Logo KTF KupasTuntasFilm

Sentilan Budi Doremi Lewat “Cinta Diri Sendiri”

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Umum

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

Ini Statement, Aku Yang Paling SelfLove.

Jakarta, Agustus 2026 – Budi Doremi kembali. Masih ngomongin cinta, tapi plot twist: kali ini bukan tentang dia. Kali ini tentang lo, tentang kapan lo harus berhenti mengejar dan mulai memilih diri sendiri.

Lewat single terbarunya, “Cinta Diri Sendiri”, Budi kayak lagi menyentil pelan tapi nusuk: mungkin selama ini lo terlalu sibuk jadi “orang baik”, sibuk ngerti orang lain, sibuk memperjuangkan sesuatu yang nggak pernah benar-benar memilih lo atau menjadikan lo prioritas, sampai lupa satu hal kecil yang ternyata penting juga: lo juga harus baik ke diri sendiri.

Kalau biasanya Budi identik sama lagu yang bikin dada sesek, kali ini auranya beda. Lebih ringan, lebih hangat, lebih “hidup”. Ada ukulele, ada biola, ada vibe santai yang bikin lo tanpa sadar ikut ngangguk, lalu beberapa detik kemudian mikir, “Iya juga ya… gue ngapain segininya banget sih?!”.

Karena kadang hidup bukan soal seberapa lama lo bisa bertahan atau seberapa keras lo berusaha sampai sesuatu akhirnya berpihak sama lo. Ada hal-hal yang cukup lo sayangin, lo perjuangin semampunya, lalu memang harus lo lepas. Tahu kapan harus terus jalan dan kapan harus berhenti mungkin justru salah satu bentuk cinta ke diri sendiri yang paling sederhana.

Di video musiknya, Budi ngajak Ardit Erwandha, Zoul Pandjoul, dan Shanika Ancita—tiga energi beda yang kalau digabung malah jadi chaos yang seru. Shooting-nya hidup, hasilnya juga dapet: visual yang ringan, fresh, tapi diam-diam nyentil.

Lagu ini juga bukan berdiri sendiri. “Cinta Diri Sendiri” adalah lanjutan dari “Ada Untukmu”, dan jadi bagian dari mini album/ EP yang akan datang. Di sini, lagu ini terasa seperti tombol reset. Momen ketika lo berhenti ngejar validasi, terus mulai mikir, “Eh, gue bukan figuran, ya!” Dari situ semuanya mulai geser—cara lo ngelihat cinta, cara lo ngelihat diri sendiri, sampai akhirnya lo ngerti bahwa diri lo sendiri itu penting.

“Cinta Diri Sendiri” sudah tersedia di seluruh platform musik digital. Video musiknya juga bisa disaksikan di YouTube: Budi Doremi. Siapa tahu, abis dengerin dan nonton, lo nggak cuma merasa relate, tapi juga akhirnya sadar satu hal: nggak semua hal perlu dikejar.

Official Music Video :

https://openyoutu.be/M-Kap_WNKbM?si=8YJG7HInunxFuj5R

Streaming On All Platforms :

Spotify :

https://open.spotify.com/track/69G3PsqyDpxfs0RwCRPu1J

Youtube Music :

https://music.youtube.com/watch?v=3XYbSjirko4&si=5LjU2d6f2N3TUMJR

iTunes :

https://music.apple.com/id/song/cinta-diri-sendiri/6795851580

Meta :

https://www.instagram.com/reels/audio/4722470927986672

TikTok :

https://www.tiktok.com/music/Cinta-Diri-Sendiri-7663100250153338896

More Recommendations

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius  Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!
NEWS

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!

