Logo KTF KupasTuntasFilm

Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

Film Aplikasi Iblis tayang mulai 15 Oktober 2026 di bioskop

Jakarta, 31 Agustus 2026 — Dimas Anggara menandai penyutradaraan debut horornya lewat film terbaru persembahan NIH Pictures berjudul Aplikasi Iblis. Film ini dibintangi oleh Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, serta penampilan spesial Della Dartyan.

Film Aplikasi Iblis membawa genre urban supernatural horror yang akan mengisahkan tentang seorang pria yang mencoba kembali terhubung dengan kekasihnya yang telah meninggal melalui sebuah aplikasi misterius. Namun, justru membuka pintu bagi sesuatu yang ingin memanfaatkannya.

Dalam teaser trailer yang dirilis, Arya (diperankan Junior Roberts) ingin melamar kekasihnya, Laras (Dosma Hazenbosch). Namun, keduanya justru harus terpisah dan berbeda dunia untuk selamanya. Arya masih ditemani arwah Laras, tapi, apakah itu benar-benar Laras?

Sementara itu, di teaser poster yang dirilis juga secara jelas menampilkan sosok menyeramkan di layar ponsel. Menandakan sebuah teror yang akan datang, saat kita mencoba menggunakan aplikasi yang disebut bisa menghubungkan dengan arwah orang mati tersebut.

“Film Aplikasi Iblis akan mengikuti kisah Arya. Dia baru saja kehilangan kekasihnya, dan masih sangat rindu dan percaya orang yang telah pergi bisa kembali. Di film ini, saya menggabungkan unsur drama romance tapi juga teror horor yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Ketika kita semua pakai sebuah aplikasi untuk bisa terkoneksi dengan orang yang kita sayangi, apapun jenis aplikasinya. Tapi bedanya, aplikasi di film ini bisa menghubungkan dengan arwah orang yang sudah meninggal,” ujar sutradara Dimas Anggara.

“Buat aku cerita Arya dan Laras itu seperti sepasang kekasih yang sudah merencanakan sesuatu yang indah tapi malah berakhir menjadi tragedi,” ujar pemeran Arya, Junior Roberts.

Sebelumnya, Dimas Anggara telah menyutradarai film #OOTD yang diproduksi oleh NIH Pictures. Kali ini, Dimas kembali mengeksplorasi gagasan kreatifnya sebagai sutradara horor lewat Aplikasi Iblis. Sebuah horor dengan cerita tentang teknologi, kehilangan, dan teror supernatural.

Ikuti terus perkembangan film Aplikasi Iblis melalui media sosial Instagram @aplikasiiblisfilm dan @nihpictues. Film Aplikasi Iblis tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

More Recommendations

Sentilan Budi Doremi Lewat “Cinta Diri Sendiri”
NEWS

Sentilan Budi Doremi Lewat “Cinta Diri Sendiri”

