan ketegangan.Walaupun tidak menghadirkan penampilan yang benar-benar luar biasa, para pemain mampu menjalankan perannya dengan baik dan mendukung jalannya cerita.Jumpscare & Adegan Gore yang Cukup EfektifSebagai film horor, The Tao Exorcist cukup berhasil menghadirkan suasana mencekam. Beberapa adegan jumpscare mampu memberikan efek kejut tanpa terasa berlebihan atau dipaksakan.Selain itu, film ini juga menyisipkan sejumlah adegan gore yang meskipun tidak terlalu eksplisit, tetap mampu menghadirkan rasa tidak nyaman dan shock bagi penonton. Adegan-adegan tersebut berhasil memperkuat nuansa menyeramkan yang dibangun sepanjang film.Perpaduan antara ritual pengusiran roh, kemunculan sosok menyeramkan, serta unsur gore membuat film ini tetap terasa intens, terutama bagi penggemar horor supranatural Asia.Visual dan Sinematografi yang Cukup Menunjang AtmosferDari sisi visual, Hau-Jou Chiou menghadirkan sinematografi yang cukup baik dalam membangun atmosfer horor. Penggunaan pencahayaan gelap, komposisi gambar yang sempit, serta desain lokasi yang suram mampu menciptakan rasa tegang di beberapa adegan penting.Sayangnya, secara keseluruhan visual film ini masih terasa kurang maksimal untuk meninggalkan kesan mendalam. Ada beberapa momen yang sebenarnya memiliki potensi untuk tampil lebih ikonik, tetapi kurang dieksplorasi secara maksimal.Meski begitu, kualitas visual yang ditawarkan tetap mampu mendukung cerita dan menjaga nuansa horor sepanjang film.KesimpulanThe Tao Exorcist (2026) memang bukan film horor terbaik tahun ini, tetapi juga jauh dari kata mengecewakan. Ceritanya sederhana, namun tetap menarik untuk diikuti hingga akhir. Unsur pengusiran roh yang diangkat berhasil memberikan nuansa khas, sementara jumpscare dan adegan gore menghadirkan beberapa momen yang cukup mengejutkan.Untuk SOBAT KTF penggemar film horor Asia yang menyukai cerita tentang kutukan, ritual pengusiran roh, dan misteri masa lalu yang perlahan terungkap, The Tao Exorcist cocok banget menjadi pilihan yang menghibur bagi kalian yang sedang mencari tontonan horor ringan dengan sentuhan misteri dan supranatural.

Abdul Haris 08 Aug 2026
Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius  Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!
NEWS

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!