iQIYI merilis trailer perdana series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, yang mengangkat realitas di balik manisnya hubungan couple goals.Jakarta, 10 September 2026 — iQIYI resmi merilis trailer perdana iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, original series Indonesia terbaru yang memadukan drama percintaan, perselingkuhan dan kompleksnya hubungan keluarga. Bekerjasama dengan rumah produksi RRK Pictures & Unlimited Production, series ini mengangkat kisah pasangan selebritis yang selama ini dipandang sebagai couple goals dengan kehidupan rumah tangga yang tampak ideal. Namun, di balik sorotan dan citra sempurna yang mereka tampilkan, tersimpan rahasia, kebohongan, serta persoalan lain yang perlahan menguji hubungan dan keluarga mereka.Melalui trailer iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, penonton diajak menyingkap kilasan keretakan kehidupan rumah tangga Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa). Demi mempertahankan keutuhan keluarga sekaligus reputasi mereka di mata publik, keduanya mempertimbangkan sebuah jalan pintas yang tak biasa: open marriage. Keputusan tersebut pun menyisakan tanda tanya bagi penonton: mampukah open marriage menyelamatkan rumah tangga Duta dan Citra atau justru memicu konflik yang jauh lebih besar?“Dibandingkan kisah perselingkuhan pada umumnya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta terasa berbeda karena hadir dengan cerita yang lebih kompleks, menggabungkan sorotan dunia selebriti, drama rumah tangga, hingga elemen misteri yang cukup kental.” ujar Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI.Keretakan Hubungan yang Sempurna dan Unsur MisteriAda dua sisi cerita yang menjadi kekuatan utama series ini. Pertama, gambaran citra sempurna pasangan selebriti, seperti bagaimana sorotan publik, dan ekspektasi sosial memaksa Duta dan Citra terus mempertahankan topeng kebahagiaan meski hubungan mereka retak dari dalam. Kedua, sisi hubungan yang penuh skandal, kesepakatan open marriage dan perselingkuhan yang perlahan berkembang menjadi bom waktu, membawa cerita ke arah yang lebih gelap dan tak terduga.Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dapat mengubah dinamika pernikahan mereka. Duta diam-diam menjalin hubungan dengan Vania (Shania Gracia), sementara Citra perlahan mulai dekat Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dengan Denis (Ciccio Manassero), sosok pria menawan yang hadir di tengah kerumitan hidupnya. Untuk menyelamatkan masalah rumah tangganya, Citra mengajukan sebuah solusi yang mengaburkan batas kesetiaan dan kebebasan dalam pernikahan kepada Duta.Kehadiran Shania Gracia dan Ciccio Manassero turut menambah warna baru pada dinamika series ini. Chemistry keduanya dengan para pemain utama membuat hubungan semakin kompleks, sekaligus membuka berbagai kemungkinan konflik baru. Seiring konflik perselingkuhan yang memanas, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta perlahan mengungkap elemen misteri yang berpotensi semakin mengguncang keluarga serta reputasi Duta dan Citra.Nantikan 10 episode dari iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta yang akan resmi tayang mulai 25 September 2026, hanya di iQIYI. Trailer perdana dan poster series ini dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi iQIYI Indonesia.

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
VIDEO
‘Aku Sebelum Aku’ Sebuah Potret Pencarian Jati Diri dan Luka yang Kerap Tak Terucapkan
MOVIE
4.3

‘Aku Sebelum Aku’ Sebuah Potret Pencarian Jati Diri dan Luka yang Kerap Tak Terucapkan

Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai bertanya, "Apa yang selama ini aku lakukan benar-benar untuk diriku sendiri?"Pertanyaan itulah yang menjadi denyut utama dalam Aku Sebelum Aku (2026). Film terbaru garapan Gina S. Noer ini mengisahkan Jati, seorang remaja laki-laki yang tumbuh di bawah didikan ayah yang keras dan penuh ambisi terhadap masa depannya. Sedari kecil, hidup Jati seolah telah dipetakan tentang apa yang harus ia capai, seperti apa ia harus berkembang, hingga jalan hidup seperti apa yang dianggap terbaik untuknya.Sumber : NetflixPremis tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Tidak sedikit dari kita yang pernah berada di posisi Jati, berusaha memenuhi harapan orang tua, mengejar sesuatu karena dianggap "baik", hingga lupa menanyakan kepada diri sendiri apa yang sebenarnya diinginkan.SinopsisFilm Aku Sebelum Aku mengisahkan Jati (Bima Sena), seorang remaja SMP dengan segudang prestasi yang tampak sempurna di kalangan anak sepantarannya. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan kecemasan akibat tuntutan yang diberikan oleh ayahnya, Jaya (Ringgo Agus Rahman). Alhasil, sebuah momen tak terduga menjadi hasil bom waktu akibat kecemasan yang lama ia pendam. Serangan panik yang berakhir mendatangkannya ke dalam perjalanan juga petualangan nan historis dari lingkungan baru.Tempat Untuk Pulang yang Seringkali Menjadi Sumber LukaSalah satu kekuatan terbesar Aku Sebelum Aku terletak pada bagaimana film ini membangun dinamika hubungan antara Jati dan sang ayah. Konflik yang dihadirkan tidak menempatkan salah satu pihak sebagai sosok yang sepenuhnya benar atau salah. Sebaliknya, film memperlihatkan bagaimana cinta dan perhatian terkadang hadir dalam bentuk yang keliru, menciptakan jarak emosional yang perlahan menjadi luka bagi kedua belah pihak.Sumber : NetflixMelalui hubungan tersebut, film mengajak penonton memahami bahwa setiap anggota keluarga membawa harapan, ketakutan, dan caranya masing-masing dalam menunjukkan kasih sayang. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, niat baik pun dapat berubah menjadi tekanan yang membebani.Pendekatan seperti ini membuat konflik keluarga dalam film terasa begitu manusiawi. Banyak momen yang mungkin akan terasa dekat bagi sebagian penonton, terutama mereka yang pernah berada di persimpangan antara memenuhi ekspektasi orang tua dan menemukan jalan hidupnya sendiri.Membuka Ruang Diskusi Tentang Kesehatan Mental dan Sudut Pandang TerbukaDi balik kisah yang diusung, Aku Sebelum Aku juga menyinggung berbagai isu yang relevan dengan kehidupan saat ini, salah satunya mengenai kesehatan mental. Film ini mengajak penonton untuk melihat bahwa pergulatan batin seseorang seringkali jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.Gina S. Noer menghadirkan berbagai sudut pandang yang mendorong penonton untuk lebih terbuka dan berempati terhadap pengalaman orang lain. Alih-alih menawarkan jawaban yang hitam dan putih, film ini justru memberikan ruang untuk berdiskusi, memahami, dan mempertimbangkan perspektif yang mungkin berbeda dari pengalaman pribadi masing-masing.Sumber : NetflixPendekatan tersebut menjadikan Aku Sebelum Aku terasa lebih dari sekadar kisah tentang pencarian jati diri. Film ini juga menjadi pengingat bahwa memahami seseorang seringkali membutuhkan rasa kesediaan untuk mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.Gina S. Noer dalam Meramu Kisah Coming-of-AgeDalam beberapa tahun terakhir, Gina S. Noer menunjukkan konsistensinya dalam menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan pengalaman manusia dan penuh nuansa emosional. Di Aku Sebelum Aku, ia kembali memperlihatkan kemampuannya dalam mengembangkan narasi coming-of-age yang terasa hangat, personal, dan membumi.Konflik yang dibangun berkembang secara natural hingga mencapai penyelesaiannya. Film tidak terburu-buru dalam menyampaikan pesan dengan membiarkan penonton bertumbuh bersama para karakternya dan memahami setiap keputusan yang mereka ambil.Sumber : NetflixPendekatan yang intim tersebut membuat perjalanan Jati terasa autentik, sekaligus memperkuat tema utama film mengenai pencarian identitas dan keberanian untuk mengenal diri sendiri.KesimpulanPada akhirnya, Aku Sebelum Aku bukan sekadar film tentang seorang remaja yang berkonflik dengan ayahnya. Film ini merupakan refleksi mengenai hubungan keluarga, ekspektasi, dan perjalanan panjang untuk memahami siapa diri kita sebenarnya di tengah berbagai tuntutan yang datang dari luar.Dengan premis yang dekat dengan kehidupan banyak orang, penyutradaraan yang matang dari Gina S. Noer, serta keberaniannya mengangkat isu kesehatan mental dan pentingnya empati, Aku Sebelum Aku berhasil menjadi tontonan yang hangat sekaligus mengundang perenungan. Lebih dari itu, film ini terasa cocok untuk ditonton bersama keluarga atau menjadi bahan diskusi dengan orang-orang terdekat.Sumber : NetflixFilm Aku Sebelum Aku sudah dapat ditonton di situs resmi Netflix!