Ini Statement, Aku Yang Paling SelfLove.Jakarta, Agustus 2026 – Budi Doremi kembali. Masih ngomongin cinta, tapi plot twist: kali ini bukan tentang dia. Kali ini tentang lo, tentang kapan lo harus berhenti mengejar dan mulai memilih diri sendiri.Lewat single terbarunya, “Cinta Diri Sendiri”, Budi kayak lagi menyentil pelan tapi nusuk: mungkin selama ini lo terlalu sibuk jadi “orang baik”, sibuk ngerti orang lain, sibuk memperjuangkan sesuatu yang nggak pernah benar-benar memilih lo atau menjadikan lo prioritas, sampai lupa satu hal kecil yang ternyata penting juga: lo juga harus baik ke diri sendiri.Kalau biasanya Budi identik sama lagu yang bikin dada sesek, kali ini auranya beda. Lebih ringan, lebih hangat, lebih “hidup”. Ada ukulele, ada biola, ada vibe santai yang bikin lo tanpa sadar ikut ngangguk, lalu beberapa detik kemudian mikir, “Iya juga ya… gue ngapain segininya banget sih?!”.Karena kadang hidup bukan soal seberapa lama lo bisa bertahan atau seberapa keras lo berusaha sampai sesuatu akhirnya berpihak sama lo. Ada hal-hal yang cukup lo sayangin, lo perjuangin semampunya, lalu memang harus lo lepas. Tahu kapan harus terus jalan dan kapan harus berhenti mungkin justru salah satu bentuk cinta ke diri sendiri yang paling sederhana.Di video musiknya, Budi ngajak Ardit Erwandha, Zoul Pandjoul, dan Shanika Ancita—tiga energi beda yang kalau digabung malah jadi chaos yang seru. Shooting-nya hidup, hasilnya juga dapet: visual yang ringan, fresh, tapi diam-diam nyentil.Lagu ini juga bukan berdiri sendiri. “Cinta Diri Sendiri” adalah lanjutan dari “Ada Untukmu”, dan jadi bagian dari mini album/ EP yang akan datang. Di sini, lagu ini terasa seperti tombol reset. Momen ketika lo berhenti ngejar validasi, terus mulai mikir, “Eh, gue bukan figuran, ya!” Dari situ semuanya mulai geser—cara lo ngelihat cinta, cara lo ngelihat diri sendiri, sampai akhirnya lo ngerti bahwa diri lo sendiri itu penting.“Cinta Diri Sendiri” sudah tersedia di seluruh platform musik digital. Video musiknya juga bisa disaksikan di YouTube: Budi Doremi. Siapa tahu, abis dengerin dan nonton, lo nggak cuma merasa relate, tapi juga akhirnya sadar satu hal: nggak semua hal perlu dikejar.Official Music Video :https://openyoutu.be/M-Kap_WNKbM?si=8YJG7HInunxFuj5RStreaming On All Platforms :Spotify :https://open.spotify.com/track/69G3PsqyDpxfs0RwCRPu1JYoutube Music :https://music.youtube.com/watch?v=3XYbSjirko4&si=5LjU2d6f2N3TUMJRiTunes :https://music.apple.com/id/song/cinta-diri-sendiri/6795851580Meta :https://www.instagram.com/reels/audio/4722470927986672TikTok :https://www.tiktok.com/music/Cinta-Diri-Sendiri-7663100250153338896

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
Ketika Calon Gubernur Tak Bisa Lagi Berbohong, Pencitraan Mulai Berantakan!
NEWS

Ketika Calon Gubernur Tak Bisa Lagi Berbohong, Pencitraan Mulai Berantakan!