iQIYI merilis trailer perdana series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, yang mengangkat realitas di balik manisnya hubungan couple goals.Jakarta, 10 September 2026 — iQIYI resmi merilis trailer perdana iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, original series Indonesia terbaru yang memadukan drama percintaan, perselingkuhan dan kompleksnya hubungan keluarga. Bekerjasama dengan rumah produksi RRK Pictures & Unlimited Production, series ini mengangkat kisah pasangan selebritis yang selama ini dipandang sebagai couple goals dengan kehidupan rumah tangga yang tampak ideal. Namun, di balik sorotan dan citra sempurna yang mereka tampilkan, tersimpan rahasia, kebohongan, serta persoalan lain yang perlahan menguji hubungan dan keluarga mereka.Melalui trailer iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, penonton diajak menyingkap kilasan keretakan kehidupan rumah tangga Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa). Demi mempertahankan keutuhan keluarga sekaligus reputasi mereka di mata publik, keduanya mempertimbangkan sebuah jalan pintas yang tak biasa: open marriage. Keputusan tersebut pun menyisakan tanda tanya bagi penonton: mampukah open marriage menyelamatkan rumah tangga Duta dan Citra atau justru memicu konflik yang jauh lebih besar?“Dibandingkan kisah perselingkuhan pada umumnya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta terasa berbeda karena hadir dengan cerita yang lebih kompleks, menggabungkan sorotan dunia selebriti, drama rumah tangga, hingga elemen misteri yang cukup kental.” ujar Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI.Keretakan Hubungan yang Sempurna dan Unsur MisteriAda dua sisi cerita yang menjadi kekuatan utama series ini. Pertama, gambaran citra sempurna pasangan selebriti, seperti bagaimana sorotan publik, dan ekspektasi sosial memaksa Duta dan Citra terus mempertahankan topeng kebahagiaan meski hubungan mereka retak dari dalam. Kedua, sisi hubungan yang penuh skandal, kesepakatan open marriage dan perselingkuhan yang perlahan berkembang menjadi bom waktu, membawa cerita ke arah yang lebih gelap dan tak terduga.Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dapat mengubah dinamika pernikahan mereka. Duta diam-diam menjalin hubungan dengan Vania (Shania Gracia), sementara Citra perlahan mulai dekat Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dengan Denis (Ciccio Manassero), sosok pria menawan yang hadir di tengah kerumitan hidupnya. Untuk menyelamatkan masalah rumah tangganya, Citra mengajukan sebuah solusi yang mengaburkan batas kesetiaan dan kebebasan dalam pernikahan kepada Duta.Kehadiran Shania Gracia dan Ciccio Manassero turut menambah warna baru pada dinamika series ini. Chemistry keduanya dengan para pemain utama membuat hubungan semakin kompleks, sekaligus membuka berbagai kemungkinan konflik baru. Seiring konflik perselingkuhan yang memanas, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta perlahan mengungkap elemen misteri yang berpotensi semakin mengguncang keluarga serta reputasi Duta dan Citra.Nantikan 10 episode dari iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta yang akan resmi tayang mulai 25 September 2026, hanya di iQIYI. Trailer perdana dan poster series ini dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi iQIYI Indonesia.

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
VIDEO
Perluas Semesta Tayangan Action, Ikatan Darah Hadir Eksklusif di Vidio!!
NEWS

Perluas Semesta Tayangan Action, Ikatan Darah Hadir Eksklusif di Vidio!!