Rachmatya Shabrina Ramadhani 17 Jul 2026
VIDEO
Balas Dendam Brutal Alan Ritchson yang Bicara Lewat Aksi Di Film Motor City
MOVIE
3.5

Balas Dendam Brutal Alan Ritchson yang Bicara Lewat Aksi Di Film Motor City

Motor City bukan film aksi yang meminta penonton untuk duduk nyaman, mendengarkan dialog panjang, lalu menunggu karakter menjelaskan siapa dirinya dan apa yang sedang terjadi. Film garapan Potsy Ponciroli ini justru melakukan hal sebaliknya. Ia memaksa penonton membaca wajah, gerakan tubuh, suara mesin, dentuman musik, tatapan, darah, dan kekerasan sebagai bagian dari bahasa cerita.Berlatar Detroit tahun 1977, film ini mengikuti John Miller, seorang mantan narapidana dan veteran Vietnam yang berusaha memulai kembali kehidupannya setelah keluar dari penjara. Ia ingin hidup sederhana bersama Sophia, perempuan yang dicintainya. Namun harapan tersebut runtuh ketika John kembali berhadapan dengan dunia kriminal yang pernah menjebaknya.Dari titik itulah Motor City berubah menjadi perjalanan balas dendam yang sangat personal.Alan Ritchson menjadi pusat dari semuanya. Setelah dikenal luas sebagai sosok aksi lewat Reacher, Ritchson kembali memanfaatkan fisiknya yang besar, tetapi kali ini dengan pendekatan yang berbeda. John bukan karakter yang banyak bicara. Bahkan, salah satu eksperimen terbesar film ini adalah hampir menghilangkan dialog dari keseluruhan narasi. Beberapa sumber menyebut film ini hanya memiliki sedikit sekali percakapan verbal.Dan keputusan tersebut ternyata memiliki konsekuensi besar.John Miller: Pria yang Kehilangan Kesempatan untuk Menjadi Orang BiasaMenariknya, John sebenarnya bukan sekadar mesin pembunuh.Pada awal cerita, ia diperlihatkan sebagai seseorang yang ingin keluar dari kehidupan lamanya.Ia sudah menjalani hukuman. Ia mencoba kembali bekerja. Ia memiliki hubungan romantis. Bahkan ada gambaran bahwa John ingin membangun kehidupan normal bersama Sophia.Inilah bagian yang membuat karakter John menjadi lebih menarik dibanding sekadar tokoh protagonis dalam film balas dendam.John sebenarnya sudah memiliki kesempatan untuk menjadi orang biasa.Tetapi masa lalu tidak membiarkannya.Ketika kehidupan yang baru dibangun tersebut dihancurkan. Bukan Film Tanpa Suara, Melainkan Film yang Mengganti Dialog dengan Bahasa VisualKesalahan terbesar jika masuk ke Motor City dengan ekspektasi sebagai film bisu adalah menganggap film ini hanya menghilangkan dialog.Tidak.Film ini tetap sangat “berisik”.Suara pukulan, deru kendaraan, suara senjata, langkah kaki, napas karakter, suara kota dan terutama musik menjadi pengganti percakapan. Musik bahkan memiliki fungsi seperti narator yang tidak terlihat.Ini membuat Motor City terasa lebih dekat dengan sebuah pertunjukan audiovisual daripada film kriminal konvensional.Ben Foster dan Ancaman yang Tidak Selalu Membutuhkan Banyak PenjelasanBen Foster memainkan Reynolds, sosok kriminal yang menjadi pusat konflik John.Foster sebenarnya memiliki kualitas akting yang sangat cocok untuk karakter seperti ini: ekspresif, tidak stabil, dan mampu membuat karakter terasa berbahaya bahkan ketika tidak melakukan apa-apa.Namun film juga memperlihatkan