Teaser Trailer BAPAK PALING JUJUR Perlihatkan Kekacauan Jonas Prakoso di Tengah Kampanye. Jakarta, 3 September 2026 — Apa jadinya kalau seorang calon gubernur tiba-tiba tidak bisaberbohong? Pertanyaan sederhana itu menjadi awal kekacauan dalam BAPAK PALING JUJUR, film komedi karya sutradara Fajar Nugros yang hari ini merilis teaser trailer resminya. Film ini akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 15 Oktober 2026.Di film ini, Jonas Prakoso (Andovi da Lopez) adalah calon gubernur yang tahu betul bagaimana memenangkan hati rakyat. Ia punya program, janji kampanye, strategi, dan tentu saja citra yang harus dijaga. Semuanya disiapkan agar terlihat meyakinkan di depan publik.Sampai sebuah kutukan dari neneknya membuat Jonas tidak bisa lagi berbohong. Tidak bisa mengelak. Tidak bisa memberi jawaban aman. Tidak bisa mengatakan apa yang seharusnya dikatakan hanya demi menjaga citra. Apa yang ada di kepala, keluar begitu saja.Dan masalahnya, kejujuran tidak selalu enak didengar.Dalam teaser trailer, kutukan tersebut mulai membuat hidup Jonas berantakan. Di tengah kampanye, apa yang seharusnya menjadi janji dan pencitraan justru berubah menjadi pengakuan yang tidak pernah direncanakan. Bahkan di rumah, kejujuran Jonas mulai menimbulkan masalah dengan istrinya, Vanny (Claresta Taufan).Jonas yang selama ini tahu bagaimana mengontrol citranya, kini tidak lagi bisa mengontrol mulutnya sendiri. Dan di situlah kekacauan Jonas benar-benar dimulai. Karena ternyata, berkata jujur terus-terusan juga bukan perkara mudah.“Teaser ini baru awalnya. Yang menarik justru apa yang terjadi setelah Jonas nggak bisa bohong lagi. Kalau seorang calon pemimpin benar-benar harus ngomong jujur setiap saat, kira-kira hidupnya bakal lebih baik atau malah makin kacau?” ujar Aoura Lovenson Chandra, Produser BAPAK PALING JUJUR.“Situasi Jonas memang absurd, tapi justru itu yang membuatnya menarik. Kami nggak ingin menggurui atau menghakimi siapa pun. Kami ingin penonton melihat situasi yang konyol, tertawa, lalu mungkin sadar bahwa apa yang mereka tertawakan sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka sendiri.” ujar Fajar Nugros, Sutradara BAPAK PALING JUJUR.Disutradarai oleh Fajar Nugros, BAPAK PALING JUJUR diadaptasi dari film Korea Selatan Honest Candidate. Film ini dibintangi oleh Andovi da Lopez, Claresta Taufan, Benedictus Siregar, Soleh Solihun, Nayla Purnama, David Nurbianto, Lolox, Cing Abdel, TJ Ruth, Indy Barends, Akim Bagil, Mr. Keminggris, Rizki N. Firmansyah, Jeremy Teti, Elwina Ceritain, Mieke Shahir dan deretan pemain lainnya.BAPAK PALING JUJUR merupakan film ketiga Cahaya Pictures setelah Satu Imam Dua Makmum dan Pesugihan Sate Gagak. Informasi terbaru mengenai film BAPAK PALING JUJUR dapat diikuti melalui akun Instagram @cahayapictures_id dan TikTok @cahayapicturesidBAPAK PALING JUJUR tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 15 Oktober 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
VIDEO
Night Shift For Cuties
SERIES
4.0

Night Shift For Cuties

Ketika Kehidupan Malam Menjadi Panggung Cerita. Di tengah banyaknya serial yang berlomba menghadirkan konflik besar dan cerita penuh kejutan

Kupas Tuntas Film 05 Jul 2026
Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini
NEWS

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic readingJakarta, 26 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. “Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru,” katanya.Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi “Perempuan dalam Karya Asrul Sani” membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, “Asrul Sani di Mata Generasi Muda” mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui “Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario”, yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi “Asrul Sani dan Inovasi Arsip” yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. “Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbuh Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonar (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.Seluruh rangkaian “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacounci

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
Agensi Rumah Tangga Film Komedi Ringan dengan Cerita Keluarga yang Relate
MOVIE
3.5