Sebelumnya Tayang di Bioskop, Sebuah Film Action Karya Sidharta Tata Sekarang Dapat Ditonton di Aplikasi Vidio Mulai Dari 28 Agustus 2026Jakarta, 24 Agustus 2026 — Vidio kembali memperkuat semesta action dengan menghadirkan Ikatan Darah, film laga yang menawarkan aksi brutal, pertarungan intens, dan ketegangan tiada henti. Disutradarai oleh Sidharta Tata, sosok di balik Pertaruhan The Series, film ini membawa penonton ke dalam serangkaian pertarungan sengit yang menjadi salah satu kekuatan utama ceritanya. Setelah sebelumnya tayang di festival internasional dan layar lebar Indonesia, Ikatan Darah kini hadir secara eksklusif di Vidio untuk penonton di wilayah Asia Tenggara mulai 28 Agustus 2026.Bukan sekadar menghadirkan aksi sebagai pelengkap cerita, Ikatan Darah menjadikan pertarungan sebagai bagian penting dalam perjalanan para karakternya. Setiap adu fisik dikemas dengan koreografi laga yang intens, kontak fisik yang terasa nyata, serta adegan-adegan penuh ketegangan yang memperlihatkan kerasnya dunia yang dihadapi Mega dan Bilal sebagai karakter utama dalam film ini.Ikatan Darah menceritakan perjuangan Mega (Livi Ciananta), mantan atlet pencak silat yang terpaksa kembali bertarung setelah sang kakak, Bilal (Derby Romero), terjerat utang ratusan juta rupiah. Dalam upaya melunasi utangnya, Bilal terlibat dalam sebuah kejadian yang berujung pada pembunuhan tak disengaja terhadap salah satu petinggi kelompok kriminal. Sejak saat itu, Mega dan Bilal menjadi buronan dan terus diburu oleh kelompok tersebut yang ingin membalas dendam atas kematian orang mereka. Terjebak dalam kejaran tanpa henti, keduanya harus mempertaruhkan nyawa untuk bertahan hidup sekaligus saling melindungi.Film ini juga turut dibintangi oleh Dimas Anggara, Teuku Rifnu Wikana, Lydia Kandou, Ismi Melinda, Abdurrahman Arif, Rama Ramadhan, Agra Piliang, dan Rahmet Ababil.Simak 3 fakta menarik tentang Ikatan Darah!1. Bukan Sekadar Baku Hantam, Setiap Karakter Punya Gaya Bertarung Sendiri. Sumber : Vidio Berbeda dari film action yang menjadikan adegan pertarungan sekedar pelengkap cerita, Ikatan Darah menempatkan laga sebagai bagian penting yang menggerakkan perjalanan para karakternya. Di bawah arahan Sidharta Tata, setiap pertarungan dirancang bukan hanya untuk menghadirkan aksi yang intens, tetapi juga memperlihatkan karakter, kemampuan, dan konsekuensi yang harus mereka hadapi. Ketika situasi semakin terdesak, penonton tidak hanya melihat bagaimana mereka bertarung, tetapi juga bagaimana mereka bertahan. Yang membuatnya semakin menarik, tidak ada satu gaya bertarung yang sama untuk seluruh karakter. Koreografi pencak silat dikembangkan secara khusus dengan mempertimbangkan karakter, kemampuan fisik, serta gestur masing-masing pemain. Hasilnya, setiap pertarungan memiliki identitas tersendiri, dari cara menyerang, bertahan, hingga merespon lawan. Pendekatan ini membuat aksi dalam Ikatan Darah terasa lebih personal, sekaligus menjadikan pertarungan sebagai cara untuk mengenal karakter lebih jauh, bukan sekadar rangkaian adegan baku hantam.2. Livi Ciananta Perankan Mega Nyaris Tanpa Stuntman, Tiga Bulan Persiapan Demi Aksi yang Lebih RealistisSumber : VidioDi balik aksi brutal Ikatan Darah, terdapat persiapan intens selama kurang lebih tiga bulan bersama Uwais Team. Para pemain menjalani latihan hampir setiap hari, mulai dari cardio, conditioning, reading, hingga koreografi fighting untuk membangun fisik, chemistry, serta ritme gerakan yang dibutuhkan dalam setiap adegan. Bagi Livi Ciananta, persiapan ini juga mencakup pembentukan massa otot dan latihan pencak silat dari dasar untuk mendalami karakter Mega. Bahkan, sebagian besar adegan fighting Livi dilakukan sendiri tanpa stuntman.3. Dari Festival Internasional hingga Layar Lebar, Kini Hadir Eksklusif di Vidio. Sebelum tayang di bioskop dan hadir secara eksklusif di Vidio, Ikatan Darah telah lebih dahulu menyapa penonton internasional melalui Fantastic Fest 2025 di Austin, Texas, dilanjutkan dengan kehadirannya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025. Setelah memulai perjalanannya di bioskop Indonesia pada April 2026, Ikatan Darah kini melabuhkan perjalanannya di Vidio. Dengan aksi laga yang intens, pertarungan brutal, dan kisah tentang ikatan keluarga yang dipertaruhkan karena lilitan hutang, Ikatan Darah siap membawa pengalaman action yang penuh adrenalin bagi penonton.Sumber : VidioSaksikan Ikatan Darah mulai 28 Agustus 2026, eksklusif hanya di Vidio dan tersedia khusus untuk penonton di wilayah Asia Tenggara.SAKSIKAN IKATAN DARAH DISINI!