salah satu masalah dari konsep minim dialog.Karakter antagonis membutuhkan ruang untuk menjelaskan motivasi, hubungan kekuasaan, dan psikologinya.Di Motor City, informasi tersebut sebagian besar harus disampaikan melalui tindakan.Hasilnya memang membuat film bergerak cepat, tetapi kedalaman karakter tertentu menjadi terbatas.Ini menjadi salah satu paradoks film: semakin sedikit karakter berbicara, semakin banyak penonton harus menafsirkan.Shailene Woodley dan Karakter SophiaSophia seharusnya menjadi salah satu elemen emosional terpenting dalam perjalanan John.Ia bukan sekadar pasangan protagonisIa adalah representasi dari kehidupan normal yang sebenarnya diinginkan John.Karena itu, hubungan John dan Sophia memiliki fungsi penting dalam struktur cerita: Sophia memperlihatkan bahwa John sebenarnya masih memiliki sisi manusia yang ingin diselamatkan. Namun karakter ini juga menjadi salah satu bagian yang terasa kurang berkembang.Minimnya dialog membuat hubungan mereka lebih banyak dibangun melalui visual daripada percakapan.Secara konsep memang menarik.Tetapi secara emosional, film terkadang membuat penonton harus menerima begitu saja bahwa hubungan mereka sangat dalam tanpa memberikan cukup ruang untuk benar-benar merasakan proses kedekatan tersebut.Detroit 1977 Bukan Sekadar LatarSalah satu kekuatan Motor City adalah bagaimana Detroit tahun 1977 digunakan sebagai atmosfer.Film tidak mencoba membuat Detroit hanya sebagai lokasi tempat karakter bergerak.Kota tersebut terasa seperti bagian dari identitas film.Lingkungan yang kasar, warna visual yang terasa kusam, kendaraan klasik, pakaian, interior, serta musik periode 1970-an menciptakan atmosfer retro yang kuat.Penonton harus “membaca” dunia yang ditampilkan.Detroit dalam film terasa seperti kota yang sedang mengalami luka, dan John seolah menjadi representasi dari luka tersebut.Itulah sebabnya judul Motor City terasa lebih tepat daripada sekadar nama lokasi.Motor, jalan raya, bengkel, mobil, dan kekerasan semuanya menjadi bagian dari identitas visual film.Kekerasan yang Tidak Sekadar Dipakai untuk GayaMotor City tidak malu memperlihatkan kekerasan ,Pukulan terasa berat, Benturan terasa menyakitkan, Darah bukan sekadar aksesoris.Beberapa adegan aksinya bahkan terasa seperti sengaja dirancang untuk membuat penonton meringis.Namun yang menarik adalah kekerasan tersebut sering kali digunakan sebagai bentuk komunikasi.Karena John tidak bisa mengatakan “aku marah”, film membuatnya memukul.Karena ia tidak bisa menjelaskan bahwa dirinya telah kehilangan kendali, tubuhnya menunjukkan hal tersebut, Karena ia tidak memiliki banyak ruang untuk bernegosiasi, konflik diselesaikan melalui fisik.Dengan demikian, aksi bukan hanya bagian hiburan. Aksi menjadi bahasa John.Kesimpulan Motor City (2026) menawarkan film aksi balas dendam dengan gaya yang berbeda, mengandalkan visual, musik, dan ekspresi karakter dibanding dialog. Meski ceritanya sederhana dan beberapa karakter kurang tergali, Alan Ritchson mampu membawa intensitas film dengan kuat. Bukan film yang sempurna, tetapi punya identitas dan atmosfer yang membuatnya tetap menarik untuk disaksikan.