Agensi Rumah Tangga Film Komedi Ringan dengan Cerita Keluarga yang Relate

Agensi Rumah Tangga merupakan film garapan Naya Anindita dengan skenario yang ditulis oleh Ayu Anggraini, Upi Avianto, dan Almira Bastari. Mengusung perpaduan komedi, drama keluarga, persahabatan, dan romansa, film ini mencoba menghadirkan cerita yang ringan sekaligus dekat dengan berbagai persoalan yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu hal yang membuat Agensi Rumah Tangga cukup menyenangkan untuk diikuti adalah bagaimana film ini mampu menempatkan unsur komedi di tengah cerita yang sebenarnya memiliki persoalan cukup emosional. Humor yang diberikan terasa cukup natural dan tidak selalu bergantung pada lelucon yang berlebihan. Beberapa situasi maupun interaksi antarkarakter mampu menghasilkan momen lucu yang membuat film terasa ringan, terutama ketika ceritanya mulai memasuki konflik yang lebih serius.Cerita yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hariDi balik kemasannya sebagai komedi, Agensi Rumah Tangga memiliki cerita yang cukup relate karena mengangkat perjuangan orang tua dalam menjalani kehidupan dan memenuhi kebutuhan anak. Film ini memberikan perhatian khusus terhadap sosok seorang ibu tunggal yang harus berjuang untuk anaknya.Tema tersebut memang bukan sesuatu yang benar-benar baru dalam film Indonesia, tetapi film ini cukup berhasil menyampaikannya dengan pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami. Perjuangan sang ibu tidak hanya berbicara mengenai persoalan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana seorang orang tua harus mengambil berbagai keputusan demi masa depan anaknya.Hal ini menjadi salah satu sisi emosional film yang cukup terasa. Setelah penonton dibuat tertawa melalui berbagai situasi komedi, film kemudian mengajak penonton melihat sisi lain dari karakter-karakternya dan memahami alasan di balik tindakan mereka.Akting dan Chemistry PemainKekuatan lainnya datang dari akting serta chemistry para pemain. Interaksi antarkarakter terasa cukup meyakinkan sehingga hubungan yang dibangun dalam cerita tidak terasa terlalu dipaksakan. Chemistry tersebut juga membantu membuat bagian komedi bekerja dengan lebih baik. Banyak momen lucu justru terasa muncul dari dinamika karakter dan situasi yang mereka hadapi, bukan sekadar dialog yang sengaja dibuat lucu.Hal serupa juga terlihat ketika film mulai membawa karakter-karakternya ke sisi yang lebih emosional. Perubahan suasana tersebut terasa cukup natural karena penonton sudah terlebih dahulu mengenal dinamika mereka dalam situasi yang lebih ringan.Persahabatan yang Menjadi Warna TersendiriUnsur persahabatan juga menjadi salah satu bagian yang menarik. Hubungan antarkarakter tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap cerita, tetapi turut memberikan ruang bagi film untuk membicarakan arti dukungan, kepercayaan, dan bagaimana seseorang bisa menjadi tempat bersandar ketika menghadapi masalah.Bagian ini membuat film terasa lebih hangat. Persahabatan yang ditampilkan tidak selalu sempurna, tetapi justru dari berbagai perbedaan dan konflik kecil tersebut hubungan antarkarakter terasa lebih manusiawi. Romansa yang Tidak Mengambil Alih Cerita. Sementara itu, unsur romansa juga menjadi bagian yang cukup menyenangkan. Film tidak menjadikan hubungan romantis sebagai satu-satunya fokus utama, sehingga kisah cintanya masih bisa berjalan berdampingan dengan cerita keluarga dan persahabatan.Romansa yang diberikan juga membantu memperkaya karakter dan memberikan dinamika tambahan dalam cerita. Chemistry antarkarakter membuat bagian ini terasa cukup manis tanpa harus menghilangkan fokus utama film mengenai keluarga dan perjuangan hidup.KesimpulanSecara keseluruhan, Agensi Rumah Tangga merupakan film yang berhasil memadukan komedi, drama keluarga, persahabatan, dan romansa dalam sebuah cerita yang cukup ringan dan mudah dinikmati.Kekuatan utamanya terletak pada komedi yang menghibur, chemistry pemain yang terasa natural, serta cerita mengenai perjuangan orang tua yang cukup relate. Unsur persahabatan dan romansanya juga mampu memberikan warna sehingga film tidak hanya berfokus pada konflik keluarga.Meskipun beberapa tema yang diangkat terasa familiar dan tidak semuanya menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, penyampaiannya yang hangat membuat film ini tetap memiliki daya tarik tersendiri.Agensi Rumah Tangga cocok bagi SOBAT KTF yang mencari tontonan ringan, lucu, tetapi tetap memiliki sisi emosional dan pesan mengenai keluarga.