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
Babak Baru Karier Gandhi Fernando sebagai Sutradara di Thailand
NEWS

Babak Baru Karier Gandhi Fernando sebagai Sutradara di Thailand

BANGKOK — Aktor, penulis, sutradara, sekaligus produser asal Indonesia, Gandhi Fernando, memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya. Setelah bertahun-tahun berkarya di industri film Indonesia, Gandhi kini memperluas langkahnya ke Thailand dan mulai membangun karier sebagai sutradara di industri hiburan Negeri Gajah Putih.Keputusan tersebut bukan sesuatu yang terjadi secara instan. Gandhi telah mempelajari bahasa Thai selama lebih dari tiga tahun sebagai bagian dari ketertarikannya terhadap industri hiburan Thailand yang terus berkembang dan semakin dikenal secara internasional.Kini, setelah memutuskan untuk menetap di Thailand, proses panjang tersebut mulai membuahkan hasil. Buat aku, pindah ke Thailand bukan sekadar pindah tempat tinggal. Aku memang ingin keluar dari zona nyaman dan mencoba membangun karir dari awal lagi di industri yang berbeda,” ujar Gandhi.Menjalani produksi di Thailand juga memberikan tantangan baru baginya. Gandhi harus beradaptasi dengan sistem kerja, budaya produksi, hingga berkomunikasi dan mengarahkan aktor serta kru menggunakan bahasa Thai.Yang paling challenging tentu bahasa. Meskipun sudah 4 tahun terakhir aku belajar bahasanya, tapi Bahasa Thai bukan bahasa pertama aku, jadi awalnya ada kekhawatiran apakah aku bisa menyampaikan arahan dengan tepat kepada aktor dan kru. Tapi justru pengalaman itu yang membuat aku merasa berkembang lagi sebagai sutradara,” lanjutnya.Menulis dan Menyutradarai Series ThailandLangkah baru Gandhi di Thailand kini diwujudkan melalui proyek series berbahasa Thai yang ia tulis dan sutradarai.Salah satu proyek pertamanya adalah “Badminton Boys: กัปตันครับ ผมจะจีบพี่”, yang mengambil latar dunia badminton dan mengikuti hubungan rival dua mahasiswa yang dipertemukan melalui olahraga tersebut.Series ini dibintangi oleh aktor Thailand dan diproduksi bersama tim lokal Thailand. Selain duduk di kursi sutradara, Gandhi juga terlibat sebagai penulis. Bagi Gandhi, proyek tersebut menjadi pengalaman penting karena untuk pertama kalinya ia menangani produksi berbahasa Thai secara langsung. Walaupun aku sudah cukup lama bekerja di industri film Indonesia, ketika masuk ke industri Thailand rasanya aku kembali menjadi seorang pemula. Banyak hal yang harus aku pelajari dan adaptasikan lagi. Tapi justru itu yang aku cari ketika memutuskan datang ke sini,” ungkap Gandhi.Bukan Meninggalkan IndonesiaMeski kini menetap dan mulai berkarya di Thailand, Gandhi menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti dirinya meninggalkan industri perfilman Indonesia.Sebaliknya, ia melihat Thailand sebagai perluasan dari perjalanan kariernya sebagai filmmaker.Aku tetap orang Indonesia dan tetap akan berkarya di Indonesia. Tapi sekarang aku juga ingin membuka kemungkinan baru. Aku ingin bisa membuat karya di Indonesia, Thailand, dan kalau ada kesempatan, negara-negara lain juga,” jelasnya. Menurut Gandhi, bekerja di luar Indonesia juga memberinya perspektif baru mengenai bagaimana sebuah cerita dapat dibuat untuk penonton yang semakin global.Ia berharap pengalaman tersebut nantinya dapat membuka lebih banyak kesempatan kolaborasi antara talenta dan industri kreatif Indonesia dengan negara-negara lain di Asia.Memulai Babak BaruPerjalanan Gandhi di Thailand sekaligus menjadi momentum baru setelah bertahun-tahun menjalani berbagai peran di industri hiburan—mulai dari aktor, penulis, produser, pelaku pageant hingga content creator reviewer film. Kini ia ingin memberikan porsi yang lebih besar terhadap kariernya sebagai sutradara dan kreator.Aku sudah cukup lama berada di industri ini. Sekarang aku ingin menantang diri sendiri lagi. Rasanya menyenangkan ketika berada di sebuah tempat baru dan masih banyak hal yang harus aku pelajari,” tutup Gandhi.Proyek Thailand terbaru Gandhi Fernando, “Badminton Boys”, dijadwalkan mulai tayang di iQIYI pada 10 Oktober 2026 dan tersedia di 190 negara. Kehadiran proyek tersebut menjadi langkah awal dari babak baru perjalanan Gandhi Fernando sebagai filmmaker Indonesia yang mulai memperluas kiprahnya ke industri hiburan Thailand.