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
VIDEO
Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal
MOVIE
4.5

Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal

Selama lebih dari empat dekade, waralaba Evil Dead selalu identik dengan Necronomicon, Deadites yang sadis, darah berlimpah, serta perpaduan horor dan gore yang tak kenal ampun. Namun melalui Evil Dead Burn (2026), sutradara Sébastien Vanicek bersama penulis Florent Bernard menghadirkan sesuatu yang terasa berbeda tanpa menghilangkan identitas utama franchise ini.Alih-alih sekadar menghadirkan pertarungan manusia melawan iblis, film ini justru menjadikan hubungan keluarga yang retak sebagai sumber teror utama. Hasilnya adalah sebuah film Evil Dead yang jauh lebih emosional, psikologis, sekaligus tetap mempertahankan kebrutalan yang menjadi ciri khas waralaba.Cerita yang Lebih Personal dan Penuh Luka LamaHal paling menonjol dari Evil Dead Burn adalah pendekatan ceritanya yang lebih intim. Film ini tidak hanya mengisahkan tentang teror iblis yang memburu korbannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana luka masa lalu, rasa bersalah, dendam, dan kebencian antar anggota keluarga menjadi “bahan bakar” bagi kekuatan jahat.Saat satu per satu karakter mulai dirasuki Deadites, ancaman yang muncul bukan hanya berupa kekerasan fisik. Iblis memanfaatkan rahasia tergelap setiap anggota keluarga sebagai senjata psikologis. Trauma masa kecil, konflik keluarga yang belum selesai, hingga isu sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga diungkap secara kejam untuk menghancurkan mental para korban sebelum menghancurkan tubuh mereka.Pendekatan ini membuat horor dalam film terasa jauh lebih mengganggu dibanding sekadar jumpscare atau adegan gore. Penonton dibuat ikut merasakan tekanan emosional yang dialami setiap karakter, sehingga setiap pertikaian memiliki bobot dramatis yang kuat.Senjata Kuno Melawan Ilmu HitamPerubahan menarik lainnya adalah bagaimana film ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada mitologi Necronomicon sebagai pusat konflik.Kali ini cerita berfokus pada penelitian sang kakek mengenai keberadaan Kandarian Dagger, sebuah belati kuno yang dipercaya mampu memusnahkan iblis untuk selamanya. Premis ini memberikan nuansa petualangan sekaligus misteri yang menyegarkan bagi franchise.Konsep pertarungan antara senjata kuno melawan ilmu hitam membuat konflik terasa lebih luas dan menghadirkan lapisan mitologi baru dalam semesta Evil Dead. Penonton tidak hanya disuguhi upaya bertahan hidup, tetapi juga pencarian artefak yang menjadi harapan terakhir untuk menghentikan teror Deadites.Perubahan arah cerita ini berhasil memperluas dunia Evil Dead tanpa menghilangkan akar horornya.Akting Totalitas dan Sangat Meyakinkan Dari Para PemainDeretan pemain tampil luar biasa dalam membangun intensitas cerita. Souheila Yacoub sebagai Alice menjadi pusat emosional film. Ia mampu menampilkan karakter yang rapuh namun perlahan berubah menjadi sosok yang berani menghadapi mimpi buruk keluarganya. Perjalanan emosinya terasa alami dan berhasil mengikat perhatian penonton sejak awal.Hunter Doohan sebagai Joseph, Luciane Buchanan sebagai Thya, Tandi Wright sebagai Susan, Erroll Shand sebagai Edgar, Maude Davey sebagai Polly, hingga George Pullar sebagai Will sama-sama memberikan penampilan yang sangat total. Ketika karakter mereka mulai dirasuki iblis, perubahan ekspresi, bahasa tubuh, hingga cara berbicara benar-benar terasa mengerikan tanpa kehilangan sisi manusia yang membuat konflik semakin menyakitkan.Interaksi antar pemain menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Karena fondasi hubungan keluarga dibangun dengan baik, setiap pengkhianatan, pertengkaran, hingga kematian memiliki dampak emosional yang jauh lebih besar dibanding film-film Evil Dead sebelumnya.Horor Psikologis Berpadu Gore Khas Evil DeadMeski membawa pendekatan yang lebih dramatis, Evil Dead Burn sama sekali tidak melupakan identitas franchiseAdegan gore tetap brutal, penuh darah, dan sangat kreatif. Namun kali ini kekerasan fisik dipadukan dengan penyiksaan psikologis yang membuat setiap adegan terasa lebih menyiksa untuk ditonton.Ketegangan dibangun perlahan melalui percakapan yang dipenuhi kecurigaan sebelum akhirnya meledak menjadi kekacauan berdarah yang sangat intens. Perpaduan horor psikologis dan gore ekstrem inilah yang membuat film terasa segar sekaligus tetap memuaskan bagi penggemar lama.Visual Kelam yang Sangat AtmosferikSébastien Vanicek menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun atmosfer lewat pendekatan visual yang suram.Dominasi warna abu-abu, hitam, dan rona kekuningan menciptakan kesan dunia yang perlahan membusuk. Hampir setiap lokasi terasa lembap, dingin, dan tidak memberikan rasa aman bagi para karakternya.Sinematografi dipenuhi framing sempit yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama para korban, sementara penggunaan bayangan dan pencahayaan redup membuat ancaman terasa selalu mengintai dari setiap sudut.Editing dengan teknik smash cut digunakan secara agresif namun efektif untuk mempertahankan ritme ketegangan. Transisi yang mendadak membuat penonton sulit merasa nyaman, sehingga rasa cemas terus terjaga bahkan sebelum adegan horor benar-benar dimulai.Seluruh elemen visual tersebut berpadu dengan desain suara yang menghantui, menghasilkan pengalaman menonton yang intens sejak menit pertama hingga penutup.Dua After-Credit yang Wajib DitungguSOBAT KTF jangan terburu-buru meninggalkan kursi setelah kredit utama mulai bergulir yaa, Evil Dead Burn menghadirkan dua adegan after-credit yang sama-sama layak ditunggu.Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead.KesimpulanEvil Dead Burn (2026) berhasil membuktikan bahwa sebuah waralaba Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead. legendaris masih bisa berevolusi tanpa kehilangan identitasnya.Dengan menjadikan trauma keluarga sebagai inti cerita, memperkenalkan mitologi baru melalui Kandarian Dagger, serta menghadirkan konflik yang lebih emosional dan psikologis, film ini terasa berbeda dari pendahulunya namun tetap mempertahankan ciri khas Evil Dead berupa gore brutal, Deadites yang mengerikan, dan teror tanpa ampun!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026
VIDEO
Siap Bongkar Dalang Teror Pembunuhan di Desa Korup, Film "Lobang Buaya" Rilis Trailer dan Poster Menuju Tayang 1 Oktober Mendatang!
NEWS