Rahmadandi Desky Prayuda 23 Sep 2026
Totalitas Jadi Riska, Caitlin Halderman Bawa The Hidden Hand Jadi Drama Nomor 1 di Viu Indonesia dan Malaysia
NEWS

Totalitas Jadi Riska, Caitlin Halderman Bawa The Hidden Hand Jadi Drama Nomor 1 di Viu Indonesia dan Malaysia

kerasukan itu pertama kali saya lakukan, jadi bagi saya itu yang paling sulit,” kata Caitlin, dalam acara jumpa pers dengan media Malaysia, dua pekan lalu di Kuala Lumpur.JAKARTA 2 Oktober 2026 – Viu Original The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) mencatat pencapaian kuat sejak penayangannya.Serial yang dibintangi Caitlin Halderman, Meerqeen, dan Hannah Delisha itu menjadi tayangan paling banyak ditonton atau menduduki peringkat pertama di platform Viu Indonesia dan Malaysia.Pencapaian tersebut berjalan beriringan dengan respons penonton di media sosial. Konten terkait The Hidden Hand telah memperoleh lebih dari 75 juta tayangan di media sosial pada minggu pertama. Kemunculan Riska yang diperankan Caitlin menjadi salah satu bagian yang banyak mengundang perhatian. Di balik wajahnya yang terlihat polos, Riska menyimpan rahasia dan rencana besar yang perlahan mengubah kehidupan sebuah keluarga.Caitlin Halderman hadapi adegan kerasukanThe Hidden Hand mengisahkan Riska, perempuan Indonesia yang datang ke Malaysia dan bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman keluarga terpandang.Kehadirannya bukan sebuah kebetulan. Riska merupakan anak Bulan, pekerja rumah tangga yang diperlakukan kejam dan meninggal setelah ditabrak Puan Sri Asyikin.Riska kemudian masuk ke rumah tersebut untuk membalas dendam atas kehancuran hidup ibunya. Namun, rencananya menjadi semakin rumit ketika perasaan iba, rahasia keluarga, dan kekuatan mistis mulai mengambil alih keadaan.Karakter itu menuntut Caitlin menampilkan emosi yang berlapis. Ia tidak hanya harus terlihat tenang dan patuh, tetapi juga menyimpan kemarahan, kesedihan, serta niat yang tidak diketahui orang-orang di sekitarnya.Salah satu tantangan terberat bagi Caitlin adalah ketika harus memainkan adegan kerasukan. Pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang baru sepanjang perjalanan kariernya sebagai aktris.. Adegan kerasukan itu pertama kali saya lakukan, jadi bagi saya itu yang paling sulit,” kata Caitlin, dalam acara jumpa pers dengan media Malaysia, dua pekan lalu di Kuala Lumpur. Menurut Caitlin, serial horor menuntut energi fisik dan emosi lebih besar karena pemain harus menjalani adegan aksi, ketakutan, hingga kerasukan.Pengalaman sebagai mantan atlet polo air turut membantunya menghadapi tuntutan tersebut. Latar belakang olahraga telah melatih kedisiplinan, kesabaran, dan staminanya selama menjalani proses produksi.Mendapat pujian dari MeerqeenTotalitas Caitlin selama produksi juga mendapat perhatian dari Meerqeen, pemeran Syawal dalam The Hidden Hand.Meerqeen menilai Caitlin sebagai lawan main yang rendah hati dan mudah diajak bekerja sama meskipun telah memiliki nama besar di Indonesia.Bekerja dengan Caitlin sangat menyenangkan. Ia tidak sombong meskipun namanya sudah terkenal di Indonesia,” ujar Meerqeen.Meerqeen juga mengapresiasi kesediaan Caitlin mengikuti kebutuhan karakter dan arahan selama pengambilan gambar. Baginya, Caitlin bukan pemain yang banyak menuntut dan tetap bersedia menjalani berbagai kondisi produksi.The Hidden Hand menjadi proyek pertama Caitlin bersama produksi Malaysia. Ia menjalani pengambilan gambar selama lebih dari satu bulan dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, bahasa, serta budaya produksi yang berbeda.Naskah awal serial tersebut ditulis dalam bahasa Malaysia. Sementara itu, Riska diceritakan sebagai perempuan Indonesia. Caitlin pun berdiskusi dengan tim hampir setiap hari untuk menyesuaikan dialog tanpa menghilangkan identitas Riska.. Proses tersebut membuat The Hidden Hand tidak hanya menjadi pertemuan aktor dari dua negara, tetapi juga kolaborasi kreatif yang memadukan cara bertutur Indonesia dan Malaysia.Selain Caitlin, Meerqeen, dan Hannah Delisha, serial 12 episode ini turut dibintangi Datin Sri Umie Aida, Farah Ahmad, Amerul Affendi, Nadia Aqilah, Nadya Syahera, Shaharuddin Thamby, dan Ismail Yaacob. The Hidden Hand (Dia Perempuan Sialan) menghadirkan perpaduan drama keluarga, dendam, pengkhianatan, dan teror supernatural. Episode terbarunya dapat disaksikan setiap Selasa dan Rabu melalui Viu.