Admin Kupas Tuntas Film 25 Sep 2026
VIDEO
Remake Julia’s Eyes (2010) dengan Sentuhan Korea yang Mencekam !
MOVIE
4.0

Remake Julia’s Eyes (2010) dengan Sentuhan Korea yang Mencekam !

Industri perfilman Korea Selatan kembali menghadirkan adaptasi yang menarik lewat The Eyes (2026), film thriller psikologis garapan sekaligus ditulis oleh Yeom Ji-ho. Film ini merupakan remake dari film Spanyol Julia’s Eyes (2010) yang sempat menuai pujian berkat kisah misterinya yang menegangkan dan atmosfer psikologis yang kuat. Meski mengikuti garis besar cerita versi aslinya, The Eyes berhasil menghadirkan identitas tersendiri melalui pendekatan visual yang lebih modern, nuansa emosional yang lebih dalam, serta penampilan para pemain yang sangat meyakinkan.Sejak awal, film ini tidak berusaha menyembunyikan akar ceritanya sebagai remake. Justru, Yeom Ji-ho memanfaatkan fondasi cerita Julia’s Eyes untuk menghadirkan pengalaman yang terasa segar bagi penonton baru, sekaligus memberikan interpretasi baru bagi mereka yang sudah mengenal versi Spanyolnya.Shin Min-a Tampil Luar Biasa dalam Peran GandaDaya tarik terbesar film ini tentu berada di tangan Shin Min-a, yang memerankan saudara kembar identik Seo Jin dan Seo In. Memainkan dua karakter yang memiliki wajah sama tetapi kepribadian, emosi, dan perjalanan hidup berbeda bukanlah pekerjaan mudah, namun Shin Min-a mampu melakukannya dengan sangat meyakinkan.Perbedaan karakter keduanya terasa alami tanpa dibuat berlebihan. Melalui ekspresi, intonasi suara, hingga bahasa tubuh, Shin Min-a berhasil membuat penonton langsung mengenali siapa yang sedang muncul di layar meskipun keduanya memiliki wajah yang identik. Penampilannya menjadi pusat emosional film sekaligus alasan mengapa misteri yang dibangun terasa begitu kuat.Chemistry antar pemain juga berjalan sangat solid.Kim Nam-hee sebagai Detektif Do Hyeok tampil tenang namun penuh rasa penasaran, menjadi sosok yang perlahan membantu mengurai misteri. Sementara Kim Young-ah sebagai Detektif Mi Gyeong memberikan dinamika berbeda dalam proses investigasiKehadiran Lee Seung-woo sebagai Hyeon Min pun menjadi salah satu elemen yang membuat ketegangan terus meningkat. Karakternya dibangun secara perlahan hingga meninggalkan kesan yang mengganggu tanpa perlu tampil berlebihan.Misteri yang Terus Membuat Penonton MenebakSalah satu kekuatan terbesar The Eyes adalah cara film ini membangun misteri. Ceritanya tidak memberikan jawaban secara instan, melainkan mengajak penonton menyusun potongan demi potongan teka-teki bersama karakter utama.Setiap petunjuk yang muncul sering kali memunculkan pertanyaan baru, membuat alur cerita sulit ditebak hingga menjelang akhir film. Penonton akan terus dibuat mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya, apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana seluruh kepingan misteri saling terhubung.Ritme seperti ini membuat film terasa sangat efektif sebagai thriller investigasi. Ketegangan lahir bukan dari adegan kejar-kejaran atau aksi berlebihan, melainkan dari rasa penasaran yang terus dipelihara sepanjang durasi.Konsep “Melihat dan Tidak