Siap Bongkar Dalang Teror Pembunuhan di Desa Korup, Film "Lobang Buaya" Rilis Trailer dan Poster Menuju Tayang 1 Oktober Mendatang!

Menjelang jadwal tayang serentak di bioskop pada 1 Oktober 2026, film horor terbaru karya sutradara Hanung Bramantyo, "Lobang Buaya", resmi merilis official trailer dan final poster.Diproduksi oleh Adhya Pictures dan Dapur Film, film ini mengangkat misteri pembunuhan berantai berlatar Indonesia tahun 1964. Karya ini menjadi wadah eksplorasi kreatif Hanung Bramantyo dalam menangkap perasaan “horror” kolektif yang kerap dirasakan masyarakat Indonesia setiap memasuki bulan September, serta kritik pedas untuk kondisi masyarakat yang relevan sampai saat ini.Visual pada final poster langsung menampilkan kengerian yang menjadi benang merah cerita : sebuah tangan misterius tampak menembus punggung berlubang seorang wanita. Poster penuh teka-teki ini merefleksikan teror sentral yang akan dihadapi para penonton di dalam film.Sementara itu, official trailer mengajak penonton mengikuti penyelidikan Letnan Soegeng, seorang anggota militer yang ditugaskan membongkar motif di balik pembunuhan berantai setiap tanggal 30 di Desa Lobang Buaya.Baskara Mahendra, pemeran karakter Soegeng, menuturkan bahwa penonton akan diajak menyusun potongan petunjuk bersama karakternya“Lewat film ini, kalian akan mengikuti setiap langkah Soegeng untuk ‘mencari dalang’ dibalik misteri pembunuhan berantai ini. Saya yakin dari setiap petunjuk yang ditemukan, setiap korban yang berjatuhan, penonton akan dibawa melalui perjalanan yang ga cuma menegangkan dan seru, tapi juga membuat kita bertanya, siapa yang berdosa dalam kisah ini?” tutur Baskara MahendraHanung Bramantyo menegaskan bahwa pendekatan horor dipilih secara sadar untuk membedah rasa takut yang dirasakan publik terhadap kondisi ketidakadilan yang terjadi pada masa tersebut, yang masih berlanjut sampai saat ini.“Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Saya berpikir kembali, perasaan apa yang kita rasakan ketika mendengar peristiwa ‘65? Jawabannya adalah horor. Saya memilih horor bukan hanya karena ingin membuat penonton merasakan ketakutan yang ada di dalam cerita, tetapi juga horor yang kita rasakan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan bagaimana manusia bisa saling menindas.” tutur Hanung.Film Ini Menceritakan :Setahun sebelum meletusnya peristiwa kelam 1965, Desa Lobang Buaya diguncang teror pembunuhan berantai terhadap para tokoh desa. Korban ditemukan tewas mengenaskan dengan punggung berlubang serta sayatan kata-kata sindiran di tubuh mereka, seperti Tamak, Lamis, dan Maruk.Saat rumor mengenai "Hantu Bolong" merebak dan tensi sosial kian memanas, Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) diutus mencari tahu dalang pembantaian tersebut.Namun, teror tidak berhenti di situ. Istri baru Soegeng, Arum Wangi (Carissa Perusset), mulai dihantui arwah perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan. Panggilan arwah yang menyebut Arum sebagai Ronggeng membuka tabir bahwa kekacauan di desa maupun di rumahnya bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari ritual gelap berbahaya yang sengaja dirancang untuk mengubah arah sejarah.Jadwal Tayang Film Lobang BuayaFilm "Lobang Buaya" dibintangi oleh Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, hingga aktor kawakan Mathias Muchus.Film "Lobang Buaya" dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Informasi terbaru mengenai penjualan tiket dan materi promosi dapat diakses via media sosial resmi @filmlobangbuaya, @adhyapictures, dan @dapurfilm.