Admin Kupas Tuntas Film 02 Oct 2026
VIDEO
Remake Julia’s Eyes (2010) dengan Sentuhan Korea yang Mencekam !
MOVIE
4.0

Remake Julia’s Eyes (2010) dengan Sentuhan Korea yang Mencekam !

Industri perfilman Korea Selatan kembali menghadirkan adaptasi yang menarik lewat The Eyes (2026), film thriller psikologis garapan sekaligus ditulis oleh Yeom Ji-ho. Film ini merupakan remake dari film Spanyol Julia’s Eyes (2010) yang sempat menuai pujian berkat kisah misterinya yang menegangkan dan atmosfer psikologis yang kuat. Meski mengikuti garis besar cerita versi aslinya, The Eyes berhasil menghadirkan identitas tersendiri melalui pendekatan visual yang lebih modern, nuansa emosional yang lebih dalam, serta penampilan para pemain yang sangat meyakinkan.Sejak awal, film ini tidak berusaha menyembunyikan akar ceritanya sebagai remake. Justru, Yeom Ji-ho memanfaatkan fondasi cerita Julia’s Eyes untuk menghadirkan pengalaman yang terasa segar bagi penonton baru, sekaligus memberikan interpretasi baru bagi mereka yang sudah mengenal versi Spanyolnya.Shin Min-a Tampil Luar Biasa dalam Peran GandaDaya tarik terbesar film ini tentu berada di tangan Shin Min-a, yang memerankan saudara kembar identik Seo Jin dan Seo In. Memainkan dua karakter yang memiliki wajah sama tetapi kepribadian, emosi, dan perjalanan hidup berbeda bukanlah pekerjaan mudah, namun Shin Min-a mampu melakukannya dengan sangat meyakinkan.Perbedaan karakter keduanya terasa alami tanpa dibuat berlebihan. Melalui ekspresi, intonasi suara, hingga bahasa tubuh, Shin Min-a berhasil membuat penonton langsung mengenali siapa yang sedang muncul di layar meskipun keduanya memiliki wajah yang identik. Penampilannya menjadi pusat emosional film sekaligus alasan mengapa misteri yang dibangun terasa begitu kuat.Chemistry antar pemain juga berjalan sangat solid.Kim Nam-hee sebagai Detektif Do Hyeok tampil tenang namun penuh rasa penasaran, menjadi sosok yang perlahan membantu mengurai misteri. Sementara Kim Young-ah sebagai Detektif Mi Gyeong memberikan dinamika berbeda dalam proses investigasiKehadiran Lee Seung-woo sebagai Hyeon Min pun menjadi salah satu elemen yang membuat ketegangan terus meningkat. Karakternya dibangun secara perlahan hingga meninggalkan kesan yang mengganggu tanpa perlu tampil berlebihan.Misteri yang Terus Membuat Penonton MenebakSalah satu kekuatan terbesar The Eyes adalah cara film ini membangun misteri. Ceritanya tidak memberikan jawaban secara instan, melainkan mengajak penonton menyusun potongan demi potongan teka-teki bersama karakter utama.Setiap petunjuk yang muncul sering kali memunculkan pertanyaan baru, membuat alur cerita sulit ditebak hingga menjelang akhir film. Penonton akan terus dibuat mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya, apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana seluruh kepingan misteri saling terhubung.Ritme seperti ini membuat film terasa sangat efektif sebagai thriller investigasi. Ketegangan lahir bukan dari adegan kejar-kejaran atau aksi berlebihan, melainkan dari rasa penasaran yang terus dipelihara sepanjang durasi.Konsep “Melihat dan Tidak Melihat” yang Menjadi Kekuatan CeritaYang membuat The Eyes berbeda dari thriller kebanyakan adalah penggunaan konsep “melihat dan tidak melihat."Film ini memanfaatkan keterbatasan penglihatan karakter utama sebagai bagian penting dari penceritaan. Penonton diajak merasakan bagaimana sulitnya membedakan kenyataan, firasat, hingga ancaman yang mungkin berada sangat dekat.Konsep tersebut tidak hanya menjadi gimmick visual, tetapi juga menjadi metafora mengenai bagaimana manusia sering kali gagal melihat kebenaran meskipun bukti sebenarnya berada tepat di depan mata. Pendekatan ini membuat pengalaman menonton terasa lebih imersif sekaligus meningkatkan rasa cemas sepanjang film.Sinematografinya pun mendukung konsep tersebut dengan sangat baik. Permainan fokus kamera, pencahayaan redup, sudut pengambilan gambar, hingga penggunaan ruang kosong berhasil menciptakan suasana yang membuat penonton merasa tidak pernah benar-benar aman.Thriller Psikologis yang Mengandalkan Atmosfer, Bukan JumpscareBagi penonton yang mengharapkan film horor penuh kejutan, The Eyes mungkin akan terasa berbeda. Film ini lebih memilih jalur thriller psikologis dibandingkan horor konvensional.Ketegangannya dibangun melalui suasana sunyi, rasa diawasi, tekanan mental, dan kecemasan yang perlahan meningkat dari satu adegan ke adegan berikutnya. Jumpscare memang ada, tetapi digunakan seperlunya sehingga tidak menjadi senjata utama film.Pendekatan ini justru membuat ketakutan yang muncul terasa lebih bertahan lama karena berasal dari kondisi psikologis karakter, bukan sekadar efek kejut sesaat.Remake yang Tetap Menghormati Versi AslinyaSebagai remake, The Eyes cukup setia terhadap inti cerita Julia’s Eyes (2010). Premis, struktur misteri, dan tema utamanya masih dipertahankan, tetapi Yeom Ji-ho memberikan sentuhan baru melalui pendekatan visual khas Korea, ritme yang lebih modern, serta pengembangan emosi karakter yang lebih kuat.Untuk SOBAT KTF yang belum pernah menyaksikan versi Spanyolnya, film ini akan menjadi thriller misteri yang sangat memikat. Sementara bagi penggemar Julia’s Eyes, adaptasi ini menawarkan pengalaman baru tanpa menghilangkan esensi yang membuat cerita aslinya begitu dikenang.KesimpulanThe Eyes (2026) merupakan contoh remake yang berhasil menghormati materi sumber sekaligus menghadirkan identitas baru. Didukung penyutradaraan yang matang dari Yeom Ji-ho, penampilan luar biasa Shin Min-a dalam peran ganda, akting solid dari seluruh pemain, serta cerita penuh teka-teki yang terus membuat penonton berpikir, film ini berhasil menjadi thriller psikologis yang efektif dan memikat.Alih-alih mengandalkan horor konvensional, film ini mengajak penonton larut dalam rasa cemas melalui konsep “melihat dan tidak melihat”, membangun misteri secara perlahan hingga mencapai klimaks yang memuaskan.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bertema thriller psikologis atau film misteri yang penuh intrik dengan atmosfer mencekam, The Eyes (2026) adalah salah satu remake yang layak untuk ditonton!!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026