Melihat” yang Menjadi Kekuatan CeritaYang membuat The Eyes berbeda dari thriller kebanyakan adalah penggunaan konsep “melihat dan tidak melihat."Film ini memanfaatkan keterbatasan penglihatan karakter utama sebagai bagian penting dari penceritaan. Penonton diajak merasakan bagaimana sulitnya membedakan kenyataan, firasat, hingga ancaman yang mungkin berada sangat dekat.Konsep tersebut tidak hanya menjadi gimmick visual, tetapi juga menjadi metafora mengenai bagaimana manusia sering kali gagal melihat kebenaran meskipun bukti sebenarnya berada tepat di depan mata. Pendekatan ini membuat pengalaman menonton terasa lebih imersif sekaligus meningkatkan rasa cemas sepanjang film.Sinematografinya pun mendukung konsep tersebut dengan sangat baik. Permainan fokus kamera, pencahayaan redup, sudut pengambilan gambar, hingga penggunaan ruang kosong berhasil menciptakan suasana yang membuat penonton merasa tidak pernah benar-benar aman.Thriller Psikologis yang Mengandalkan Atmosfer, Bukan JumpscareBagi penonton yang mengharapkan film horor penuh kejutan, The Eyes mungkin akan terasa berbeda. Film ini lebih memilih jalur thriller psikologis dibandingkan horor konvensional.Ketegangannya dibangun melalui suasana sunyi, rasa diawasi, tekanan mental, dan kecemasan yang perlahan meningkat dari satu adegan ke adegan berikutnya. Jumpscare memang ada, tetapi digunakan seperlunya sehingga tidak menjadi senjata utama film.Pendekatan ini justru membuat ketakutan yang muncul terasa lebih bertahan lama karena berasal dari kondisi psikologis karakter, bukan sekadar efek kejut sesaat.Remake yang Tetap Menghormati Versi AslinyaSebagai remake, The Eyes cukup setia terhadap inti cerita Julia’s Eyes (2010). Premis, struktur misteri, dan tema utamanya masih dipertahankan, tetapi Yeom Ji-ho memberikan sentuhan baru melalui pendekatan visual khas Korea, ritme yang lebih modern, serta pengembangan emosi karakter yang lebih kuat.Untuk SOBAT KTF yang belum pernah menyaksikan versi Spanyolnya, film ini akan menjadi thriller misteri yang sangat memikat. Sementara bagi penggemar Julia’s Eyes, adaptasi ini menawarkan pengalaman baru tanpa menghilangkan esensi yang membuat cerita aslinya begitu dikenang.KesimpulanThe Eyes (2026) merupakan contoh remake yang berhasil menghormati materi sumber sekaligus menghadirkan identitas baru. Didukung penyutradaraan yang matang dari Yeom Ji-ho, penampilan luar biasa Shin Min-a dalam peran ganda, akting solid dari seluruh pemain, serta cerita penuh teka-teki yang terus membuat penonton berpikir, film ini berhasil menjadi thriller psikologis yang efektif dan memikat.Alih-alih mengandalkan horor konvensional, film ini mengajak penonton larut dalam rasa cemas melalui konsep “melihat dan tidak melihat”, membangun misteri secara perlahan hingga mencapai klimaks yang memuaskan.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bertema thriller psikologis atau film misteri yang penuh intrik dengan atmosfer mencekam, The Eyes (2026) adalah salah satu remake yang layak untuk ditonton!!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026
VIDEO
Night Shift For Cuties
SERIES
4.0