Admin Kupas Tuntas Film 31 Aug 2026
Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini
NEWS

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic readingJakarta, 26 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. “Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru,” katanya.Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi “Perempuan dalam Karya Asrul Sani” membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, “Asrul Sani di Mata Generasi Muda” mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui “Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario”, yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi “Asrul Sani dan Inovasi Arsip” yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. “Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbuh Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonar (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.Seluruh rangkaian “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacounci

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal
NEWS

Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal

Film Aplikasi Iblis tayang mulai 15 Oktober 2026 di bioskopJakarta, 31 Agustus 2026 — Dimas Anggara menandai penyutradaraan debut horornya lewat film terbaru persembahan NIH Pictures berjudul Aplikasi Iblis. Film ini dibintangi oleh Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, serta penampilan spesial Della Dartyan.Film Aplikasi Iblis membawa genre urban supernatural horror yang akan mengisahkan tentang seorang pria yang mencoba kembali terhubung dengan kekasihnya yang telah meninggal melalui sebuah aplikasi misterius. Namun, justru membuka pintu bagi sesuatu yang ingin memanfaatkannya.Dalam teaser trailer yang dirilis, Arya (diperankan Junior Roberts) ingin melamar kekasihnya, Laras (Dosma Hazenbosch). Namun, keduanya justru harus terpisah dan berbeda dunia untuk selamanya. Arya masih ditemani arwah Laras, tapi, apakah itu benar-benar Laras?Sementara itu, di teaser poster yang dirilis juga secara jelas menampilkan sosok menyeramkan di layar ponsel. Menandakan sebuah teror yang akan datang, saat kita mencoba menggunakan aplikasi yang disebut bisa menghubungkan dengan arwah orang mati tersebut.“Film Aplikasi Iblis akan mengikuti kisah Arya. Dia baru saja kehilangan kekasihnya, dan masih sangat rindu dan percaya orang yang telah pergi bisa kembali. Di film ini, saya menggabungkan unsur drama romance tapi juga teror horor yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Ketika kita semua pakai sebuah aplikasi untuk bisa terkoneksi dengan orang yang kita sayangi, apapun jenis aplikasinya. Tapi bedanya, aplikasi di film ini bisa menghubungkan dengan arwah orang yang sudah meninggal,” ujar sutradara Dimas Anggara.“Buat aku cerita Arya dan Laras itu seperti sepasang kekasih yang sudah merencanakan sesuatu yang indah tapi malah berakhir menjadi tragedi,” ujar pemeran Arya, Junior Roberts. Sebelumnya, Dimas Anggara telah menyutradarai film #OOTD yang diproduksi oleh NIH Pictures. Kali ini, Dimas kembali mengeksplorasi gagasan kreatifnya sebagai sutradara horor lewat Aplikasi Iblis. Sebuah horor dengan cerita tentang teknologi, kehilangan, dan teror supernatural.Ikuti terus perkembangan film Aplikasi Iblis melalui media sosial Instagram @aplikasiiblisfilm dan @nihpictues. Film Aplikasi Iblis tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 31 Aug 2026