Night Shift For Cuties

Ketika Kehidupan Malam Menjadi Panggung Cerita. Di tengah banyaknya serial yang berlomba menghadirkan konflik besar dan cerita penuh kejutan

Kupas Tuntas Film 05 Jul 2026
Ketika Sebuah Rumah Menjadi Tempat Untuk Menemukan Harapan
MOVIE
3.0

Ketika Sebuah Rumah Menjadi Tempat Untuk Menemukan Harapan

Rumah Singgah hadir sebagai film drama yang tidak hanya mengandalkan konflik emosional, tetapi juga berusaha memberikan ruang bagi hampir setiap tokohnya untuk memiliki cerita masing-masing. Digara​​p oleh Dyan Sunu Prastowo dan ditulis oleh Celvin Jaya Hadi, Raditya Kurnia, dan Aryo Wibianto, film ini menawarkan kisah tentang manusia, hubungan, serta arti sebuah tempat yang perlahan bisa berubah menjadi rumah bagi orang-orang yang sedang membutuhkan tempat untuk pulang.Sejak awal, film ini mampu membangun cerita dengan unsur drama yang cukup kuat. Menariknya, Rumah Singgah tidak hanya berfokus pada satu karakter utama, tetapi memberikan kesempatan kepada sejumlah tokohnya untuk diperkenalkan lebih jauh. Masing-masing memiliki latar belakang, persoalan, dan perjalanan emosional yang membuat keberadaan mereka terasa penting terhadap keseluruhan cerita.Pendekatan tersebut membuat film terasa lebih manusiawi. Penonton tidak hanya diajak mengikuti satu konflik, tetapi juga melihat bagaimana berbagai karakter dengan permasalahan masing-masing bisa saling bertemu, berinteraksi, dan memberikan pengaruh satu sama lain.Bukan Sekadar Tempat PersinggahanSalah satu kekuatan terbesar Rumah Singgah justru terdapat pada judulnya. “Rumah Singgah” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat untuk tinggal sementara.Rumah dalam film ini menjadi ruang tempat para pasien menemukan sesuatu yang mungkin selama ini mereka butuhkan: keluarga, persahabatan, cinta, harapan, dan alasan untuk tetap tersenyum.Mereka mungkin datang sebagai orang-orang yang sedang berada dalam kondisi sulit, tetapi rumah tersebut perlahan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang membuat perjalanan hidup terasa sedikit lebih ringan. Dari sinilah film menunjukkan bahwa rumah tidak selalu berbicara tentang bangunan atau tempat tinggal.Rumah bisa berarti orang-orang yang membuat kita merasa diterima.Makna tersebut menjadi salah satu pesan emosional yang membuat Rumah Singgah terasa dekat dengan kehidupan. Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan solusi besar untuk menghadapi masalahnya. Terkadang, kehadiran orang lain, sebuah percakapan sederhana, persahabatan, atau bahkan tawa kecil sudah cukup untuk memberikan alasan agar seseorang terus bertahan.Akting & Chemistry Dari Para Pemain Yang BagusFilm ini dibintangi oleh Adhisty Zara sebagai Karla, Devano Danendra sebagai Luki, Ciccio Manassero sebagai Toni, dan Messi Gusti sebagai Pika.Keempatnya mampu memberikan warna berbeda terhadap cerita. Adhisty Zara tampil dengan pembawaan emosional yang mampu membawa penonton lebih dekat dengan karakter Karla. Sementara Devano Danendra memberikan keseimbangan melalui karakter Luki yang memiliki dinamika tersendiri dalam cerita.Chemistry antara para pemain juga menjadi salah satu aspek yang membuat film terasa hidup. Hubungan antarkarakter tidak terasa sekadar dibuat untuk kebutuhan cerita, tetapi berkembang melalui interaksi dan berbagai momen yang mereka lalui bersama.Yang menarik, kekuatan akting film ini tidak hanya berasal dari pemeran utamanya. Para pemain pendukung seperti Aming, Dewi Irawan, Alex Abbad, dan Marthino Lio turut memberikan kontribusi besar terhadap atmosfer emosional film.Kehadiran mereka membuat cerita memiliki lapisan emosi yang lebih luas. Beberapa karakter pendukung bahkan mampu mencuri perhatian melalui ekspresi, dialog, maupun interaksi mereka dengan karakter lainnya.Unsur Drama & Komedi yang Berjalan SeimbangMeski membawa tema yang cukup emosional, Rumah Singgah tidak menjadikan dirinya sebagai film drama yang terus-menerus serius.Unsur komedi disisipkan di beberapa bagian dengan cukup baik sehingga film tidak terasa berat ataupun membosankan. Momen-momen ringan tersebut memberikan jeda dari konflik emosional yang sedang berlangsung.Perpaduan antara drama dan komedi ini menjadi salah satu alasan mengapa film tetap terasa nyaman untuk diikuti. Ketika cerita mulai membawa penonton ke situasi yang emosional, humor hadir untuk memberikan sedikit ruang bernapas sebelum cerita kembali membawa penonton kepada konflik utamanya.Keseimbangan tersebut juga terasa penting karena tema yang diangkat sebenarnya cukup sensitif dan emosional. Dengan adanya komedi, film tidak terasa terlalu melodramatis.Punya Sinematografi Yang Cukup BagusDari sisi visual, Rumah Singgah memiliki sinematografi yang cukup baik dalam mendukung suasana cerita. Pengambilan gambar tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi turut membantu membangun atmosfer emosional di beberapa adegan.Salah satu bagian yang cukup menarik adalah scene origami. Adegan tersebut memiliki nilai visual sekaligus emosional yang kuat. Origami yang secara sederhana merupakan aktivitas melipat kertas dapat terasa memiliki makna lebih besar ketika ditempatkan dalam konteks cerita.Visual pada bagian tersebut menjadi salah satu momen yang menunjukkan bahwa Rumah Singgah tidak hanya ingin bercerita melalui dialog. Ada beberapa hal yang disampaikan melalui gambar, gestur, serta objek yang digunakan oleh karakter.Keluarga Bukan Hanya Tentang Ikatan DarahRumah Singgah bukan hanya film mengenai para pasien dan tempat mereka tinggal sementara. Film ini berbicara tentang bagaimana manusia bisa menemukan keluarga di tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.Keluarga dalam film ini tidak selalu hadir melalui hubungan darah. Ia dapat terbentuk melalui persahabatan, kepedulian, kasih sayang, dan keberanian untuk hadir bagi seseorang ketika mereka sedang berada di titik terendah.Film ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu terlihat dari luar. Di balik seseorang yang terlihat kuat, bisa saja terdapat perjuangan yang sangat berat. Karena itu, sedikit perhatian dan kepedulian dari orang lain terkadang bisa memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.KesimpulanSecara keseluruhan, Rumah Singgah merupakan film drama yang berhasil menggabungkan cerita emosional, persahabatan, keluarga, cinta, serta komedi dengan cukup baik. Keputusan untuk memberikan cerita kepada hampir setiap karakter membuat dunia film terasa lebih luas dan membuat penonton memiliki kesempatan untuk memahami perjalanan masing-masing tokoh.Akting dan chemistry para pemain juga menjadi kekuatan utama, ditambah dengan sinematografi yang cukup menarik, mRumah Singgah mampu memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh.Film ini ingin menyampaikan pesan bahwa rumah tidak selalu berarti tempat untuk kembali. Terkadang, rumah adalah tempat di mana kita menemukan orang-orang yang membuat kita kembali memiliki alasan untuk berharap.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bergenre drama, persahabatan, dan keluarga , film ini bisa jadi tonton wajib buat kalian.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Aug 2026